Belum Saatnya Bilang Sudah

“Demi waktu Ashar, sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi besar,” demikian firman Allah memperingatkan kesempatan hidup di dunia yang sangat sebentar. Bila dibanding kehidupan akhirat yang baka selamanya, puluhan tahun menikmati dunia mungkin akan terasa bagai hidup sehari saja.

Karena itulah, selagi menjalani persinggahan “dolan mamper ngombe” ini, Allah menganjurkan manusia untuk memanfaatkan kesempatannya sebaik dan seefektif mungkin.

Pada bab pengumpulan bekal amal, setiap diri sudah ditetapkan masa hidupnya di dunia dan sudah diberi tenggat ketetapan mati. Hanya saja mengenai kapan waktu pas hari H dan jam J-nya, ini menjadi rahasia ilahi.

Makanya selagi umur masih melekat di jasad, Allah menyerukan kalimat perintah “berlombalah” untuk mencari dan menanamkan investasi ukhrowi. Ini berarti, usaha pengumpulan amal setiap pribadi tidak boleh berhenti sebelum mati. Untuk amalan kebaikan, baik di dunia dan terutama untuk akhirat, jangan pernah berkata “sudah” lalu merasa puas dan lunas.

Contoh perbandingan kebutuhan pangan. Mari berhitung, sampai usia saat ini, berapa milyar butir nasi yang sudah Anda makan di dunia? berapa ratu ton beras yang sudah terbeli untuk memenuhi asupan gizi keluarga di dunia? Berapa ribu liter minuman yang sudah dihabiskan untuk survival anak isteri di dunia ini?

Hitung saja seandainya usia Anda 30 tahun, hidup sendirian, sehari 2 kali makan. Maka akan ada pengalian matematika 2 (nasi bungkus) x 365 (jumlah hari dalam setahun) x 30 (usia Anda). Hasilnya, 21.900 (dua puluh satu ribu sembilan ratus) nasi bungkus telah Anda nikmati di dunia.

Menggunakan perhitungan serupa, cobalah menjumlah berapa liter air yang sudah Anda teguk hingga saat ini. Hasilnya mungkin tidak jauh beda. Itu baru untuk kebutuhan pribadi saja. Belum lagi kalau nanti berkeluarga diwajibkan menafkahi kebutuhan makan dan minum mereka semua.

Itu baru hitungan sederhana usia 30 tahun, belum dihitung jika tenggat Anda mencapai 60 tahun lebih (menggunakan standar Rasulullah yang usia beliau 63 tahun, misalnya).

Lalu setelah berhitung sederhana makan minum untuk kebutuhan hidup sementara di dunia sebanyak itu, kini hitunglah kebutuhan selamanya di akhirat. Seapes-apesnya, setiap pribadi harus menyiapkan sejumlah makanan dan minuman yang sama bukan?

Harusnya akan ada hitungan berlebih-lebih. Bila di dunia butuh 21.900 nasi bungkus, maka di akhirat setidaknya butuh kelipatan 40 ribu +++. Begitu juga dengan minumannya. Sebagaimana jamak diketahui, menyiapkan kebutuhan makanan dan minuman di akhirat itu, adalah dengan cara sedekah. Sehari kita makan 2 kali, hari itu juga kita harus memberi makan 2 kali bagi kaum papa.

Sekarang tanyakan kepada diri Anda dan keluarga pembaca Lentera semua, hitung-hitungan sederhana kebutuhan tadi belum pernah terlintas di pikiran bukan? Padahal para mu’min percaya bahwa hidup di akhirat lebih lama yang itu berarti kubutuhan makan minum lebih banyak dibanding kebutuhan di dunia.

Para muslimah/muslim juga meyakini bahwa setelah mati, tidak akan ada kesempatan lagi berusaha menalangi amal dan menambal kebutuhan akhirat yang ternyata kurang. Masa tenggat memenuhi kebutuhan akhirat hanya selama nafas kita di dunia masih tersisa. Ingat, itu cuma sangat sebentar saja.

Logikanya, untuk menyiapkan bekal kebutuhan hidup bermilyar-milyar tahun di akhirat dengan jatah usia di dunia, seolah mustahil saja. 30-60 tahun hidup seperti tak cukup.

Dari kesadaran ini, kebutuhan menambah amalan akan digegas dan berkelanjutan. Rasanya selalu belum dan belum terus. Tidak akan mudah ngeles “sudah” dan mengandalkan seuprit amalan bila diingatkan tentang keakhiratan.

Lalu kewajiban mencari ilmu, perintah ini juga wajib dipatuhi. Ilmu manfaat, ilmu syariat-thariqat-makrifat-hakikat, dan ilmu tentang teknologi akhirat. Ada banyak ilmu Allah yang belum terkupas. Sementara kemampuan manusia sangat terbatas.

Untuk itulah Allah menyarankan manusia belajar selamanya. Bagi muslimah/muslim, Rasulullah sudah mewanti-wanti “kewajiban belajar dari bayi hingga mati”. Allah berpesan dalam Al Quran, “kalau tinta diambil dari lautan, dan pena ditoreh dari pepohonan”, tidak akan habis ilmuNYA ditulis.

Tetapi, adakah manusia yang mau mengikuti perintah itu? Rasanya belum. Sering dan biasanya, kewajiban belajar setiap pribadi berhenti ketika masuk jenjang berkeluarga. Para santri saat jadi alumni, biasanya enggan membuka pustaka lagi. Kaum cendekia maunya memberi pengajian, ogah mendengarkan peringatan.

Sindrom ini membudaya karena di benaknya tertanam rasa “sudah” dan “sudah”. Sudah alim berpenampilan, sudah cukup belajar, sudah penuh amal, sudah ahli kitab suci, dst.

Padahal Ibrahim a.s. terus berpindah-pindah membawa keluarganya untuk beramal dan berilmu. Padahal Rasulullah Muhammad SAW mewartakan konsep pembelajaran berkelanjutan. Padahal Rasulullah Isa a.s sepanjang hidupnya dihabiskan untuk berjalan memberikan amal pelayanan. Padahal Rasulullah Musa a.s bertekad berjalan bertahun-tahun untuk mencari ilmu Khidr, menunaikan perintah Tuhan.

Jadi kalau kita nekad istirahat dari mencari ilmu dan berhenti beramal ukhrowi-duniawi, laku itu merujuk teladannya Rasul siapa???

Rugi jika kita bilang sudah, padahal kesempatan mencari masih ada, masa hidup belum ditutup. Belum layak jika untuk kebutuhan akhirat selamanya, kita cuma mempersiapkan bekal seadanya, belum sebanyak yang kita habiskan di dunia. Masih banyak ilmu Allah yang berserak di bumi ini, belum kita amalkan dan belum kita jelajahi. Terpenting, kebutuhan akhirat sangat belum cukup kita penuhi dengan hitung-hitungan sederhana tadi.

Ajakan saya kepada pribadi dan setiap keluarga pembaca Lentera, janganlah bilang sudah perihal amal. Sebaiknya, katakan “belum” untuk jihad mempersiapkan hidup di akhirat. Dengan demikian, ikhtiar kita untuk berdoa, belajar, dan bekerja akan terus menyala semangatnya.

Untuk beramal dan berilmu, afdolnya belum purna ketika berkeluarga, tidak puas ketika merasa “sudah” lunas, tidak mereda setelah jadi cendekia, tidak berhenti di alumi santri, belum saatnya istirahat hanya karena dipanggil “Ustadz”.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s