Tempuhlah Jalan Susah

Sudah jadi kodrati setiap diri manusia ingin memakani hidupnya dengan bahagia selamanya, menikmati usia bersama keluarga atau orang terdekat yang dicintainya. Pada pencapaian dan prosesnya, banyak cara dipilih.

Umumnya berharap rasa bahagia bisa diperoleh dengan cara mudah,murah dan segera. Kalau bisa bahagia itu datang cuma-cuma dengan nilai berlipat ganda tanpa harus keluar modal apa-apa. Biasanya bahagia dengan cara mudah itu inginnya disegerakan di
dunia, tak perlu menunggu akhirat dulu.

Kebiasan mayoritas manusia dalam proses dan orientasi hasil akhir “menikmati” bahagia itulah yang seringkali bersinggungan dengan rambu-rambu Allah di dalam Al Quran. Menurut petunjuk Allah, manusia dipersilakan menikmati bahagia sepuasnya dan baka selamanya di akhirat.

Untuk prosesnya tentu saja harus lewat serangkaian ujian yang berliku, terjal, sulit, banyak halangan dan diharuskan mengeluarkan pengorbanan. Nilai juang yang seolah memberatkan ini akan sepadan dengan ganjaran super extravaganza berupa ridho dan ampunan surgaNYA.

Ibaratnya orang sedang bermain kuis atau game station, juara sejati dengan raihan hadiah terbesar ditentukan oleh berapa banyak kesulitan dan level ujian yang berhasil dituntaskan. Kian berat dan sulit tingkat permainan yang dijalani, maka akan makin besar perolehan skor plus bonus di akhir nanti.

Sebaliknya, jika masuk level pertama yang mudah saja sudah menyerah, maka dipastikan orang itu gagal jadi pemenang. Bahkan hadiah plus bonus terancam hangus jika ia tidak mau memperbaiki skor “game” perjuangannya.

Demikianlah sebenarnya hakikat “permainan” hidup kita semua. Melewati babak alam dunia ini, kita sedang terlibat games dengan aturan main yang sudah ditetapkanNYA. Panduan tip sukses kita dalam “permainan” hidup di dunia ini adalah sirah nabawiyah serta teladan orang shaleh yang diceritakan dalam Al Quran.

Hampir semua catatan sukses perjuangan beliau-beliau itu ditulis dengan corak cerita kesulitan, ketidakenakan, dan kesusahan. Di sinilah berlaku bukti kebenaran kaidah fid dunya hasanah, di mana Rasulullah dan mujahid menjalani ujian “jalan susah” dunia itu dengan mantap berkeyakinan, perasaan ringan, dan tidak takut berkorban.

Rasulullah dan pendahulu kita itu harus berjalan susah payah dulu dan melewati semua level ujian “permainan” untuk meraih hadiah bahagia dunia akhiratNYA. “Maka tidakkah sebaiknya ia menempuh jalan yang mendaki dan susah?” demikian pilihan pemberian Al Quran dalam ayat 11 surat Al Balad.

Peta deskriptif “jalan mendaki dan susah” terurai dalam perintah pada ayat berikutnya yakni melepaskan perbudakan, memberi makan pada hari kelaparan, menyantuni anak yatim dan fakir miskin, serta saling berpesan untuk bersabar dan berkasih sayang.

Buat kita yang terbiasa berlogika, mungkin akan protes melihat ayat itu, “Bagaimana mungkin kita akan melepaskan perbudakan di saat ini kita sendiri diperbudak oleh sistem yang rusak?? bagaimana kita bisa memberi makan sedang keluarga sendiri kelaparan? Bagaimana menyantuni fakir miskin sedang kita sendiri merasa (takut) fakir dan (kuatir dengan sedekah) akan jadi miskin?”

Intinya, jalan susah & mendaki yang diresepkan Al Quran itu akan cenderung kita tolak sebagai akibat dari ketakutan-ketakutan yang kita bayangkan. Padahal sesungguhnya di ujung “jalan susah” itu akan berakhir bahagia.

Bagi pembaca yang menyukai literasi psikologi, Anda akan menemukan kesesuaian perintah “tempuhlah jalan susah” dengan logoterapi rumusan Victor E. Frankl. Paradoxical Intention atau “perlawanan terhadap niat” adalah upaya penyembuhan bagi gangguan fobia perasaan dan mental dengan cara membalik niat menjadi sikap.

Melalui perubahan sikap, idealnya ada perubahan mutu kesehatan dan kebahagian bagi penderita fobia. Contohnya penderita insomnia, saat ketakutan tidak dapat tidur, seketika itu juga muncul dorongan kuat untuk tidur. Tapi akibat takut berlebihan tidak bisa tidur ini justru membuat penderita insomnia kian sulit tidur.

Terapi Paradoxical Intention menyarankan penderita insomnia melakukan niat sebaliknya, yakni berusaha untuk terjaga. Dorongan kuat untuk tidur sebagai akibat rasa takut harus diganti niat untuk bangun, membuka mata sekuatnya. Nah, dengan cara “paradok terbalik & susah”melawan niat itu, efek baiknya, penderita insomnia terbukti bisa tidur mudah.

Jika kita percaya kuasa keselamatan kasihNYA, sesungguhnya perintah “tempuhlah jalan susah” dan Paradoxical Intention adalah solusi terapi ilahi untuk menyembukan bangsa kita dari sakit sosial saat ini. Deskripsi Al Balad yang bercerita tentang manusia “berkondisi susah payah” (fii kabad) relevan dengan fakta Indonesia, terutama nasib kita hari-hari ini.

Terapi pengobatan agar kita terbebas dari kecemasan akan kondisi ini adaah melawan kecemasan itu sendiri. Apa yang kita takutkan justru harus dihadapi. Berkaitan dengan perintah “tempuhlah jalan susah” di surat Al Balad, kita bisa mencoba terapi paradoxical intention.

Misalnya saat kita malas loyo, ayo nyoba terapi lari mendaki. Saat pelit bersedekah sebagai akibat dari dorongan perasaan (setan) takut miskin di dunia, ayo kita lawan ketakutan itu dengan bersedekah sebanyak-banyaknya.

Rasa takut miskin di dunia, kita balik menumbuhkan niat siap miskin di dunia (asal tidak miskin di akhirat), dengan mengorbankan syahwat profan dan menyedekahkan kepemilikan duniawi kita untuk kesejahtaraan agama, bangsa, dan negara.

Saat kita merasa takut kelaparan jika memberi makan gratis orang lain, maka dengan terapi paradoxical intention, kita nekad saja melawan takut kelaparan dengan cara memberi makan gratis fakir miskin, yatim, dan kerabat terdekat. Saat kita takut kekurangan rejeki, mari lawan takut itu dengan banyak memberi.

Dengan pola serupa, saat banyak orang di negeri ini gila korupsi sebagai akibat takut tidak kebagian rejeki jaman edan, kita justru memilih tidak kebagian. Kita niatkan berani lawan arus jaman edan sebagai ikhtiar pelayanan kaul Tuhan: “tempuhlah jalan susah”.

Sayangnya, sebagaimana tertulis di paragraf awal, mayoritas manusia ingin bahagia itu dipermudah dan disegerakan di dunia. Maunya main nyaman, gampangan, berhadiah utama dan prosesnya instan. Enggan bersakit-sakit dahulu di dunia, bersenang-senang selamanya di akhirat, sebagaimana “jalan susah” yang telah ditempuh para syuhada RasulNYA.

Akibatnya dapat kita lihat saat ini, semua berebutan karena takut tidak kebagian. Saya, sebagaimana kita semua, berharap sakit negeri ini segera pulih kembali. Sakit sosial akibat dari takut “tidak kebagian enak” di dunia ini, harus diakhiri.

Terapinya dengan paradoxical intention tadi. Pembuktiannya bisa diuji dengan amalan surat Al Balad ayat 13-17. Pada “permainan” hidup di dunia Indonesia ini, Bismillaah saya memilih “jalan susah” sebagai terapi diri sekaligus ikhtiar penyembuhan moral bangsa ini.

Berkat level ujian terberat yang bisa saya lalui, harapannya ada bonus bahagia di akhirat nanti. Semoga Anda juga mengamini dan mengikuti pilihan saya. Aamiin.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s