Alasan Penolakan Salah Kaprah

Seperti sudah menjadi kebiasaan manusia saat mendapatkan peringatan ayat Allah yang sekiranya sedikit terasa sulit dan mereka enggan melaksanakan, walaupun ayat itu mutlak benarnya, maka akan ada saja ucapan bantahan beralasan penolakan.

Satu diantaranya yang umum terdengar, “diarani menungso getihe isih abang, koyok opo anggere mesti ora biso wae” (namanya juga manusia yang berdarah merah, bagaimanapun juga tak bakal bisa melaksanakannya).

Jawaban bagi alasan tersebut bisa diuraikan sederhana seperti ini. Belum pernah ditemui seorangpun manusia berdarah hijau, hitam, biru, kuning, dan warna lainnya selain merah. Karena memang manusia diciptakan dengan darah berwarna merah.

Maka sudah sepatutnya semua ayat Allah menjadi domain manusia untuk mengurusnya. Kalau perintah ya afdolnya dilaksanakan. Jika larangan ya sebaiknya ditinggalkan.

Kalau manusia selalu mengatakan tidak bisa melaksanakan perintah Allah, lalu patutkah bila pelaksana perintah itu sebangsa binatang melata? Tidakkah manusia akan kehilangan derajat kemulyaannya? Sedang kewajiban melaksanakan perintah itu sebenarnya diberikan kepada manusia.

Maka, jika alasan penolakan itu tetap dibiasakan, seolah sama saja berkata, “Bagaimana saja yang disebut manusia, tetap tidak akan bisa melaksanakan perintah Tuhan, kecuali hewan.”

Alasan penolakan lain yang juga sering muncul biasanya permisif, memaklumi kemalasan diri. Seperti misalnya, “wah itu ayat kejeron (terlalu dalam)”, “ngaji ilmu saya belum sampai ke sana”, “maqam saya tidak akan bisa menjajaginya” dan seterusnya.

Dengan beralasan semacam ini, kehendak untuk mau maju dihalangi apologi mengasihani diri. Rasa malas dikemas manis dan retoris dalam ranah logika manusia. Seolah alasannya betul iya, tapi sesungguhnya keliru kaprah.

Pada level kecendekiaan yang lebih tinggi lagi, ucapan penolakan atas perintah/larangan Tuhan, kian berasa logika “seolah benarnya”. Jika bantahan di atas sering muncul dari kalangan menengah ke bawah, maka alasan berikut biasanya keluar dari ucapan kasta pemuka agama.

“Amalan itu hanya bisa dilakukan oleh orang khos (istimewa, senior, sepuh, khusus), bukan untuk kita ‘aam” (umum, awam, biasa, jelata). “Lha mereka itu kan Rasul, kita kan manusia biasa, jelas tidak bisa mengikutinya.” Alasan lainnya, “Itu derajat sahabat Nabi, kita pasti sulit melakoni.” dst.

Alasan sekalimat itu biasa dimunculkan saat mendengar amal keteladanan para utusan atau hikayat sahabat yang sekiranya terasa berat. Padahal jelas dimengerti oleh mereka, keberadaan utusan adalah untuk diikuti diteladani.

Mereka hafal petikan dalil “Rosulillaah uswatun hasanah” yang berarti perilaku Rasululullah wajib diamalkan, terutama bagi yang percaya pengutusannya. Mereka juga tahu, Rasul itu berfisik manusia biasa, sehingga teladan dan keberadaannya di dunia adalah untuk diikuti manusia biasa –tanpa melihat derajat kasta sosialnya.

Nah, jika bantahan penolakan lewat dikotomi “khos vs ‘aam” ini terus ditindaklanjuti, bukankah sama saja dengan amalan kemunafikan?

Satu sisi mengaku beriman Nabi, tapi praktiknya malah sering membantah? Bibirnya mengucapkan syahadat lisan “tunduk patuh perintah Tuhan”, tapi lirik hati dan gerakan badan menunjukkan itikad pengingkaran.

Sebagai pengingat, ciri sifat munafik diantaranya adalah ketidakcocokan antara pengakuan omongan dan pembuktian perbuatan.

Ternyata kebiasaan membantah salah kaprah manusia itu sudah dituliskan dalam Al Quran, “Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.” (QS. 14 : 4).

Di ayat lain, Allah berfirman, Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalahmakhluk yang paling banyak membantah.” (QS. 18 : 54).

Sebenarnya Allah telah memberi jatah dan kesempatan kepada manusia untuk belajar berikhtiar menjalani laku benar. Pengutusan Rasul yang lahir dari biologis basyar manusia biasa, memberikan pelajaran bahwa kita sebetulnya mampu meniru teladan baik beliau-beliau itu.

Itulah esensi hikmah dari kutipan pesan “Rosulillaah uswatun hasanah”. Bahwa Rasul ditugaskan Allah untuk membimbing manusia (dari segala kasta), mengikuti ajaran dan semua contoh perbuatannya.

Kesimpulannya, seluruh firman Allah dalam Al Quran yang diejawantah melalui teladan ucapan-pikiran-tindakan para utusan, sebenarnya dijatah untuk manusia.

Ayat-ayat perintah maupun larangan Al Quran dikhususkan untuk merapikan akhlak dan budi pekerti kita semua. Teladan para Rasul dan sahabatnya, itu untuk manusia. Jadi, sudah layak jika kita tinggal mengamalkan saja, tanpa banyak bantahan dan atau alasan penolakan.

Kalaupun ada alasan penolakan, logika pembantahan akibat keliru kaprah mengepaskan penafsiran, dan alibi kemalasan diri, waspadai itu semua sebagai bisikan skenario setan.

Sudah kodratnya setan berupaya memeloroti manusia dari ketinggian derajat mulya. Setan tidak rela jika sejarah hidup manusia sukses mencapai ampunan dan ridhoNYA.

Maka dengan berbagai cara, setan akan membuat jebakan supaya manusia ikut gagal sengsara bersamanya di neraka. Salah satu upaya setan adalah menggembosi semangat manusia yang berusaha taat kepada Allah, mengamalkan Al Quran dan meneladani perbuatan para utusan dengan bantahan bermacam-macam alasan penolakan.

Untuk itu, waspadalah. Supaya selamat bersama RasulNYA, segera laksanakan perintah dan jangan banyak membantah.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s