Bagaimana Bila Bumi Bosan?

Kolom Lentera – Surabaya Post, Kamis (19/4/2012)

Ahad lusa, jika Allah SWT memberikan ijinNYA, masyarakat pegiat lingkungan seluruh dunia akan memperingati Hari Bumi. Event tahunan ini dimeriahkan setiap tanggal 22 April untuk menumbuhkan kesadaran dan kepedulian manusia terhadap keberlanjutan nasib planet huniannya.

Beragam acara biasanya akan digelar, termasuk juga di Indonesia, misalnya lomba-lomba, pembacaan puisi, seminar, sepeda gembira, teatrikal jalan raya dan kegiatan advokasi lainnya.

Saya teringat cerita Bapak Guru yang dalam sebuah pengembaraan spiritualnya pernah disuarai protes bumi. Beliau mendengar bumi bicara, “Wahai manusia. Kalian dan saya adalah sama-sama makhluk serta hambaNYA. Kalian jangan berlaku sombong jika berjalan di atasku. Ingat, kalau kalian sombong. ketika kalian mati dan kembali ke perutku nanti, akan saya cepit kalian sampai hari pembalasan.

Atas peristiwa supranatural itu, Bapak Guru saking prihatinnya, sampai tidak berani memakai sandal/sepatu (nyeker) bila kemana-mana. Aksi keprihatinan wirai ini berlangsung dalam kurun beberapa tahun.

Kisah Bapak Guru itu mengilhami peringatan Hari Bumi yang jadi topik tulisan saya pada edisi ini. Patut kita renungi bersama, bahwasanya sebagai makhluk ciptaanNYA, bumi pun memiliki hak suara dan olah rasa yang sama seperti kita. Ia yang selama ini kita anggap “mati”, ternyata “hidup” dan “bernyawa”.

Bumi bisa bicara dan protes jika kita yang nempong gratis di atasnya bertingkah banyak salah. Bahkan atas ijinNYA, bumi memiliki kuasa untuk menjadi perantara eksekutor siksa bagi kita manusia ketika dipanggil kembali (mati), yakni saat memasuki alam kubur nanti.

Setelah berjuta-juta (atau bermilyar) tahun lamanya sejak bumi diciptakan, ia senantiasa patuh kepada TuhanNYA. Ia selalu sujud sholat menempati sumbu porosnya, bergerak mengitari matahari dan bertasbih dalam wirid rotasi hingga hari ini.

Ia ikhlas menjalani peran sebagai “hamba” yang harus dijaga oleh manusia dengan sifat loba dan sisi gelap kebinatangannya. Padahal jika mau menuruti ego kebesarannya, bumi bisa saja melumat manusia dalam sekelumit menit.

Sekarang mari sedikit berimajinasi, kita asumsikan bumi seperti manusia yang punya rasa. Bayangkan tiba-tiba saja ia terserang lelah luar biasa setelah ribuan tahun tubuhnya kita perkosa tanpa jeda. Bagaimana jika ia minta waktu istirahat beberapa saat?

Bayangkan mendadak bumi jadi bosan karena melihat polah kita yang banyak bedigasan, ugal-ugalan, adigang-adigung-adiguna di atas punggungnya. Ia marah dan protes kepada kita lalu minta ijin kepadaNYA untuk mogok berhenti berotasi. Kira-kira apa yang akan terjadi?

Imajinasi pertanyaan di atas bukan anjuran bermimpi di siang hari atau hal nganehi, tetapi sebuah ikhtiar belajar buat kita semuanya agar sedikit memberi apresiasi atas jasa-jasa bumi yang kita tempati sekarang ini. Jika sudah berhasil menjadikan pertanyaan itu sebagai renungan harian, maka idealnya akan muncul perilaku manusiawi dan ramah bumi dalam diri kita sekeluarga.

Logikanya setiap sikap, ucapan dan pikiran akan selalu menimbang lebih dulu, apakah bumi sudah memberi restu? Karena kita sedang hidup dan berada di atas tubuhnya, sehingga afdol bila sebelum melakukan apa-apa, kita selalu berkonsultansi kepadanya.

Sekadar contoh kecil, saat kita meludah atau membuang sampah, alangkah baiknya jika kita dengan sopan minta permisi kepada bumi.

Atau saat ada niat taubat, seapesnya ketika hari Idul Fitri, betapa kerennya bila kita juga membungkuk dan bersalaman sambil menyelipkan sekalimat permaafan kepada bumi ini. Karena harus jujur kita akui, saat sedang berdosa dan melakukan kezaliman, kita sedang nangkring di atasnya.

Jika kita asumsikan bumi itu hidup dan bernyawa, rasanya ia pun akan sangat terganggu saat melihat kita melakukan dosa dengan bebasnya.

Pada tataran ideal kaum beriman, aksi keprihatinan “permisi bumi” ini akan melahirkan sifat hawnan wa khoufan. Paduan perilaku kerendahatian dan ketawadlu’an seorang hamba saat merasa selalu berada di hadapan Allah SWT. Dampak positifnya, hubungan bumi dan manusia akan kembali mutual mesra sebagaimana rumusan sunnah kauniyahNYA.

Sebaliknya, fenomena bumi yang kian hari kian tidak nyaman dan tidak aman ditempati ini, adalah buah dari ketidakharmonisan hubungan kita dengannya. Bermula dari kelalaian kita bersikap sombong di atas bumi dan gemar melakukan dosa di hadapan Allah SWT. Maka bumi pun buka suara, protes dan mengeluarkan unjuk rasa di hadapan kita.

Bumi mungkin merasa bosan karena sudah sangat lama bersabar dikencingi oleh kita semua, diinjak-injak kaki kotor kita, diludahi setiap hari tanpa permisi, dijadikan panggung kerakusan dan pementasan kesombongan.

Akhirnya ia pun minta ijin kepada Tuhan untuk menggeliat beberapa saat. Ia merasa perlu meregangkan otot setelah bermilyar-milyar tahun tertidur di bawah timbunan sampah kelakuan kita semua.

Geliat peregangan otot bumi yang sebentar itu mampu membawa gempa, merekah tanah, meletuskan gunung, mengirimkan banjir, menggagalkan panen, dan rupa-rupa bencana lainnya. Bumi seperti tidak mau lagi kita tempati dan ingin segera mengusir kita dari atas punggungnya.

Kerusakan di darat, laut, dan udara akibat rakusnya budaya konsumtif, hedonis dan instan kita telah nyata-nyata menyakitinya. Maka sudah selayaknya bumi bicara melalui peringatan bencana alamNYA dan kita patut menerimanya dengan sukarela.

Ajakan saya kepada pembaca, mari memaknai hari ini, esok pagi, lusa nanti dan seterusnya setiap hari adalah Hari Bumi. Sikapi bumi ini sebagai hamba ciptaanNYA yang bernyawa dan berhak didengar suaranya. Jadikan bumi sebagai kawan seiman dalam upaya kita melayaniNYA.

Janganlah bumi kita anggap benda mati yang bisa kita injak-injak selamanya. Janganlah kita eksploitasi bumi berdasarkan nafsu duniawi seperti penjajah memperlakukan budak rodi.

Melalui renungan suci dan aksi keprihatinan Hari Bumi ini, semoga bumi tetap kerasan kita tempati. Mudah-mudahan atas sikap sopan santun kita kepadanya, ia tidak bosan melihat kodrat apes kita yang banyak dan sering melakukan perbuatan dosa.

Tentu kita tidak berharap protes ancaman bumi kepada manusia yang disuarakan melalui Bapak Guru itu akan dilaksanakan betulan. Betapa celaka bila di dunia ini sudah tertimpa bencana akibat laku kesombongan kita, kemudian di alam kubur nanti, bumi sudah siap mencepit tubuh lunak kita hingga kiamat tiba.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s