7 Pembeda Manusia Mulia

Kolom Lentera – Surabaya Post, Kamis (12/4/2012)

Pertama, manusia mempunyai beraneka macam bahasa dengan ragam penggunaan yang berbeda dalam setiap peruntukannya. Misalnya bahasa untuk memanggil anak/isterinya, saat minta makan, atau ketika mengatakan ingin minum, berbeda-beda bunyi dan kalimatnya.

Kemulyaan itu juga tercermin dari betapa banyaknya ragam bahasa yang digunakan suku/kelompok manusia di dunia. Kajian etnologi mencatat, di Indonesia saja terdapat 700-an bahasa daerah yang masih dipakai aktif sampai sekarang.

Kelebihan bahasa manusia itu akan terlihat unggul njomplang bila dibandingkan dengan bahasa binatang. Misalnya “bahasa” hewan ternak seperti sapi yang hanya bisa bersuara “hmmaaa” atau kambing yang “mbeekk” dalam setiap pengutaraan komunikasi mereka.

Nyaris tanpa beda, komunikasi antar kambing dan sapi Indonesia maupun dari manca negara, suara “bahasanya” terdergar persis sama: “Mbeekk” dan “Hmmaaa”.

Kedua, manusia diistimewakan Allah dengan menyediakan semua peruntukan sumber daya dunia untuk kebutuhan survival dan kepentingan sosialnya. Utamanya untuk kebutuhan sandang, papan, dan pangan, semua potensi rejeki halaalan thayyiban yang ada di langit dan bumi bisa dimanfaatkan manusia.

Sumber pangan dari unsur laut, darat dan udara, semua ada. Untuk kebutuhan sandang dan papan, manusia mendapatkan keistimewaan eksplorasi hingga jerohan perut bumi.

Privilege itu sangat bertolak beda dengan penyediaan sumber pangan untuk kawanan hewan. Misalnya untuk spesies nyamuk, kutu rambut dan kutu busuk, Allah hanya menyediakan darah sebagai satu-satunya sumber makanan utama mereka. Begitupun masih harus menghadapi resiko dibasmi manusia, karena dianggap binatang pengganggu istirahatnya.

Manusia makan menggunakan tangan dan peralatan tambahan seperti seperti piring, gelas, sendok, dst. Sementara hewan kebanyakan langsung nyosor dengan mulutnya. Kalaupun pakai tangan seperti primata kera dan sejenisnya, tidak ada perabot yang sengaja dibuat “mulya” untuk mewadahi manakan/minuman mereka.

Ketiga, selayaknya makhluk berakal dan berbudi tinggi, manusia akan mampu menerima peringatan dengan bahasa lisan. Cukup dengan nasehat penuturan dari orang tua, agama, bangsa dan negara, perilaku kehidupan mereka mestinya bisa tertib tertata.

Bandingkan dengan beberapa hewan yang harus diikat, dicambuk, dan ditali kekang untuk menjaga ketertiban perangainya. Bahkan untuk alasan pengendalian, bangsa nyamuk, tikus dan kutu busuk harus dibunuh.

Keempat, mestinya manusia di mana berada, kapan saja, sedang sibuk beraktifitas apa saja, dapat mengingat dan mencintai Allah sebagai Tuhan yang telah menciptakannya, juga mengingat akhirat sebagai tanggungjawab kehidupannya. Sebagai makhluk sosial, sudah niscaya manusia harus bisa hidup rukun dan bersifat kasih sayang sesama bangsanya.

Beda dengan jenis kereco, keong, lebah, kerang, yang tidak ada tuntutan kewajiban mencintai Allah dan mengingat kehidupan akhirat bagi mereka. Kepada mereka juga tidak disyaratkan untuk bersifat kasih sayang sesamanya.

Hal itu merupakan kewajaran karena akal budi mereka yang tidak sempurna. Juga, amanah khalifah penjaga bumi dunia tidaklah dipercayakan kepada mereka. Sehingga bila sampai terjadi hidup mereka tidak teratur, tidak ingat akhirat, tidak mencintai Allah, masih terhitung wajar.

Kelima, fitrah dasar insania sebagai makhluk sosial ketika memperoleh hasil usaha kerja, dimanfaatkan untuk kebersamaan, tidak hanya diperuntukkan bagi kepentingan pribadi atau keluarganya saja.

Bandingkan dengan kebiasaan hewan, kucing di rumah kita misalnya. Saat mereka mendapatkan hasil buruan seekor tikus, semuanya dihabiskan untuk anaknya sendiri. Keluarga kucing lain tidak akan pernah dihibahi atau sekadar ditawari.

Keenam, insania mempunyai proses hidup berlanjut sampai hari kelak (akhirat). Maka sudah sepatutnya masa dunia ini wajib persiapan bekal kehidupan di akhirat yang baka selamanya. Kebutuhan hidup sehari-hari di dunia yang sementara ini begitu serius dipikirkan, mestinya kehidupan akhirat yang lebih lama harus lebih diprioritaskan.

Berbeda dengan sejarah hewan yang hidupnya berhenti di dunia ini saja. Sehingga wajar bila mereka tidak berfikir persiapan bekal untuk masa hidup di akhirat.

Ketujuh, sesungguhnya pada fitrah manusia ada bibit baik yang bersifat gaib. Sehingga pada umumnya secara tidak langsung –tanpa panduan agama– mengerti perkara baik dan buruk.

Buktinya, sebagian manusia bisa bersifat ramah, tidak bangga diri, tidak merugikan hak orang lain, walau secara intelektual mereka lemah dan terpandang bodoh. Tapi karena tipu daya setan, terpaksa kebanyakan manusia tidak mutlak berbuat baik, kecuali orang-orang tertentu yaitu hamba Allah yang dikehendakiNYA.

Pelajaran 7 kemuliaan insan yang disarikan dari pengajian Bapak Guru ini, menggugah kesadaran kita semua agar bisa berperilaku pantas sebagaimana kodrat ciptaan terbaikNYA (ahsani taqwiim).

Perangai kita dalam wujud pikiran, ucapan, dan tindakan, akan terlihat mulia jika kita bisa menjaganya. Sebaliknya derajat kita akan merosot rendah ke kelas hewan bila kita ngawur bertindak dalam kehidupan.

Contohnya, silakan saja mencoba makan dengan cara nyosor saat perjamuan prasmanan, maka harkat diri Anda akan jatuh nilainya. Setidaknya Anda akan dianggap gila.

Pada kasus residivis yang karena kesadisannya sehingga harus dirantai kakinya, ditembak, dan dibunuh, adalah contoh manusia yang tidak bisa menempati derajat kemuliaannya.

Cara paksa itu adalah solusi terakhir yang mesti diambil agar manusia “pekat” itu tertib perangainya. Mereka kudu dihewankan seperti sapi yang ditali, ditembak seperti babi, dan dibunuh seperti nyamuk. Na’udzubillaahi min dzaalik.

Ketujuh ciri ideal manusia mulia menurut Bapak Guru itu tidak bisa datang sekonyong-konyong. Ideal itu harus dicapai dengan latihan terus-menerus dengan bimbingan dari Allah dan petugasNYA. Paling utama diantara ketujuh ciri mulia itu adalah keberlanjutan sejarah hidup manusia sampai akhirat.

Derajat kemuliaan manusia yang patut kita raih di akhirat antara lain, hidup tanpa mati (kekal), tanpa mengalami sakit jasmani dan ruhani, tanpa keluh kesah, dan serba berkeadaan bebas puas.

Jika tidak diukur dengan keberhasilan sukses masa akhirat itu, lalu apa buktinya kita disebut manusia mulia yang berbeda dengan binatang melata? Apa gunanya masa hidup kita di dunia sementara yang sehari-hari hanya diupahi kelelahan dan kesibukan tanpa henti ini?

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s