Bila Bel Bersuara

Kolom Lentera – Surabaya Post, Kamis (26/4/2012)

Ujian nasional sudah dimulai. Jauh hari sebelumnya semua siswa telah bersiap dengan syarat keikutsertaan yang lengkap. Teknis pembelajaran rutin dites di rumah-rumah les, melalui bimbingan guru bantu, dan ikhtiar swadaya lainnya.

Supaya hasilnya kian ces pleng, beberapa siswa mencoba laku tirakat. Ada yang tiba-tiba rajin sholat, mau berpuasa, istighosah, dan aksi prihatin yang lain. Beberapa diantara siswa “berijtihad” mendatangi makam keramat. Di benak mereka hanya ada satu harapan, nasib baik akan menghadirkan kelulusan di saat pengumuman.

Saat bel waktu ujian dibunyikan, ketegangan merayapi ruangan. Hanya tersedia 90-120 menit untuk menyelesaikan 40-50 soal ujian. Gagal atau sukses selama tiga tahun mengikuti proses pembelajaran akan ditentukan hanya dalam dua jam saja. Kecemasan peserta ujian beriring doa keluarga dan para guru almamaternya.

Mata sang pengawas mengitari waspada gerak tubuh siswa. Jam berdetak teramat cepat, waktu terus berlalu. Hingga akhirnya, bel kembali bersuara. Pertanda pengerjaan soal-soal ujian harus dihentikan. Senyap berganti desah riuh dan usapan peluh mengantarkan siswa pulang ke rumahnya.

Mereka adalah anak-anak dan atau kerabat dekat kita yang saat ini mengikuti ujian kelulusan sekolah. Suara bel tanda masuk ruangan, bel tanda mulai mengerjakan, bel tanda harus menyerahkan lembar jawaban, akan terus terngiang di telinga mereka. Bunyi dentang bel yang harus disikapi cepat, tepat, dan cermat.

Jika kurang cepat, lembar jawaban akan banyak kosongnya. Jika tidak tepat, alamat ujian bakal gagal. Jika kurang cermat, jawaban bisa banyak kelirunya. Bel penanda ujian itu seolah ditunggu bagi peserta yang mampu, namun begitu ditakuti bagi siswa yang merasa kurang persiapannya.

Pengalaman bel ujian siswa sejatinya serupa dengan praktik tahapan “ujian kehidupan” yang saat ini kita ikuti. Bel pertama kali berbunyi saat ruh kita ditiupkanNYA dalam rahim ibunda. Tanda kita ditetapkan sebagai peserta ujian.

Persis ujian siswa sekolahan, kita pun mendapatkan registrasi berupa penetapan nama-nama dan nomor angka tanggal lahirnya. Kapan masuk ruangan, kapan mulai mengerjakan, apakah syarat lengkap atau kurang, boleh mengikuti ujian atau tidak, kapan harus berakhir ujiannya, semua nyaris sama dengan mekanisme kodratNYA.

Bel berbunyi lagi saat kita lahir ke bumi. Itulah saatnya kita memasuki “ruangan ujian” dan harus mulai mengerjakan soal-soal yang diberikan Tuhan. Materi ujian adalah semua perihal hidup dan mati. Termasuk di dalamnya adalah aturan “lakukan & jangan” berupa ribuan ayat Al Quran, juga hadist RasulNYA.

Jawaban kita adalah tata cara hidup beragama, bersosial, beritual, berbangsa, berlingkungan dan bernegara sebagaimana sudah diajarkan sang guru privat: Rasulullah Muhammad.

Selama ujian berlangsung, pengawas malaikat Roqib dan Atid senantiasa ada di kedua pundak kita. Keduanya mencatat setiap detil pikiran, ucapan, dan tindakan kita selama ujian berlangsung. Merekalah yang akan melaporkan tata tertib perilaku kita kepada Allah SWT, sang penentu kelulusan ujian dunia.

Pada saatnya nanti bel akan kembali berbunyi dan kita harus berhenti menuliskan jawaban hidup. Ruangan ujian harus kita ditinggalkan. Roqib dan Atid akan mengumpulkan lembar jawaban. Sang Izrail akan mengakhiri kehidupan dunia ini. Kita diharuskan pulang ke kediaman, kembali ke rumah “kuburan” tanah.

Di sanalah, kita akan menanti pengumuman kelulusan ujian kehidupan. Jika lulus, “ijazah” ampunan dan ridhoNYA kita dapatkan sebagai pahala. Bila gagal, alamat celaka akan jadi cerita ketidaklulusan kita. Na’udzubillaah.

Jika bel penanda selesainya ujian sekolahan bisa ditentukan dan diketahui sebelumnya, maka bel pengakhir ujian kehidupan dunia tidak ada yang tahu selain Allah SWT. Inilah yang mesti kita prihatini.

Bel penanda kematian selamanya akan menjadi misteri ilahi. Pembelajaran yang diberikan Rasulullah hanya menganjurkan kita mengingatnya, mempersiapkannya, mendoakan selamat dan mudah saat kita melewati prosesnya (sakaratul maut).

Betapa genting dan penting proses bel ini berbunyi, hingga Bapak Guru kami senantiasa mewanti-wanti, “mengingat mati adalah ciri cerdas diri”.

Bila di ujian negara, bel mulai dan bel akhir dapat diketahui sebelumnya sehingga siswa bisa mengira-ngira prosentasi jumlah soal yang bisa dijawab, lengkap beserta pilihan ngawur lotrenya.

Nah, di ujian kehidupan, kita tidak pernah tahu kapan bel penanda mati itu. Jadinya, kita pun jarang memikirkan berapa prosentase jawaban yang sekiranya bisa kita berikan, apalagi menyelesaikan ujian dengan segera dan selengkap-selengkapnya.

Celakanya, jika gagal di ujian dunia ini, tidak ada lagi kesempatan ujian susulan atau penebusan dengan sogokan. Sekali gagal, ya gagal.

Sepekan ini, di desa saya, bel penanda akhir ujian keduniawian berbunyi tiga kali. Ahad sore hari, Selasa pagi, dan subuh Kamis pagi ini. Mereka tetangga saya yang telah mendengarkan bel kematian dan diharuskan meninggalkan “ruangan ujian” kehidupan.

Dua bulan sebelumnya, secara beruntun warga asrama pesantren kami juga meninggal dunia, dua santri remaja dan satu santri lanjut usia. Kejut suara bel yang disuarakan Izrail telah mengakhiri ujian dunia mereka.

Bagi kita yang masih tersisa sebagai peserta ujian di “ruangan dunia” ini, sepatutnya prihatin sebagaimana anak-anak kita yang sekarang tegang menjawab soal-soalnya.

Sebagaimana mereka yang kuat tirakat, berijtihad, dan ikhtiar sukses ujian, afdolnya kita pun menempuh cara serupa. Menghadapi ujian dunia yang jauh lebih rumit dan sulit, tangis doa kita hanya bertumpu pada pertolonganNYA. Selain bergantung jawaban perilaku hidup kita, tentu saja.

Pertanyaannya, sudahkah kita berperilaku hati-hati di hadapan pengawas Roqib dan Atid, agar kita tidak dicoret sebagai peserta ujian yang gagal? Berapa ujian yang sudah kita selesaikan diantara ribuan persoalan yang kita terima? Apa saja ikhtiar dan laku tirakat yang kita persiapkan menyambut ujian dunia ini?

Sudah betulkah jawaban yang kita berikan atau kita mbonek ngawur saja menuliskannya? Sudah siapkah bila bel Izrail berbunyi beberapa saat lagi, hari ini, besok pagi atau lusa nanti? yang itu berarti kita harus berhenti menjawab materi uji dan kita segera beranjak mati?

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s