Sabda Pandita Sima

Kolom Lentera, Surabaya Post, Kamis (09/02/2012)

Kalingga adalah legenda Indonesia. Sebagian sejarahwan meyakini keberadaannya pernah bercokol di daerah Jawa Tengah. Beberapa bukti situs dan jejak artefak berhasil dilacak. Kalingga dikenal dunia sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai kebenaran dan keadilan.

Masyarakatnya jujur, taat hukum dan menghormati hak hidup sesama manusia. Menurut legenda, ideal tata negara dan pemerintahan Kalingga dikelola seorang ratu tegas berwibawa nan bijaksana bernama Sima.

Diantara cerita yang mempopulerkan Sima adalah konsistensinya menegakkan keadilan. Alkisah, pada satu masa, Ratu Sima ingin menguji perilaku rakyatnya. Ia pun meletakkan sebungkus benda berharga di perempatan jalan yang ramai dilalui lalu lalang orang.

Ratu berfatwa, siapa saja yang mengambil atau menyentuh bungkusan itu akan dihukumi sebagai pencuri. Beberapa lama bungkusan itu digeletakkan, tak satupun rakyat berani menyentuh. Mereka sadar, barang berharga itu bukan miliknya, sehingga menyentuh dan bernafsu memiliki berarti mencuri.

Cerita berakhir antiklimaks ketika didapati putera Sima sendiri yang mengambil bungkusan itu. Namun karena berprinsip Sabda Pandita Ratu yang telah dititah, ia tetap perintahkan hakim untuk mengadili puteranya.

Calon pewaris mahkota Kalingga itu akhirnya dihukum potong tangan sebagai akibat tindakan pencurian. Versi cerita lain menyebut, kaki sang pangeranlah yang dipotong karena terbukti menyentuh barang berharga tersebut.

Sima dan puteranya pernah jadi legenda di wilayah nusantara yang kini menjelma Indonesia. Mereka mengatur negara dengan sabda pandita yang berasas kemanusiaan dan keadilan. Asas hukum dijunjung tinggi dan tegas, mengena pada siapa saja, tak terkecuali jika melibat keluarga atau bahkan kerabat istana.

Hubungan rakyat dan ratu berproses saling menghormati. Negara pun berkondisi stabil menjalankan roda pembangunan dan pemerintahan.

Selain berposisi ratu, Sima juga kepala keluarga bagi puteranya. Ia bisa saja berdalih kasih sayang lalu berupaya membebaskan sang pangeran. Kekayaannya bisa dengan mudah menyewa pembela. Kekuasaannya mampu menumpulkan palu hakim.

Sebagai raja, ia pun punya hak prerogratif mengampuni sang putera yang sekaligus rakyatnya. Tapi demi konsistensi penegakan keadilan, Sima bergeming pada sabdanya, “Kalingga berfilosofi negarakertagama”, siapapun yang melanggar norma harus dihukum seadil-adilnya.” Ratu Sima berani menghukum anaknya.

Babad Ratu Sima seyogyanya mengilhami keluarga Indonesia, bahwa keadilan dan supremasi hukum tak bisa dipandang sebelah mata. Betapapun kecil atau ringan nilai sebuah pelanggaran harus tetap dihakimi secara adil dan tegas sesuai hukum yang berlaku saat itu.

Pada kasus putera Sima, hukum bisa saja dipermainkan dengan dikenakan denda penggantian “barang temuan”, pasal “tindak pidana ringan” atau kompromi non litigasi yang dikemas “lebih manusiawi”. Tapi demi ridho ilahi dan menjaga tradisi wahyu langit, hukum di bumi harus tetap ditegakkan.

Ratu Sima legenda Indonesia, Pada hikayatnya, pernah terekam contoh ketegasan dalam membuktikan kebenaran. Ratu konsisten percaya bahwa “Sabda Pandita” harus dijaga kelurusannya.

Sima meyakini ucapannya adalah “idu geni” sakti yang jika tidak dialiri energi ilahi dan kekuatan kebenaran, maka bisa meniupkan panas api kebakaran. Rakyatnya akan kehilangan kepercayaan terhadap pimpinan dan restu “wahyu keprabon” akan terhenti dari penguasa langit bumi.

Itulah hakikat pemerintahan ratu adil, jelmaan pancasila purba. Pemimpin menjadi pengayom kemanusiaan sekaligus timbangan keadilan yang dapat diandalkan. “Syariat” hukum Sima terbukti mampu menjaga harmoni rakyatnya sekaligus mencatatkan prestasi keadilan Kalingga di babad legenda nusantara.

Bagi Muslim/Muslimah, saya yakin sampeyan semua tahu atau pernah membaca sabda Rasulullah Muhammad, yang secara tidak langsung berkait histori Sima ini.

Rasulullah bersabda, beliau sendiri yang akan memotong tangan Fatimah r.a, apabila di kemudian hari sang puteri terbukti mencuri. Pada hadis ini, Muslim/Muslimah diajarkan bahwa penegakan hukum dan keadilan adalah tradisi kaum beriman.

Rasulullah meneladankan bahwa praktik laku taqwa seorang hamba pada TuhanNYA ialah dengan berbuat adil dan menjunjung hukum syariat.

Alangkah afdolnya jika pemuka agama, pemimpin manusia, ratu negara, raja bangsa dan terutama kepala keluarga di seluruh Indonesia meniru legenda baik itu. Bagi orang Indonesia, baiknya meniru ketegasan Sima. Jika Muslim idealnya mengikuti teladan syariat Muhammad.

Kebetulan Rasulullah Muhammad maupun Sima cukup familiar di belantara cerita keluarga Indonesia. Jadi, sangat layak kisah keduanya mampu mengilhami perubahan positif di negeri ini.

Mari mulai dari level keluarga saja jika belum mampu di tingkat negara. Belajar dari pengalaman sederhana dan kecil.

Misalnya pada saat menemukan barang di jalan, adakah niat mengembalikan kepada si empunya? Apakah ingin menyentuh sebentar lalu meminggirkan? Maukah berepot-repot mengumumkan di siaran pemberitaan? Ataukah malah enak saja mengambil, mengakui, dan menikmati seperti barang milik sendiri?

Lalu ketika ada keluarga yang tersangkut perkara dosa. Beranikah mengaku keliru dan meminta maaf? Jika terlibat pidana, apakah berani untuk tidak menyuap sana-sini, agar mendapat diskon harga penjara? Bila sudah terbukti bersalah, beranikah untuk tidak main mata dengan mafia hukum, hanya karena ingin terobsesi bebas?

Berani dipotong tangannya jika terbukti mencuri? Jika berani menerima itu, maka Anda sukses mengamalkan Sabda Pandita Sima dan tradisi keluarga Kalingga.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s