Cerita Tentang Porang

Kolom Lentera – Surabaya Post, Kamis (10/5/2012)

Ada satu tradisi dalam budaya keluarga petani di desa kami yang disebut porang. Ini adalah kisah tentang kaul pelayanan, kesetiaan pekerjaan, dan perjuangan profan dalam mencapai kesejahteraan.

Porang adalah sebutan bagi seseorang yang diangkat sebagai pembantu kepercayaan dalam sebuah keluarga petani berada atau Wak Kaji yang kaya – biasanya punya puluhan hektar sawah/tambak berserak. Porang sering berasal dari warga petani desa biasa atau duafa. Ia diandalkan keluarganya sebagai pencari rejeki.

Profesi ini bisa saja seorang wanita, pria, muda dan tua. Beberapa porang sudah mulai meniti karirnya sejak mereka remaja hingga akhir hidupnya. Tugas porang seperti pembantu umum yang ikut menangani (nyaris) semua pekerjaan tuannya.

Porang harus siap disuruh dan dipanggil kesana-kemari, mengurus gono-gini sampai tugas-tugas diluar keterampilan yang ia miliki. Boleh dibilang, setiap hari seorang porang kudu siaga, 24 jam bersiap menerima perintah juragannya. Nyaris semua energi, waktu dan konsentrasi hidupnya disiapkan untuk melayani tuan. There is no “me time”.

Sang Majikan yang baik, biasanya tahu kondisi itu. Maka sebagai kompensasinya, ia akan menjamin kebutuhan keluarga porang-nya. Termasuk bila ada keluarga yang sakit, majikan biasa menyumbang pembiayaan. Hubungan keluarga majikan dan keluarga porang bertradisi seperti “keluarga sendiri”, kekeluargaan yang tulus.

Upah yang didapat porang cukup memadai –dari ukuran keluarga porang. Biasanya seekor sapi, paruhan hasil garapan pertanian dengan sistem gaduh atau sesuai perjanjian. Jarang terjadi, porang protes atau gegeran dengan majikan.

Kepuasan nilai upah plus perlakuan majikan baik inilah yang membuat porang dikenal jujur dan loyal. Porang biasa lebih sering tidur di rumah majikan atau berhari-hari menunggu di gubuk salah satu sawah, tanpa pulang menemui keluarga di rumah.

Menyadari kondisi ini, keluarga porang pun rela ditinggal-tinggal dalam waktu lama karena mereka percaya upaya itu semua demi jaminan masa depan dan limpahan kesejahteraan harian yang mereka butuhkan.

Saya, Anda, kita semua memiliki cerita serupa berkait tujuan hidup kita di dunia. Allah SWT adalah tuan kita, juragan kita, majikan kita, Tuhan satu-satunya yang mesti kita sembah-sujudi dan layani. Karena kita adalah porang-NYA. Meminjam bahasa yang umum, kita ini hambaNYA, abdiNYA, buruhNYA.

Kapan kita setuju menyetujui kontrak dan memilih profesi porangNYA Allah ini? Ialah saat kita masih berada di alam arwah, saat diproses mulai dari sulbi, beberapa tahap sebelum berwujud fisik bayi. Dalam klausul kontrak itu, kita sudah mengiyakan kata, bahwa Allah SWT adalah “tuan tunggal” tempat kita mempersembahkan sikap loyal.

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (QS. Al-A’raf : 172)

Lantas upah apakah yang kita dapatkan dari Allah SWT sebagai kompensasi kaul pelayanan ini? Ada dua tahapan “gajian” yang berhak kita terima.

Pertama, di dunia, semua organ badan yang harganya milyaran, kesehatan, kesenangan, keberhasilan, dan kebaikan, diberikan cuma-cuma kepada kita. Lalu ada bonus fasilitas udara gratis, air hujan tanpa iuran, tanah subur pertanian, hasil lautan, panen buah-buahan, dan rekreasi pemandangan alam gratisan yang harganya tak tertebus. Itu semua upah kita di dunia, berlaku tanpa pandang SARA.

Upah kedua bisa kita terima lengkap semua beserta bonus plus tunjangannya nanti di akhirat, setelah kita wafat. Upah yang ini lebih besar, super extravaganza, lebih wah, lebih memuaskan rasa daripada upah pertama di dunia. Kita dijanjikan upah plus hadiah utama berupa ridho dan ampunanNYA. Upah yang ini baru boleh kita klaim jika catatan pekerjaan kita di dunia sebagai porangNYA, terbukti paling baik.

Sebagaimana cerita porang, maka sepatutnya kita dalam melayani perintah/larangan Allah SWT, harus siap sedia tanpa banyak bantahan kata. Itu sebanding bila mengingat jumlah upah dunia yang sudah kita nikmati sedemikian besarnya.

Coba saja nilai upah organ gratisan ini diuangkan, maka kita akan tahu, betapa sifat Allah sudah sangat sangat baik kepada kita. Ingat, jika hubungan porang dan tuan saling membutuhkan, maka sesungguhnya Allah sedikitpun tidak butuh kita. Kitalah yang butuh Allah. Jadi, kalau kita diangkat dan diterima sebagai porangNYA, itu karunia luar biasa.

Sama, kita semua ingin sejahtera di dunia akhiratnya. Maka saat kita ditetapkan memilih profesi sebagai porangNYA di dunia, kita berharap upah kesejahteraan di akhirat bisa kita nikmati bersama keluarga semua. Sebagai kompensasinya, totalitas pelayanan dan kesetiaan pekerjaan sebagai porang hingga akhir kematian, haruslah kita perjuangkan.

Apa saja tugas “porang” yang harus kita emban? ialah menciptakan kerukunan, bekerja hasilnya untuk kebersamaan, menyiapkan perbekalan akhirat, mengingat Allah dimanapun-sedang apapun-kapanpun berada, meladeni-melayani seluruh perintah Allah, mengajak manusia kepada jalan keselamatan, mencegah kemungkaran, berjamaah sholat fardlu, menyantuni fakir miskin, membebaskan budak belian, melestarikan alam lingkungan, dst.

Pertanyaannya, sudahkah pelayanan kita kepadaNYA setotal dan seloyal pelayanan porang kepada tuannya? Beranikan kita sekeluarga melaksanakan kaul pelayanan dengan fokus tenaga, waktu, pikiran dan harta untuk kita serahkan pada perjuangan agamaNya? ataukah kita justru banyak meladeni kepentingan pribadi dan keluarga sendiri? Sementara Allah SWT kita sapa sesempatnya saja —alih-alih kita menjadi pelayan sekaligus tuan bagi diri sendiri??

Tidak mudah memang, terutama buat keluarga kita dalam mencoba menjadi porangNYA secara total dan loyal. Disinilah proses tarbiyah, madrasah rumah, media pembelajaran ilahiah, dan ikhtiar doa tirakat kudu bersemangat setiap saat.

Bersama Anda semua, saya pun terus berdoa, belajar, dan bekerja, berusaha menjadi hambaNYA yang baik. Harapan kita semua adalah bisa menuntaskan kaul pelayanan dan klausul kontrak pekerjaan secara sempurna, tanpa banyak protes kata.

Seperti porang, saya dan Anda menjalani abdi Ilahi ini pun, harus berusaha korban tenaga, harta, pikiran dan jiwa, agar diberikan kesabaran, totalitas, kekuatan, ketabahan perjuangan dan rasa loyal hingga tembus ajal.

Karena saya percaya, tidak ada pilihan lain bagi pengiman haqqul yaqin. Karena itu saya ikhlas sukarela dipilih sebagai porangNYA sejak saya ditiupkan dari sulbi Abi dan Ummi.

Karena saya sekeluarga berprinisip: hidup hanya mengabdi dan berharap semata upah ridlo dan ampunanNYA. Inna sholaatii wa nusukiii wa mahyayaa wa mamaatii lillaahi robbil ‘aalaamiin. Tawaaffanaa musliman wa alhiqnaa bis-shoolihiin.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s