Tanaman Keumatan & Agama Cerita

Bagaikan tanam-tanaman ketika ditunggu oleh penanam (pak tani), maka tanaman akan relatif bersih terjaga dari ganggungan rumput, hama dan ancaman parasit lainnya. Sebaliknya tanaman akan jadi rapuh, kering, layu, atau tertutup rumput dan benalu bila ditinggalkan penanamnya dalam jangka waktu yang lama.

Begitulah ibaratnya kondisi umat beragama saat ditinggalkan Nabi-Rasul dalam jangka waktu yang lama (wafat). Keadaannya sungguh memprihatinkan.

Ketika ditunggui Nabi-Rasul, umat dirawat dan dijaga seperti pak tani (penanam) menunggui tanamannya. Kondisi akhlak umat pun relatif bagus, peri kehidupan berlangsung rukun, dinamika sosial manusia terjaga aman dari serangan hama setan. Agama, pada saat masih ditunggui langsung oleh Nabi-Rasul mampu menyatukan kemanusiaan dan merukunkan perbedaan antar golongan.

Kemudian sepeninggal Nabi-Rasul, kondisi “tanaman” umat yang tanpa penjaga dan pengawas itupun merana. Kalaupun tetap tumbuh, rambatan generasi meranggas liar tak terkendali lagi. Ditambah serangan hama setan yang menyusupkan “benalu” perbedaan dalam memahami ajaran Nabi-Rasul (agama), sehingga perpecahan diantara umat kian menghebat.

Umat dibikin kering layu dalam sekat-sekat friksi ideologi, klan kesukuan, senioritas ketokohan, kasta pengetahuan, dan madzhab penafsiran ajaran kenabian-kerasulan.

Kini, zaman keadaan umat tertinggalkan Rasulullah telah melebihi kurun 1400 tahun. Sebuah masa yang cukup lama bagi kawanan hama, rumput, benalu dan parasit untuk membuat “tanaman” umat mati terkubur.

Dalam periode waktu tanpa penunggu itu, umat dikeroyok habis-habisan, dibuat bancakan setan. Strateginya menggunakan adu domba, iming-iming materi dunia dan proyek penyimpangan tata cara peribadatan.

Sebagai perbandingan saja, ketika akhir hayatnya Rasulullah bersabda kepada para sahabat, “Perhatikan olehmu, sepeninggalku jangka seratus tahun tidak bakal tinggal seorangpun diantara kalian ini. Keadaan hamba Allah dibiarkan (Allah tidak memperhatikan ibadah umat).”

Di lain riwayat disebutkan bahwa iman serta ibadah umat bagaikan ayakan kulit syair & kurma (iman tinggal bekas). Logikanya, seratus tahun sepeninggal Rasulullah saja sudah demikian parah kondisi ibadah umat perkiraan keadaannya, bagaimana jika lebih lama? Apalagi kondisi umat saat ini?

Sekarang faktanya bisa dikira, umatnya ada tapi pengamalan agama tinggal cerita. Jika dulu pada saat ditunggui Nabi-Rasul, agama bisa merukunkan perbedaan, kini justru jadi amunisi pertikaian.

Jika saat masih ada Rasulullah, agama mampu mendekatkan ketauhidan, kini agama di tangan para politisi justru menjauhkan nilai ketuhanan. Saat agama diteladankan oleh Rasul secara langsung, kondisi umat relatif adil dan sejahtera. Tapi kini di tangan para cendekia, mereka saja yang menikmati lapak dagangan agamanya, sedangkan umat masih disibukkan ribut adu mulut.

Umat manusia kebanyakan tidak mengikuti agama, melainkan mengikuti nafsunya. Satu misal, agama memerintahkan wajib bagi setiap Muslim untuk sholat berjamaah setiap 5 waktu, apalagi sudah genap tiga orang, baik saat di hutan, kota, pedesaan, dan bila tidak sholat berjamaah dianggap manusia yang dijajah setan.

Nyatanya, banyak diantara kita tidak sempat sholat berjamaah, suka sholat sendiri-sendiri yang itu berarti mengikuti nafsunya, tidak mengikuti anjuran agamanya. Padahal ketika jaman Rasulullah, saat perang pun masih disiplin diatur sholat berjamaah.

Agama mewajibkan kepada Muslimah untuk berjilbab dan menutup auratnya, tapi kebanyakan umat kurang perdulikan perintah itu. Agama perintah kepada insania supaya hidup saling berkasih-kasihan tapi umumnya manusia suka bentrok. Ini berarti manusia tidak lagi mengikuti agama (Tuhan), tapi menuruti nafsu. Ideal agama yang diteladankan Rasul dulu, kini hanya tersisa cerita.

Sisi lain menunjukkan agama semarak pada meja wacana, ramai di tabel statistik, dan angka pemeluknya berderet naik. Namun kehadirannya yang diharap mampu menjawab persoalan keumatan masih belum terlihat signifikan. Tak jarang simbol agama berfungsi sebagai bahan olokan para komedian.

Bahkan pada puncak pesimisme dan kecemasan umat, agama sering dijadikan cerita penyesatan. Lihatlah “AgamaSM*ASH” yang manifesto ajakannnya berisikan “protes perlawanan”.

Jika pembaca pernah mengunjungi situs agamasmash.blogspot.com atau akun page facebook-nya, sulit untuk tidak mengatakan apa yang ditulis pemilik blog dan akun FB ini berkategori blasphemy, meski mungkin ia memungkiri.

Pesimisme umat melihat pentingnya agama, mungkin bisa dikaitkan pada cerita inisiatif perdamaian dunia, dimana agama kita kembali dipertanyakan perannya.

Jika menapaktilasi teladan hebat Rasulullah yang dengan cerdas mampu menyelesaikan perselisihan kabilah Makkah saat hendak mengembalikan batu Hajar Aswat ke Ka’bah, maka kita tentu akan bertanya-tanya –kalau tidak bisa disebut kecewa– membandingkan peran perdamaian Islam di saat ini.

Misalnya, pertanyaan kritis yang harus kita analisis “Kenapa justru PBB yang mengirimkan pasukan perdamaian ke negara-negara berkonflik mayoritas Muslim? Kenapa bukan OKI (organisasi konferensi Islam) yang justru memiliki kedekatan ideologi?;

“Kenapa dulu inisiatif perdamaian konflik Aceh bukan dari ormas keagamaan atau majelis cendekia agama kita? Kenapa justru inisiatif perdamaian nan strategis itu datang dari luar negeri dan tidak menujukkan keberadaan peran kaum ‘beriman’?”

Tanaman keumatan yang ditinggal Rasulullah seribu empat ratus tahun lalu, kini berdampak pada rusaknya praktik kaum beragama. Tanaman itu adalah kita semua, para pengaku pengikut Rasul yang mengklaim sedang melaksanakan ajarannya.

Bukti kerusakan kita adalah, lebih suka mengikuti “agama nafsu”, daripada agama sebenarnya. Jika ada tafsir ajaran agama yang sekiranya cocok dengan nafsu kita, kita pakai, jika tidak kita tolak. Ukuran kebenaran dilihat dari kemauan nafsu.

Sekarang kita sendiri yang harus bisa menjaga dan merawat tanaman itu, karena Rasul sebagai penanamnya sudah lama tiada. Pilihan kualitas “tanaman” berada dalam wujud ucapan, pikiran, dan tindakan kita semua.

Jika kita ingin “tanaman” itu subur, kuat, dan aman dari serangan hama setan, sepatutnya kita kudu bersatu dalam naungan pertolongan kasihNYA. Bersatu Tuhan, bersatu kemanusiaan (ummatan waahidatan), dan bersatu visi-misi masa depan keakhiratan.

Bagi kita kaum beriman, pengamalan ajaran Islam secara kaaffah tanpa banyak bantah adalah niscaya dan segera. Pengamalan total untuk diri pribadi, keluarga dan merambat ke masyarakat semua.

Jika tidak dengan cara begitu, agama kita hanya akan jadi penghuni musium diorama purba atau sekadar interupsi penyela cerita dunia, tanpa membawa kebermanfaatan dan perubahan positif yang signifikan.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s