Air, Antara Syukur & Kufur

Anda penggemar sekuel film James Bond, karakter agen 007 rekaan Ian Flemming? Jika iya, semoga saja Anda tidak sekadar menyukai awak MI6 itu dari sisi kegantengan pemeran, aksi gelut jagoan, seru adegan, sukses perayu perempuan, atau kerennya tunggangan plus kecanggihan peralatan di setiap petualangan.

Semoga Anda seperti saya, menikmati aksi Bond dari segi cerita, karakter antagonis lawannya, dan “pesan-pesan rahasia” di setiap penuntasan misinya.

Sebagaimana Anda tahu, aksi terakhir Bond dapat dilihat dalam Quantum of Solace yang dirilis 2008 silam. Dalam sekuel ke-22 produksi EON ini, agen 007 melawan Dominic Greene, seorang warga Quantum yang berperan sebagai ahli lingkungan dan sedang beraksi makar di Bolivia untuk menguasai penyediaan sumber air di sana.

Alur Quantum of Solace, menurut saya, bermuara pada cerita “air sebagai sumber kehidupan sekaligus potensi pertikaian di masa depan”.

Bila Anda suka bepergian, cobalah sekali-kali menyambangi komunitas transmigran, terutama yang lokasinya berada jauh di pedalaman.

Di Kalimantan dan Sumatera, lokasi yang banyak dialiri sungai besar, idealnya sumber air selalu melimpah dan bisa diperoleh dengan mudah. Tapi datanglah ke seputar parit Karya Tunas Jaya, Tempulin, Indragiri Hilir, Riau. Walau berada di wilayah air melimpah hingga diberi julukan “Seribu Jembatan”, air bersih di Karya Tunas Jaya relatif sulit.

Air “bersih” yang tersedia di sana bersumber dari parit galian bekas tumbangan hutan. Warnanya merah seperti adukan wedang teh, kesat di kulit, dan rasanya ampang jika diminum.

Volume air parit bergantung pasang surut air laut. Jika ingin memperoleh air sedikit lebih berkualitas, warga harus sabar menunggu air hujan sekaligus untuk persiapan masa kekeringan.

Desa Sangking Baru, Kecamatan Plumpang Selatan, Kabupaten Kota Baru Kalimantan Selatan memiliki ironi serupa. Berada di wilayah Kalimantan Selatan yang terkenal dengan sebutan “Seribu Sungai”, namun warga Sangking Baru mendapatkan air bersih justru dari tadahan air hujan.

Mereka harus sangat berhemat jika ingin cukup tersedia kebutuhan MCK. Di rumah Pak Lik saya, saking hematnya, sampai air bekas cucian pakaian bisa dimanfaatkan untuk minum hewan peliharaan.

Cerita sulitnya air bersih juga melanda wilayah Jawa. Di desa Jurang Jero, Ngawen, Gunung Kidul, Jogjakarta, seorang santri saya harus menggali sumur batu selama dua tahun untuk mendapatkan sumber air bersih.

Sumur batu itu letaknya jauh dari rumah, sehingga untuk mengangkut air, ia harus maraton bolak-balik turun naik merayapi jalan bertebing curam sejauh kurang lebih 2 km. Sebuah perjuangan menyambung kehidupan yang berkepahlawanan.

Anda mungkin berada di wilayah basah pegunungan dengan iklim air mengalir setiap hari, sepanjang tahun tanpa henti. Bagi Anda yang menghuni kota, suplai air bersih mungkin masih lumayan dimudahkan dengan adanya instansi penyalur atau jasa angkut air sumur.

Bersyukurlah Anda belum mengalami sulitnya air bersih seperti penduduk daerah transmigrasi yang saya ceritakan tadi. Setelah bersyukur, segeralah berhemat mulai sekarang, karena kebutuhan dasar rakyat akan air, terancam tidak terpenuhi dalam kurun 10 tahun ke depan terutama di Jawa.

Dari petualangan James Bond, saya ajak Anda semua berkeliling nusantara, mengelilingi potensi syukur Indonesia. Bahwa sebetulnya sumber daya air negeri kita sangatlah melimpah, meski di beberapa wilayah memperolehnya tidaklah mudah. Syukur atau kufur akan menjadi pilihan sikap kita dalam memanfaatkan sumber air di Indonesia.

Di satu sisi, efek syukur potensi air akan sangat menyejahterakan dan menghadirkan keadilan jika dikelola sebagaimana rujukan amanat UUD 1945 Pasal 33 ayat 3, “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.

Secara pribadi pada praktiknya, keluarga Indonesia akan menghemat penggunaan air dan tidak mencemari sumbernya seperti sungai, laut dan telaga. Syukur air akan menjadi menu sehari-hari bila mengingat nasib saudara kita yang mengalami kesulitan air bersih di sebagian wilayah Indonesia. Jatah “boros air” kita lebih baik disedekahkan untuk mereka.

Di sisi lain, kita patut waspada karena sumber air Indonesia menyimpan potensi kufur sekaligus ancaman pertikaian di masa depan. Penggunaan boros dan mubazir air berlebihan serta penguasaan tunggal atas hajat air orang banyak juga menjadi keprihatinan kita bersama.

Terlebih jika saat ini ada indikasi masyarakat senang beralih ke konsumsi air “buatan” dan banyak sumber air mulai dikuasai oleh monopoli kleptokrasi. Akibatnya sungguh buruk bagi lingkungan dan potensial merusak tatanan sosial kehidupan.

Misalnya saja di desa-desa seputar tempat tinggal saya, sumber air telaga di desa kian merana, karena masyarakat lebih gandrung mengonsumsi air isi “buatan”.

Sebenarnya mereka sudah cukup air dengan adanya telaga, tapi karena terpukau celoteh iklan media, merekapun beralih seolah “wajib” menggunakan air “seperti iklan di tipi”. Telaga ditelantarkan dan kini berubah jadi lahan pembuangan air limbah perumahan. Syukur potensi air telaga diabaikan, kufur berlebihan ingin mengonsumsi “air iklan” malah berakibat merusak lingkungan.

Sumber air pegunungan kian menipis dan relatif sedikit memberi keuntungan penduduk sekitarnya. Pada saatnya mereka akan kesulitan air karena banyak disedot oleh masyarakat seperti desa saya –yang sebenarnya cukup mengambil di telaga, tak perlu mengeruk air pegunungan.

Ujung-ujungnya nanti di masa depan, masyarakat akan berebut air dan bisa jadi bahan spekulan suply & demand. Sementara kita bertarung, siapa yang bermandi untung? Tentu saja mereka, Dominic Greene (musuh James Bond) dan konco-konco “ahli korporasi lingkungan” nya.

Cerita air bermuara pada sukses Greene membodohi kita tentang “aksi penyelamatan lingkungan”, padahal ia sedang makar penguasaan sumber air yang seharusnya dimiliki dan dikelola negara.

Kita pun kufur nikmat air dengan tak sadar ikut memperkaya “iklan jualan” Greene dan korporasinya. Seenggak-enggaknya, saat kita menggunakan air berlebihan, kita lupa di sebagian daerah seperti Karya Tunas Jaya, Sangking Baru, dan Jurang Jero, masih banyak warga Indonesia yang butuh air bersih dan seikhlasnya derma dari kelebihan rejeki kita.

Bagi sedulur yang berdemonstrasi tolak kenaikan BBM hari-hari ini, pesan saya semoga Anda tidak melupakan syukur air bersih dan malah kufur loba terobsesi menyedot minyakNYA saja.

Datanglah ke daerah transmigran atau Gunung Kidul yang saya sebut tadi, dan rasakan bahwa air bersih lebih butuh diadvokasi daripada minyak dan kawan2nya. Karena bagi survival kehidupan, minyak itu tersier, sementara air itu kebutuhan primer, suka atau tidak.

Tapi faktanya setiap kenaikan harga air botol seliteran, kita justru lupa menggugatnya, atau setidaknya menyuarakan keberatan. Aneh kan?

Cerita Bond mengilhami refleksi Hari Air Sedunia hari ini. Semoga tidak ada karakter kufur Greene yang berkedok penyelamat lingkungan tapi ternyata tokoh jahat makar penguasaan sumber air kehidupan.

Kalaupun Greene itu nyata adanya, saya berharap kita semua bisa jadi Bond turun aksi berdemonstrasi mencegah manusia atau korporat jahat berciri benalu itu. Semoga juga kita tidak tertular sifat kufur memboroskan air sampai lupa kepada warga Indonesia yang kesulitan air bersih.

Kepada pengelola negara, kita berharap potensi syukur air Indonesia bisa dikelola sesuai amanat UUD 1945 Pasal 33 ayat 3 yang bisa mendatangkan kemakmuran, perdamaian dan keadilan bagi rakyatnya, setidaknya bagi warga di Karya Tunas Jaya, Sangking Baru dan Jurang Jero sana.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s