Emak & Bapak, Madrasah Diniyah

Kolom Lentera – Surabaya Post, Kamis (4/5/2012)

“Sesungguhnya pendidikan anak telah mulai berproses pada saat calon Ibu dan Bapak sedang bersenang-senang. Jika pada saat memadu cinta itu, konsentrasi ingatan mereka tetap merasa digenangi keagungan-kesucian-kebesaran dzat Allah, maka kelak bibit bayi yang menghuni rahim akan dibarengi rahmah ilahiah. Sebaliknya jika saat bermesraan itu hanya terlena pada syahwat pasangannya, hingga lupa keberadaan Allah, maka ruh jabang bayi akan disertai anasir setan.”
(Bapak Guru MA. Muchtar)

Hari pendidikan yang Selasa kemarin kita peringati, ternyata masih menyisakan banyak keprihatinan. Diantaranya kontroversi penyelenggaraan UN, liberalisasi bisnis pendidikan, mutu keluaran anak sekolahan, persoalan kesejahteraan pengajar, keterbatasan akses pengajaran di pedalaman, dan seterusnya.

Bagi orang tua para sarjana, keluhannya masih sama seperti dulu: mahal modal plus ongkos sosial dari proses pembelajaran yang mereka percayakan.

Contohnya, institusi pendidikan formal yang bersertifikat ijazah belum mampu menjamin kecukupan maisyah atau bahkan kesejahteraan di masa depan. Selama pembelajaran, biaya telah banyak dikeluarkan. Namun begitu sampai wisuda sarjana, pekerjaan tak gampang didapatkan, sumber rejeki belum ketemu diikhtiari.

Di tingkat pendidikan dasar dan menengah, para orang tua tak kalah galaunya. Mereka miris dengan perangai remaja dan pelajar yang kian ke sini kian mengkhawatirkan.

Ada ketakutan terhadap dampak serbuan fenomena seks bebas ala hewan, tren tawuran, ajaran sesat pacaran, pergaulan tanpa batasan, budaya pop narkoba, gathering mabuk bersama, juga balapan liar ala geng motor. Remaja, di tepi medan psikologi pencarian jati diri, memang relatif mudah dipengaruhi dan rawan disesatkan.

Kekhawatiran orang tua itu cukup beralasan mengingat fakta-fakta yang kini sering tersaji. Menghadapi carut marut kondisi ini, biasanya, kekesalan para orang tua akan ditumpahkan pada institusi yang telah mereka amanahi dan ongkosi.

Sudah bayar mahal tapi akhirnya tak bisa memenuhi harapan yang mereka idealkan. Kesejahteraan di masa depan belum ada jaminan, perilaku di rumah dan moral sosial anak menjauh dari nilai ketuhanan.

Saya sangat bersyukur telah memperoleh pembelajaran yang bermanfaat saat menjadi anak dan kini menjadi seorang bapak. Masa kecil saya hingga sekarang berputera, Ibu, Ummi dan Abi-lah yang menjadi guru madrasah di rumah.

Meski saya pernah mengecap pendidikan formal hingga sarjana, pembelajaran yang harus saya akui sukses membentuk kepribadian adalah pembelajaran di rumah, dan itu berlangsung hingga sekarang.

Bagi saya sekeluarga, sekolah berijazah itu komplementer, sementara pembelajaran di rumah adalah primer, jika mengingat tupoksinya bagi keberlangsungan kehidupan.

Berkaca dari pengalaman saya, maka saat sering dikeluhi orang tua yang menyedihkan perilaku anaknya, saya cenderung menyalahkan kekurangan mereka. Salah? Iya. Perilaku keliru anak adalah buah dari tanaman emak dan bapak. Lalu apa saja kekurangan para orang tua?

Pertama, kurang mempersiapkan amalan dan pengetahuan agamanya. Dimulai dari proses nikah yang melanggar syariat, seperti pacaran misalnya atau prosesi walimah yang bercampur adat syirkiyah, itu akan membentuk akhlak anak nantinya.

Kemudian saat bermesraan di peraduan, sebagaimana kutipan dawuh Bapak Guru tadi, calon orang tua sering terlena syahwat libidonya saja. Mereka lupa keberadaan dzat Allah yang senantiasa menggenangi hingga akhirnya lupa konsentrasi berdoa. Ruh bayi pun rentan dicampuri setan dan kelak sang anak akan bermoral rusak. Na’udzubillaah.

Dari proses pembibitan kemanusiaan saja sudah diikhtiari dengan cara salah dan menjauhi sunnah, maka jangan salahkan si anak jika di kemudian hari mereka tak terkendali. Pada kasus begini, proses pendidikan orang tua kepada anak telah gagal sejak awal.

Kedua, terlalu menggampangkan dan mempercayakan anak pada lembaga pendidikan umum yang berijazah. Dipikirnya, pendidikan hanya berlangsung di madrasah dan sekolah. Kewajiban pembelajaran yang orang tua lakukan seolah tunai hanya dengan membayar iuran bulanan kepada ma’had, guru privat, ustadz, dan atau sekolah bersertifikat.

Orang tua merasa tanggungjawabnya selesai ketika membelikan pulsa+ponsel anak remajanya, mengkreditkan sepeda motor, dan membiayai pergaulan anaknya tanpa bisa mengontrol apakah itu sekadar keinginan ataukah prioritas kebutuhan?

Banyak orang tua lupa, bahwa keluarga dan rumah adalah sejatinya madrasah, di mana mereka adalah penanggungjawab kurikulum materinya sekaligus mentor utama. Dalam hal ini, Rasulullah sudah mewanti-wanti, “al mar’atu ustadzul walad”, “minal mahdi ilal-lahdi”, dan itu prosesnya ada di madrasah rumah.

Jadi, jika terjadi kenakalan remaja atau pelajar saat ini, jangan suka menuding sekolah sebagai pihak yang salah. Tuding juga tanggungjawab kita sebagai orang tua yang hanya sibuk mengejar maisyah dunia sampai lupa tugas mengajar keluarga.

Ketiga, mengenai harapan pekerjaan. Banyak orang tua keliru memaksakan anaknya dalam meniti profesi yang itu berakibat pada proses pendidikan si anak. Nyaris semua orang tua bermimpi anaknya jadi pegawai kantoran dengan tampilan bersepatu, bersafari, berdasi, dan bermobil pulang pergi.

Harapannya, status sosial dan gengsi akan terdongkrak di mata masyarakat bila sang anak jadi birokrat atau pejabat. Lalu bisa kita lihat sekarang, sumber pusaran korupsi ada di mana? Kebobrokan negeri ini akibat ulah siapa? Sedikit banyak, ini akibat orang tua yang dulu ngebet anaknya jadi orang berdasi dan bersafari !

Jarang orang tua mengharap anaknya jadi petani atau penggembala. Padahal kebutuhan negara ini jelas faktanya, sampai hari ini masih impor daging dan beras, yang mestinya bisa dicukupi oleh petani/peternak lokal.

Mestinya orang tua tak perlu malu jika anaknya jadi penggembala yang jujur, berkarir jadi pedagang yang bersih moralnya, meniti profesi petani yang sederhana hidupnya, tukang kayu atau kuli batu yang bebas riba, atau pekerjaan serabutan asal halal dan tidak ilegal. Ingat, agama kita tidak mewajibkan pekerjaan pada pegawai kantoran saja.

Saya ajak pembacara dan para orang tua, berkait pendidikan mari kita belajar pada Ibu Masyitah beserta keluarga, Ibu Mariyam beserta Rasulullah Isa, Ibu Khadijah beserta Fathimah, Luqman beserta anaknya, Rasulullah Ibrahim, dan Rasulullah Muhammad. Bagaimana beliau mengelola pendidikan bagi semua keluarga dan anak-anaknya.

Pendidikan yang beliau ajarkan adalah mengenalkan ketuhanan, menanamkan nilai ketauhidan, menguatkan amalan keagamaan, dan menyambung persaudaraan sosial kemanusiaan.

Berprofesi sebagai penggembala dari keluarga sederhana, beliau-beliau dikenal unggul sebagai manusia teladan dalam perkara kebenaran dan kebaikan. Tanpa ijazah formal atau gelar-gelar berstandar internasional, beliau-beliau sukses mengelola madrasah di rumah, terkenal sedunia, dan di akhirat berderajat mulia di sisi TuhanNYA.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s