Bumi Biru

Berdasarkan informasi Al Quran, Allah menciptakan manusia sebagai khalifah penjaga bumi dunia. Selanjutnya skenario ‘drama dunia’ yang mesti dilakoni adalah, manusia akan total menyembah melayani Allah sepanjang hidupnya. Lalu Allah telah menyediakan sumber daya alam sebagai pelengkap kebutuhan manusia dalam upaya penyembahan dan pelayanan itu.

Skema plot normalnya, manusia sibuk “menghadap” menyembah melayani Allah dan sumber daya alam (termasuk harta benda) secara harmoni sunnatullah akan mengikut serta di belakang manusia.

Namun skenario itu berubah di tengah jalan. Manusia gegabah dan nekad mengganti skenario Allah itu dengan skenario versi nafsu. Akhirnya, manusia atas bujukan setan, malah total sibuk menyembah dan melayani harta benda, menguras habis sumber daya bumi dunia.

Plot cerita pun terbalik, manusia khusyu’ “menghadap” karir dunia, sibuk bermuamalah mencari maisyah. Allah disingkur, dibelakangi, ditinggal sendiri, dan hanya “dibezuk” sesekali dalam ibadah seremoni.

Bisa ditebak kemudian, awal kodrat manusia yang diperankan santun sebagai khalifah peradaban sosial berubah ganas menjadi sosok kanibal pertarungan manimal. Bumi pun rusak.

Melalui cerita pengutusan RasulNYA, dapat dibaca bahwa akar kerusakan moral dan sosial senantiasa bermula dari kesibukan-keterburuan-nafsu instan- manusia dalam meladeni penyembahan harta-tahta-syahwat dunia. Manusia bertransformasi menjadi binatang (manimal) ekonomi, menjauhi sisi sosial manusiawi dan ingin membebaskan diri dari keteraturan-keterikatan skenario ilahi.

Jika ditarik pada isu kekinian, kerusakan iklim bumi yang berawal dari petaka temuan teknologi, sumber energi dan batu mulia dapat dijadikan perenungan kebenaran tesis di atas. Perebutan minyak bumi, lahan pangan dan ladang tambang selalu menjadi motif sengketa penjajahan negara adikuasa atas negara-negara dunia ketiga.

Pada persoalan lingkungan terkini misalnya, akibat kerakusan dan nafsu terburu-buru enak instan manusia –alih-alih efisiensi ekonomi dan efektifitas waktu–, efek revolusi industri berakibat pada ekstrimnya perubahan suhu/cuaca dunia.

Contoh terdekat di komunitas keluarga kita, pencemaran air sungai dengan sumbangan limbah domestik, penggunaan mesin transportasi pribadi, terbukti turut serta merusak kualitas air & udara.

Lalu mari jujur tanyakan, semua muasal sebab-akibat itu karena sibuknya pemenuhan kebutuhan duniawi kita? ataukah karena kepentingan pelayanan menyembahNYA? Polusi udara dan menipisnya sumber air itu akibat kerakusan dan terburu-burunya kita “menghadap” hartaNYA ? Ataukah karena kesibukan tugas pelayanan menolong hambaNYA (sesama manusia) yang papa?

Pada isu kenaikan harga minyak dunia atau BBM di Indonesia, akibat dipengaruhi sifat rakus manusia, maka ada fenomena penimbunan untuk mendongkrak keuntungan.

Akibat sifat kerakusan dunia diantara kita juga, jangan pernah mimpi ada kestabilan harga minyak bumi selama jalur distribusi dan skema eksplorasi masih dikuasai jaringan mafia spekulan. Karena itulah siap-siap saja, setiap tahun negara mengeluh capek mensubsidi dan warga berpeluh capek demonstrasi.

Karenanya, isu biru (tentang kualitas air dan udara) akan bergema di tingkat wacana saja selama kita masih bergantung pada pemanfaatan mesin dengan sumber daya energi minyak sebagai bahan penggerak.

Di level korporasi, kepedulian isu bumi biru hanya akan berhenti pada hibah donasi atau seremoni “penghijauan” sebagai pemenuhan standar mekanisme wajib CSR (corporate social responsibility) kepada warga di ring satu, dua, tiga, dst.

Sekali lagi jika ditarik dari skenario awal penyembahan manusia kepada Allah, semula tidak ada kewajiban kita terburu-buru memenuhi kebutuhan dunia, lalu karena alasan itu menguras rakus sumber daya hingga melupakanNYA sebagai Pencipta, hingga sibuk mencukupi kebutuhan pribadi dan lalai memikirkan nasib sesama manusia.

Sebetulnya, tidak ada klausul dalam pelayanan Tuhan itu harus dengan perantara kecepatan mesin dan atau piranti kemajuan teknologi. Wajibnya adalah, fokus menghadap kepada agamaNYA (fa aqim wajhaka liddiini haniifa), memurnikan pelayanan dan penyembahan (muhlisuuna lahuddiin) dengan efek berantai pada asah-asih-asuh sesama manusia.

Tetapi karena manusia mengubah skenario “drama” kekhalifahan sosialnya, tetapi karena manusia terfokus sibuk melayani dan terburu-buru memenuhi kepentingan instan nafsunya sendiri, jadi rusaklah dunia. Diantara efek awalnya, lahirlah revolusi (saya lebih suka menyebutnya “tragedi”) industri.

Temuan mesin uap kemudian mengawali maraknya polusi udara bumi. Lalu karena nafsu hedonis-konsumeris berlebihan kita, marak fenomena pengalihan lahan hijau perkotaan menjadi belantara beton pertokoan, persawahan berubah jadi pabrikan.

Sebelumnya eksplorasi tambang batu mulia telah mencemari sumber daya air, selain berakibat fenomena jual beli perbudakan manusia. Teknologi di satu sisi –katanya– menghadirkan efisiensi dan efektitas, namun di sisi lain menciptakan momok pencemaran plus bonus kerusakan peradaban.

Maka sebagai renungan lingkungan kali ini, sekaligus persiapan Hari Air Sedunia (isu biru) yang diperingati pekan depan, saya ajak pembaca semua bertanya, “masihkah kita mau menyalahkan pihak lain ataukah refleksi pola hidup kita sendiri atas proses kerusakan bumi ini?”

Bila merujuk pada tugas awal setiap pribadi adalah khalifah bumi, sepatutnya tanggungjawab kesalahan itu ada pada kita semua, bukan karena akibat monopoli “mereka” saja. Maka untuk menebusnya, perlu tindakan penyelamatan segera.

Contohnya, jika pekan-pekan ini cara demonstrasi belum mampu mempengaruhi keputusan naiknya harga minyak bumi, tempuhlah cara ekstrim, misalnya istirahatkan konsumsi bahan bakar (BBM).

Mungkinkah? Iya, jika kita niati sebagai kewajiban setiap pribadi memelihara kualitas udara. Bisa, jika kita ikhtiari menunaikan tanggungjawab khalifah pelestari bumi. Bismillaah, dimulai dengan bersepeda atau jalan kaki ke tempat kerja dan pergi sekolah/kuliah, misalnya.

Selain nawaitu perwujudan isu bumi biru (kota steril polusi udara), itulah alternatif “perlawanan elegan” menghentikan tingkah para spekulan dan mafia tengkulak perminyakan.

Semua itu kembali pada pilihan kita, mau seperti skenario awal khalifah sosial fokus menyembah dan melayaniNYA? Ataukah sibuk mengganti skenario nafsu sendiri, mengeruk rejeki duniawi hingga membelakangiNYA?

Lebih suka menghadap kepadaNYA dengan resiko memelankan “kemajuan jaman” tapi bumi lebih lestari? Ataukah sibuk “menghadap” sumber dayaNYA saja dengan resiko kerusakan alam dan pertikaian berkelanjutan?

Untuk percepatan isu bumi tetap biru dan aksi pelestarian alam ini, sebenarnya ada cara lebih ekstrim lagi. Kita kembali saja ke tradisi purba, menjalani jaman batu sebagaimana manusia dahulu.

Tanpa modernitas mesin, tanpa tradisi teknologi, tanpa eksplorasi perut bumi, tanpa diburu nafsu, tanpa perbudakan insan dan tanpa dikejar kepentingan instan. Jika dengan pola harmoni jaman batu itu, hidup kita bisa rukun bersama dan menghadirkan kasih ridho-ampunanNYA, kenapa tidak?

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s