Daulah Dawud

Kolom Lentera, Surabaya Post, Kamis (02/02/2012)

“Bersabarlah atas apa yang mereka katakan; dan ingatlah akan hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sungguh dia sangat taat (kepada Allah). Sungguh, Kamilah yang menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) pada waktu petang dan pagi. Dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masing sangat taat (kepada Allah).” (QS. 38 : 17-19).

Kisah Dawud dalam Al Quran ditampilkan sebagai figur teladan yang memiliki kekuatan (dzal aidi) dan kekuasaan (mulkahu), selain tugas utama kerasulan.

Bagi pemercaya sekilas hikayatnya saja, sukses “Raja” Dawud adalah bendera kejayaan yang patut diperjuangkan. Jika dimodifikasi serampangan, ayat-ayat Dawud bisa jadi komoditi politisi yang berbasis bisnis waralaba agama.

Sebatas literasi yang saya mengerti, Dawud adalah seorang manusia penggembala diantara 25 nama yang dilantik sebagai Nabi dan RasulNYA. Selain ilham kisahnya saat mengalahkan Jalut, puasa Dawud adalah ritual sunnah yang familiar diamalkan keluarga saya dan keluarga Muslim lainnya.

Pada tulisan ini saya ingin mengurai keistimewaan “kerajaan” Dawud dari terawangan sederhana seorang manusia Indonesia.

Diceritakan, kekuasaan Dawud terdiri dari barisan gunung-gunung dan kawanan burung-burung. Kekuatannya dibangun dengan sila keEsaanNYA. Rakyat dan prajuritnya manusia biasa yang berprofesi penggembala.

Rakyat Nabi Dawud diajak memurnikan ketaatan dan ketasbihan hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kedudukan yang meninggikan derajat Dawud, adalah kenal dekat dengan Allah azza wa jalla. Kalimat tasbih, syukur dan doa adalah senjata utamanya. Dalam bekerja mengatur masyarakatnya, ia senantiasa belajar dan terus berdoa.

Tradisi kepemimpinannya disetir manajemen risalah ilahiah dan etika profetik. Pada proses daulahnya, automatisasi maqam makshum akan menyadarkan Dawud dari kekeliruan akibat konsekwensi basyar kodrat manusiawinya. Inilah aset kekayaan daulah berupa “hikmah” yang dimiliki Dawud, plus kebijaksanaan dalam mengelola perkara umatnya.

Dawud seorang pemimpin sekaligus pekerja bagi rakyatnya. Beliau berprofesi sebagai penggembala kambing. Diantara para penggembala yang beriman, ia disebut “Raja” karena kebijaksanaannya, ilmu hikmah dan jejak keberaniannya saat mengalahkan Jalut di masa lalu. Selain tentu karena tugasnya sebagai Rasulullah “menggembala manusia”.

Dawud mengembangkan tradisi kepemimpinan penggembala, sebagaimana sudah ditradisikan Rasul-RasulNYA. Dawud tidak mengenalkan dirinya sebagai Raja dengan istana kemewahan dan absolut kekuasaan. Makanya, sampai capek mencaripun, istana dan mahkota Dawud tak akan ditemukan di kuil Timur Tengah sana.

Karena kerajaannya adalah hikmah, kekuasaannya adalah poros tauhid, kekuatannya ialah bimbingan wahyu, dan kepemimpinannya ialah kerasulan. Tidak ada benda berharga, istana, mahkota mustika, atau kilauan permata yang diwariskan Dawud beserta keluarganya.

Rujukan terawangan itu bisa dilacak pada redaksi QS. 38 : 21-24, di mana Allah mengirim malaikat yang menyaru sebagai penggembala untuk menemui Dawud.

Ya, karena saat itu komunitas Daulah Dawud adalah masyarakat penggembala kambing, plus beliau sendiri mulanya adalah seorang penggembala, sehingga untuk memudahkan logika kepemimpinan dan pengambilan keputusan, Allah mengirimkan malaikat menyaru “penggembala”.

Ayat itu juga menggambarkan Khalifah Dawud sebagai pribadi cerdas yang segera sadar dosa ketika melakukan kesalahan. Inilah esensi maqam makshum, ketika seorang Rasulullah berbuat dosa, Allah langsung menegurnya sehingga kekeliruan Dawud tidak sampai berlarut-larut.

Pembelajaran buat Dawud dan para pemimpin, bahwa setiap manusia pasti pernah berdosa. Lewat ayat itu juga Allah mengajarkan, bahwa seorang pemimpin berani mengaku keliru dan melahirkan kesalahan, lalu meminta maaf dengan tangis sujud pertobatan.

Dawud dikaruniai kecerdasan iman dan kekuatan wahyu, sehingga atas pertolongan Allah, ia mampu mengalahkan bujukan ego nafsu “kuasa” yang ingin semena-mena terhadap pengikutnya. Hikmah Dawud mengilhami pelajaran, seorang pemimpin harus mengamalkan sila keadilan dan kemanusiaan.

(Allah berfirman), “Wahai Dawud, sesungguhnya engkai Kami jadikan khalifah di bumi, maka berilah keputusan diantara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sungguh, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS. 38 : 26).

Sumber Al Quran, setahu saya, tidak ada yang mengabarkan kisah penaklukan Dawud, tidak ada ceritanya Dawud mengakuisisi negeri lain. Daulah Dawud adalah masyarakat tauhid yang menjunjung perdamaian dan kekerabatan antar bangsa.

Sepenggal fragmen pertempurannya melawan Jalut, lebih dekat pada niat heroisme perjuangan pembebasan mengusir tiran dan kezaliman penjajahan. Persis perang kemerdekaan Indonesia melawan kolonialis Belanda dan teroris NICA-VOC nya.

Dawud berpasukan gunung, karena ia dilimpahi tugas mengkhalifahi bumi. Gunung adalah pasak keseimbangan yang menjaga stabilitas rotasi dan sunnatullah revolusi bumi. Dawud berwirid bersama burung-burung. Seperti diketahui, burung melambangkan pewartaan dan kurir pembawa pesan.

Pemerintahan Dawud dikelola secara alamiah, ramah bumi, dan berwawasan keseimbangan lingkungan. Beliau berhasil mengamalkan pepatah “Raja Alim Raja Disembah”, sehingga manusia-gunung-burung, bersedia membantu tugas kerasulannya.

Media pemberitaan masyarakat Dawud senantiasa dikawani oleh senandung wirid burung yang memujiNYA, dikawal sikap waspada terhadap agitasi propaganda setan dan balanya, serta diyakini bertanggung-gugat dunia akhirat. Pola pengabaran pun berlangsung dialogis dan dinamis, tanpa jejak industri saling mengadali.

Demikianlah hikmah kisah Daulah Dawud. Sebuah ideal kerajaan surga yang didamba dan dicari banyak manusia. Seyakin saya, dengan Bismillaah, Indonesia mampu memilikinya. Sepengetahuan saya, gunung dan burung adalah ciri yang banyak ditemui pada alam flora fauna Indonesia. Inilah negeri ibu pertiwi, bangsa yang ramah nan gemah ripah dengan hasil bumi loh jinawi.

Masyarakatnya petani, pelaut, penggembala dan jelata biasa, tetapi memiliki keunggulan tradisi sebagai manusia yang “njawani”. Disinilah keterampilan pandai besi sangat dikenal dalam komunitas resi dan empu, keahlian yang sama juga dimiliki Dawud beserta rakyatnya. Daulah Dawud tidak berada di luar sana, tapi di sini.

Hampir semua syarat kejayaan Daulah Dawud bisa terwujud, jika saja kita semua rakyat Indonesia, mau kembali kepada Allah dan RasulNYA.

Mimpi khilafah seideal inilah yang perlu dibantu. Khilafah daulah yang bukan dijalani dengan perebutan kekuasan, politik penipuan, ambisi profan, perburuan kekayaan, waralaba agama, romantisme peradaban suku tertentu, dan klaim pembenaran sektarian.

Khilafah ideal harus seperti Daulah Dawud yang menyuburkan ketauhidan, kemanusiaan, keadilan sosial, persatuan bangsa, permusyarawatan, kerakyatan, hikmah kebijaksanaan, dan menjaga keberlanjutan lingkungan.

Tradisi Daulah Dawud bisa dimulai dari level terkecil keluarga. Jika berhasil, itu sudah karunia Allah yang luar biasa. Berangkat dari level kecil keluarga, semoga dengan pertolonganNYA, akan terkumpul kesadaran kolektif yang menular pada komunitas pemerintahan dan masyarakat seIndonesia.

Sejahteralah kita, unggul, adil, kuat, amanlah semua, dan segera Indonesia akan menjadi bintang mercusuar di arena kepemimpinan dunia. InsyaAllah.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s