Jahiliyah, De JaVu

Kolom Lentera, Surabaya Post, Kamis (25/1/2012)

Para muslim/muslimah tentu biasa mendengar penceramah atau juru khutbah mengawali mukaddimah dengan kalimat syukur dan sholawat. Pada ucapan sholawat kepada Rasulullah Muhammad SAW ini, jamak diiringi kalimat, “ Rasulullah yang telah membawa kita keluar dari zaman jahiliyah menuju zaman kebenaran”.

Menarik untuk tahu, apa yang dicirikan masyarakat Makkah saat itu sehingga sebutan zaman jahiliyah disematkan pada masa mereka.

Sebagaimana ditulis banyak sejarah, peradaban tempat kelahiran Rasulullah waktu itu, sudah tergolong maju. Masyarakatnya dikenal sebagai pebisnis dan eksportir yang mahir. Literasi sastrawi banyak digemari dan dipelajari. Kaum Quraisy yang didominasi kasta bangsawan, pujangga dan sosialita banyak mengisi ruang budaya.

Sepintas dari kacamata sosio-antropologi, masa itu masyarakat Arab dianggap cukup beradab, walau ciri tribal nan vandal melekati tradisi. Lalu kenapa ada sebutan zaman jahiliyah? Tentulah definisi jahiliyah ini versi Allah dan RasulNYA.

Masyarakat Arab saat itu berperadaban, tapi karena bertradisi pagan dan memberhalakan banyak tuhan, ini yang disebut Allah sebagai perilaku jahiliyah.

Kaum Quraisy memang pedagang ulung, tapi cara bisnisnya curang, misalnya mempermainkan timbangan, ini yang dikatakan Rasulullah sebagai budaya jahiliyah.

Orang Arab mungkin unggul di bidang sastra, budaya, dan sosialitanya. Tapi mereka terpecah dalam kabilah, melecehkan derajat wanita, mabuk, berjudi, murah zina, jual beli manusia, dan gampang perang. Itulah yang dimaknai Allah dan RasulNYA sebagai zaman kebodohan.

Di saat kemapanan nilai dan tradisi masyarakat umum berlaku saat itu, lahirlah Rasulullah Muhammad SAW. Beliau menjanjikan jalan pencerahan yang lebih bermasa depan.

Tetapi karena Rasulullah tergolong ummi, tidak bisa baca tulis, sehingga kaum Quraisy yang merasa unggul literasi selalu menolak dan mengingkari. Kabilah mayoritas Makkah merasa emoh diatur oleh Muhammad yang –di mata mereka– “bodoh”.

Rasulullah menawarkan teologi pembebasan, menyetarakan derajat kewanitaan, melarang perzinahan, mengharamkan mabuk-mabukan, menghapus perbudakan, menyerukan persatuan dan merukunkan kesukuan. Tetapi karena ini berlawanan dengan arus utama Arab saat itu, sehingga Rasulullah dianggap bodoh.

Sampai di sini, terndapat dua pengertian istilah “bodoh” atau zaman jahiliyah, yakni versi manusia umum dan versi Allah-Rasulullah.

Bodohnya manusia dicirikan dengan pengetahuan yang didominasi para ahli cendekia dan sosialita, tapi produktifitas kerja serta akhlak mereka menistakan kemanusiaan.

Sastra dan budaya seolah berperadaban unggul manusia, tetapi ruhani dan zaman mereka dikuasai gelap sehingga tradisi hukum rimba menjadi biasa. Inilah pengertian “bodoh” atau zaman jahiliyah versi Allah Rasulullah.

Sebaliknya masyarakat saat itu justru merasa superior dan menganggap Rasulullah orang bodoh karena kurangnya pengetahuan keilmuan. Ditambah lagi pengikut Rasulullah yang mayoritas dari kaum ardzalun, rakyat kelas bawah, bekas budak, orang rendahan dan suku Arab pedalaman.

Jadi kian sombonglah kaum Quraisy mengklaim peradabannya sebagai zaman kemajuan, masa keunggulan dan era keemasan.

Rasululllah pandai dalam hal kebenaran, cerdas dalam perkara keimanan, cakap dalam menegakkan keadilan, ahli manajemen ilahiah dan kepemimpinan. Beliau sangat jago kebenaran, tapi beliau memiliki keterbatasan dalam baca tulis, sehingga masyarakat menganggap bodoh.

Sebaliknya umat saat itu unggul di literasi sastra, bisnis, dan budaya sosialita. Tetapi karena enggan menerima kebenaran dan ketauhidan, mereka dianggap oleh Allah dan Rasulullah sebagai orang bodoh. Quraisy Makkah mengaku pandai dalam pengetahuan, tapi di mata Allah-RasulNYA, mereka bodoh dalam perkara kebenaran dan keimanan.

Kemudian setelah ribuan tahun lepas berlalu dari zaman kebodohan itu, tibalah saat ini, zaman ketika Rasulullah sudah tidak lagi menyalakan obor penerangnya.

Jika cerdik mengamati, sesungguhnya zaman ini identik dengan peradaban kegelapan dan masa kebodohan sebagaimana awal Rasulullah Muhammad ditugaskan. Bila kecerdasan iman kita bekerja, maka kita akan dapat melihat, abad inilah puncak dari zamah jahiliyah.

Pengetahuan melimpah, konvergensi teknologi terus maju dan berubah, orang pandai mewabah, tetapi harkat kemanusiaan justru terabaikan.

Nilai ketauhidan bergerak mundur, diganti “tuhan” kesibukan profan dan kompetisi menumpuk materi. Agama dijadikan aksesori dan komoditi, nafsu setan dan ambisi duniawi jadi pengendali.

Hasilnya: budaya mabuk, tradisi zina, hobi judi, gemar perang, budaya fitnah, koleksi ghibah, korupsi, mementingkan pribadi, mengaku benar sendiri, jual beli manusia, pornografi, pelecehan kewanitaan, hukum rimba dan kejahatan kemanusiaan dibiasakan.

Sejarah jahiliyah berlaku de javu. Jargon propaganda kemajuan digegas dalam pentas “era tinggal landas”, tapi nilai ketauhidan, kebenaran, kemanusiaan dan keadilan justru ditinggal kandas.

Ilmu pengetahuan memungkinkan akhlak dunia saling bersua, berbagi dan bersalaman, tapi kebodohan manusia malah memanfaatkannya sebagai adu ego kesombongan, peperangan dan palagan pamer kekuasaan.

Zaman kebodohan kini kembali menguasai lagi. Soko guru kebangsaan dibinasakan. Musuh setan yang mestinya diwaspadai, malah diakrabi, dijadikan teman seperjuangan.

Allah dan firman Al Quran sebagai sumber informasi kebenaran ditinggalkan, media dan isu “katanya” dipercaya sebagai satu-satunya rujukan berita. Teknologi sebenarnya bisa membantu melogikan fakta kehidupan ukhrowi, tetapi malah disalah gunakan untuk memperakus kepentingan duniawi.

Nampaknya, para penceramah dan juru khutbah, kini perlu mengoreksi lagi mukaddimah yang biasa diucapkannya.

Mungkin, sebagai niatan doa dan ikhtiar, harus diucapkan salam penyemangatan di setiap akhiran khutbah “selamat mencari jalan pencerahan di tengah wabah zaman jahiliyah yang kini telah mengulangi sejarah.” Hasbunallaah.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s