Pelit

Siang selepas sholat Jumat,  imam masih khusyuk berwirid di dalam masjid. Seorang jamaah tergesa keluar dari masjid lalu meludah persis di tengah “kerumunan” sandal yang berpasangan di emperan. Terdengar bunyi plok  ketika ludah melantai, nampak berdahak banyak. Setelah meludah, orang itu memakai sandal dan segera berlalu sambil acuh saja mewariskan sampahnya.

Belasan menit kemudian imam berdiri menunaikan 2 rakaat sholat sunnah bakdiyah. Sebagian jamaah pun berdiri ikut sholat, sebagiannya lagi berhamburan keluar, seperti tak sabar dan dikejar-kejar.

Saya perhatikan beberapa jamaah yang sandalnya pas berdekatan dengan ludah tadi,  mimik mukanya mengernyit. Sesekali ada jamaah sambil memakai sandalnya, mengerling ke saya yang kebetulan duduk dekat situ. Mungkin sedang mencari siapa yang jorok mengotori rumah Allah ini.

Penampakan seonggok dahak di emperan masjid itu memang mengganggu. Letaknya persis di depan pintu keluar utama. Setiap jamaah yang keluar, pasti akan melihatnya.

Harapan saya, semoga ada di antara para jamaah yang keluar dari masjid itu, secara tulus bergegas membersihkan ludah tersebut. Namun hingga sepasang sandal terakhir dibawa pemiliknya, onggokan ludah itu masih ada, menunggu dermawan sukarela yang mau membuangnya.

Fragmen adegan yang saya saksikan di sebuah masjid itu, mungkin pernah Anda lihat juga. Adegan pertama, jamaah yang meludah sampah di sembarang tempat. Adegan kedua, jamaah lainnya yang membiarkan sampah mengotori tempat suci. Plot kedua adegan mengerucut pada kesimpulan “adanya sifat pelit manusia”.

Peludah tadi, sifat pelit membelenggu kakinya sehingga ia berat meludah pada tempat sampah terdekat, selokan atau toilet misalnya. Jika memang beralasan diburu urusan genting, seapes-apesnya ia bisa meludah di luar pagar, asal tidak di dalam komplek masjid.

Para jamaah yang hanya menyingkir saja begitu tahu ada ludah di dekat sandalnya, pelit berderma sedikit tenaganya untuk ‘sedekah sampah’. Mungkin terlalu jijik melihat, mungkin karena bukan ludahnya, mungkin merasa bukan tanggungjawabnya, atau mungkin yang lain, sehingga enggan membuang ludah itu.

Pada setting lokasi yang berbeda, Anda bisa melihat bukti sifat pelit manusia melanda di sepanjang jalan, di tempat keramaian, di fasilitas umum, di wahana wisata, bahkan di rumah ibadah. Satu sisi pelit dengan perilaku membuang sampah sembarangan, sisi lain pelit membiarkan kotoran berserakan tanpa ada niat membersihkannya. Mereka ini pelit tenaga, ogah bersedekah praktik amalan “kebersihan sebagian dari iman”.

Ada orang gila atau gelandangan di jalan, pelit hati kita membiarkannya dengan alasan bukan tanggungjawab kita? Ataukah rasa loman kita segera mengambilnya, merawatnya, dan atau merujuknya ke pihak berwenang dengan alasan mereka juga manusia yang butuh diasah-asih-asuh?

Ada lubang dan kerusakan di jalan kampung, pelit pikiran kita cuek tiap hari melewatinya saja (plus bonus umpatan makian) dengan alasan itu tanggungjawab negara?? ataukah derma sikap kita segera berswadaya semampunya menambal kerusakan itu dengan rejeki kita sendiri???

Pada contoh jamaah yang bergegas keluar tanpa sholat sunnah tadi, terdapat ciri sifat pelit lagi. Sedulur muslim kita ini merasa amal wajib Jumatan-nya tunai, sehingga rowatib bakdiyah-nya tidak dibutuhkan. Mereka –mungkin– mengklaim tabungan kebaikan lebih dari cukup, sehingga sholat sunnat yang diteladankan Rasulullah, belum perlu ia tiru.

Baiklah mungkin diantara sebagian jamaah itu beralasan punya agenda super mendesak nan genting, sehingga harus cepat keluar masjid, tapi sebagian lainnya??? Semoga saja tidak bersegera “punya agenda menuruti nafsunya”.

Tentang sifat pelit, kitab terjemah Daqoiqul Akhbar karya Abdurrahman bin Ahmad Al-Qodli menuliskan cerita bijaksana. Dikisahkan ada hamba ahli ibadah yang mendapat siksa di dalam kuburnya. Saat ia bertanya menggugat malaikat kenapa ia disiksa, jawaban yang diperolehnya mengagetkannya.

Ternyata, waktu ia di dunia dulu, pernah ada seseorang butuh pertolongannya, namun ahli ibadah ini enggan menolong, padahal ia sebetulnya bisa  –mungkin dengan alasan kesibukan atau terselip kealpaan. Akhirnya, orang ini tetap saja diganjar siksa akibat tercatat masih memiliki sisi pelit diantara sifat kesalehannya.

Jika diurut, sifat pelit bermula pada perasaan “sudah cukup” baik. Sifat ini kemudian membatasi diri pada amalan seadanya saja, memupus niat naik kelas ke amalan yang lebih baik lagi. Padahal secara logika, matematika & agama, ia mampu melaksanakannya.

Saat sudah merasa tunai zakat 2.5 % tiap tahun, rasa pelit menggoda, “Ah, sedekah nanti saja”. Saat rutin bayar zakat fitrah, dan masih punya sedikit kelebihan, rasa pelit menghampiri, “Ah cukup fitrah ini, soal infaq nanti-nanti”. dst.

Pada bab keilmuan dan pengetahuan, sifat pelit juga sering melanda kaum cendekia. Misalnya menolak mengajar karena merasa kurang besar gajinya, kecil bonusnya, rendah peluang naik pangkatnya, terpencil lokasinya, tidak ada tunjangannya, jarang diliput media, dst.

Padahal  sejak awal, sudah disadari niat mengajar adalah bukan mengejar upah. Tapi karena tersambit sifat pelit, niat baik itu berubah arah. Mereka ini punya waktu, tenaga, dan pikiran tapi pelit rasa keikhlasan.

Pada kehidupan berbangsa dan bernegara, ada sifat pelit enggan mengingatkan kekeliruan yang menimpa bangsanya/saudaranya. Alih-alih beralasan positif, banyak dari kita memilih menumpahkan kekesalan dengan menyalahkan perpolitikan dan atau pemerintahan.

Padahal sejatinya masih ada senjata doa yang bisa ditempuh, jika cara biasa belum berhasil. Sudah pernahkah mengirim Al Fatihah untuk pihak yang kita cap salah, baik itu masyarakat/pemerintah?

Mestinya dengan mengirim doa keinsyafan kepada orang yang bersalah, ganjarannya sama saja kita mencatat sedekah untuk diri kita sendiri, dengan  sedekah harta & tenaga tidak punya. Jika belum pernah mendoakan saudara sebangsa yang salah, inilah bukti ciri pelit kepada pribadi. Pepatah jawa menyebutnya “silite mudal pandane”, tipikal orang yang super duper bakhil, bahkan kepada dirinya sendiri pun ia bersifat pelit amalan kebaikan.

Mirisnya, penyakit sifat pelit ini jarang terasa bagi pribadi yang dihinggapi. Sepintas kilas dengan menyimpan apa yang dimiliki, eman memberikan, itu akan menguntungkan. Padahal sesungguhnya itu bisa berakibat buruk bagi dirinya serta keluarganya, terutama tuntutan pertanyaan nanti di alam kubur dan hari pengadilan akhirat.

Rupa sifat, tenaga, pikiran, jiwa, dan atau harta benda yang dipelitkannya itu akan menjadi beban berat yang digantungkan di lehernya (QS. 3:180), juga akan disediakan kesulitan baginya (QS. Al Lail 8-11).

Untuk melihat sifat pelit, apakah masih melekat di pribadi dan keluarga kita, bandingkan saja misalnya untuk kebutuhan sandang-pangan-papan, sila dihitung, berapa yang sudah kita nikmati dan berapa yang kita sumbangkan untuk orang lain?

Jika ternyata lebih banyak untuk kebutuhan pribadi beserta keluarga di dunia, berarti kita masih termasuk pelit (dengan asumsi sedekah untuk orang/keluarga lain adalah untuk mencukupi kebutuhan pribadi & keluarga kita di akhirat).

Pada contoh ibadah, sholat kita khusyuk atau ingin mempercepat rakaat, sholat sendirian di rumah atau rutin berjamaah yang berganjar 27 derajat? Jika masih cepat-cepat sholat, berarti kita pelit waktu bertemu denganNYA. Jika masih saja sholat sendirian di rumah, malas berangkat sholat ke masjid, berarti kita pelit hubungan sosial dengan muslim lainnya, juga pelit kebaikan mengambil 27 derajat itu.

Pembaca, sifat pelit adalah karakter dasar manusia sebagaimana difirmankan Al Quran  (QS. 17:100). Jujur saja diantara rupa prihatin kondisi Indonesia seperti sekarang ini,  sifat pelit kita turut menyumbang keburukannya.

Sifat pelit itu bisa dikikis dengan latihan bersemangat amalan kebaikan selama hayat dikandung jasad, kapan saja dan apapun bentuknya. Tidak hanya terbatas pada sedekah harta, tapi juga darma tenaga, sumbangan fikiran, ide kebaktian, saran kebaikan, dan juga bantuan doa keselamatan plus permaafan kepada orang yang kita cela berdosa.

Mari bangkit meninggalkan pelit dan segera semangat berderma untuk kebaikan Indonesia.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s