Etika Berkendara & “Ketua Besar” Kita

Kolom Lentera, Surabaya Post, Kamis (19/1/2012)

Selama empat tahun kuliah di Stikosa-AWS, hampir setiap hari saya selalu pergi pulang Surabaya-Lamongan (mbajak) menunggangi sepeda motor. Pilihan pergi pulang, tidak indekos, saya ambil karena tugas mengajar di madrasah dan tugas kesekretariatan pesantren yang menyita hari full sepekan.

Kenangan Pos Polantas Tugu Pahlawan. Saya pernah bermotor dan terpeleset jatuh di sini, lalu ditolong oleh Pak Polisi yang ramah plus baik hati.

Saya suka menaiki kuda besi karena relatif lebih murah diongkos, lebih cepat, dan lebih leluasa bermanuver saat macet menjepit atau kondisi jalan rusak.

Kecepatan rata-rata jarum speedometer motor saya bergeser diantara angka 60-70km/jam. Karena biasanya saya berangkat bakda sholat ashar sekira jam 16.30 dan harus mengikuti kuliah mulai pukul 18.30.

Waktu tempuh standar Lamongan-Surabaya, sering saya jalani dalam 2 jam. Sebagaimana normal pengalaman penggguna jalan, beberapa kali motor saya  terlibat kecelakaan, walau sudah saya ikhtiari hati-hati.

Diantaranya paling fatal saat motor saya dipotong oleh pemotor yang menyalip lalu belok mendadak tanpa lampu sein di tikungan dekat pabrik sandal, Giri, Gresik. Saya sampai nyungsep ke selokan setelah sebelumnya badan membentur jembatan.

Alhamdulillah meski terluka dan sangat trauma, juga kondisi motor rusak berat, Allah menjaga saya tetap sehat. Sampai saat ini, saya masih lebih memilih bermotor bila pergi ke Surabaya.

Persiapan tur de'fixie

Rabu kemarin (18/1), saya nekat gowes memancal sepeda dari Surabaya ke Lamongan. Selain ingin berolahraga, saya ingin merasakan pengalaman seorang pengendara yang paling lemah posisinya di jalan raya: pengayuh sepeda.

Berangkat dari Tugu Pahlawan sekira pukul 3 sore, saya tiba di rumah pukul 10 malam. Sejak Terminal Osowilangun, hujan mengguyur sepanjang jalan hingga ke Lamongan. Saya sempat singgah di Masjid Agung Gresik untuk istirahat dan sholat.

Rekor “tidak enak” yang saya catat, tiga kali kaki menggores trotoar karena dipepet truk di Bunder Gresik; dua kali tersungkur di bahu jalan dan kehilangan ponsel Android di Ambeng-Ambeng, Gresik, karena diklakson kencang-kencang dan panjang oleh supir truk; beberapa kali diciprati air genangan jalan; dan sekali dipisuhi kernet bis karena saya bertahan tidak turun ke bahu jalan.

Pasang lampu depan untuk kenyamanan dan keamanan gowes malam

Khusus terakhir ini, saya sudah tidak mungkin lagi mengalah, karena bahu jalan sangat sempit, sedikit minggir lagi sudah tepi kali, sehingga saya harus naik ke jalan aspal.

Bila di sepanjang rute dalam kota Surabaya Gresik, saya takut diseruduk pemotor yang ngebut zig-zag, maka di jalur luar kota Gresik-Lamongan, mobil, truk dan bis besar adalah “penguasa jalan” yang paling saya kuatirkan.

Beberapa kali saya terpaksa berhenti, memberi waktu mereka berlalu, menunggu jalan betul-betul sepi dan baru berani jalan lagi.

Bersiap suguhkan laporan pandang mata para penyepeda

Pengalaman yang saya dapatkan mungkin berbeda dengan pemancal sepeda lainnya. Tapi ada satu hal yang mungkin pembaca sepakat dengan saya, yakni miskinnya etika para pengguna jalan raya.

Di sini, seolah berlaku hukum tak bertuan, disiplin ala “kantor jalanan”, dan kesepakatan wong embongan. Siapa besar dia menang, yang kecil kudu minggir. Kata pepatah Jawa, “asu gede menang kerahe”.

Santun berkendara? Oh, lupakan saja. Semua berlomba tergesa seperti diburu waktu hingga kehilangan budi perasaan.

Ciri yang mudah kita temui: klakson bergantian mengagetkan, salip-salipan, potong serobotan, melanggar marka jalan, lomba pisuh makian, pandang mata berpelototan, dan pedal gas dibleyer-bleyer keras bila ada sedikit kendala.

Rambu jalan hanya berfungsi hiasan dan petugas pengatur lalu lintas tidak kuasa mengendali nafsu pengendara.

Dalam 7 jam petualangan menunggangi fixie ini, saya seperti diilhami bahwa sebutan “ketua besar” layak disematkan pada pengendara mobil dan motor. Sementara pemancal sepeda adalah anggota yang terabaikan nasibnya dan dizalimi haknya.

Walau sama-sama bayar pajak dan berhak menggunakan jalan, “ketua besar” seolah berlomba mencepit anggotanya, menggeser keberadaan para jelata aspal raya. Jika perlu, “ketua besar” akan mengorbankan hidup anggotanya, demi kelapangan jalan yang “ketua besar” ambisikan. Di jalanan kita, pengendara sepeda belum mendapatkan hak selayaknya.

Saya kemudian menginsyafi, mungkin saat sering mengendarai motor dulu, acuh saja saya menyalip dan mengabaikan para pemancal sepeda.

Begitupun ketika menyetir mobil, saya mungkin sering meminggirkan nasib para pemotor, mendahulukan kepentingan dan perjalanan saya, tanpa memikirkan “ketidakenakan” mereka.

Secara tidak sadar, saya juga pernah melakoni “ketua besar” dengan perilaku berkendara yang saya gesa. Pada saat menaiki mobil dan motor itu, saya meremehkan pengendara yang lebih lemah serta melupakan peringatan Tuhan di ayat 18 surat Luqman, “wa laa tamsyi fil ardli marohan” (janganlah kalian berjalan di muka bumi dengan laku kesombongan).

Keinsyafan ini yang kemarin selama menggowes sepeda, saya jadikan pelajaran untuk belajar tidak marah dan mengeluh ketika diciderai pengendara, walau sempat kecolongan provokasi setan, nggerundel memaki dalam hati.

Senyuman hiburan perlindungan Polantas Lamongan

Alhamdulillaah, saya juga mendapatkan pelajaran baik untuk otokritik. Selama ini kita, pengguna jalan raya, beropini polisi adalah hantu jalan raya yang suka memalak seenaknya. Tapi saat bersepeda kemarin, tiga kali saya menemui polisi berpekerti, di tengah acuhnya para pengendara.

Pertama saya dibantu menyeberang jalan di pertigaan Tandes yang sesak riuh. Kedua, saya menyaksikan polisi turun berbasah-basah ke dalam sungai di tepi jalan Nginjen-Pandanan, mencari korban kecelakaan tunggal seorang pemotor. Ketiga, saya disambut polisi dengan senyuman dan mempersilakan bernaung dari hujan di pos polantas Deket, Lamongan.

Kembali saya dan kita semua disadarkan pengajaran Al Quran, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) (Al Hujurot : 11).

Pada renungan ayat ini, lewat perjalanan 7 jam bersepeda dan dari peristiwa polisi penolong tadi, saya mengajak pembaca Lentera semua untuk kembali dan lebih sering-sering lagi: refleksi diri dan tidak mudah menyalahkan liyan.

Kebiasaan kita berperilaku di jalan raya, sesungguhnya mencerminkan peradaban kemanusiaan yang sedang kita sejarahkan. Mari mengakui, bahwa tanpa sadar, perilaku “ketua besar” sering kita lakoni.

Lesehan menikmati Sego Boran, sekaligus meredakan sekujur badan plus kedua kaki yang kesakitan

Tak perlu jauh-jauh menyalahkan pemerintah yang konon suka mengebiri hak rakyatnya. Karena saat kita ngawur dan berangasan berkendara, sama saja dengan mereka para penguasa yang sering kita rasan-rasani di media. Bedanya, mereka berkuasa di jalur trias politica, kita berkuasa di sepanjang jalan raya.

Pengendara yang suka memaki polisi sebagai “biang keladi korupsi”, sebaiknya meralat ucapannya kembali. Karena pada perjalanan saya kemarin, ternyata kiprah polisi lebih beradab manusiawi. Mereka mampu menyediakan perlindungan dan penghormatan atas hak penyepeda secara selayaknya.

Menyeberang pulang di Karang Langit yang terang

Justru saya mendapati kebanyakan pengendara yang “korupsi jalan raya”, menggusur hak para penyepeda. Mereka pemotor dan pemobil seolah mesin robot tanpa jiwa, yang acuh saja menikmati jalan kekuasaan “ketua besar”nya.

Saat kemarin bersepedapun, saya diingatkan, bahwa ada rumput-rumput, gegeremetan sebangsa semut, yang harus dihormati dan kita mintai permisi. Karena kita adalah khalifah penjaga bumi yang harus bisa menjaga perasaan warga sejelata semut, rumput dan kawanannya.

Sekali saya atau kita semua bersepeda gagah-gagahan, menginjak, melibas, menabrak mereka tanpa ampun, maka sama saja kita meraja dan menyombongi makhluk-mahkluk kecil nan lemah itu. Sama saja kita berlaku sebagai “ketua besar” yang dholim mengorbankan rakyatnya.

Alhamdulillaah berkisah fixie indah bersama keluarga di rumah

Pembaca, jika belum bisa mencoba bersepeda seperti saya, belajar merasakan renungan dan pengalaman para jelata di jalan raya, maka cukuplah kita bersantun sopan saat bermotor/bermobil di jalan.

Syukur jika kita mau patuh rambu-rambu, disiplin antri, berwirid Bismillah sepanjang perjalanan agar diselamatkan dan dilancarkan Tuhan.

Terpenting, supaya kita terhindar dari sindrom “ketua besar” dan supaya kita bisa membuktikan perilaku manusia beragama saat berkendara di jalan raya.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di Adhimlaku2. Tandai permalink.

2 Balasan ke Etika Berkendara & “Ketua Besar” Kita

  1. Narasi yang menarik.. ^_^

  2. Ping balik: Etika Berkendara & “Ketua Besar” Kita | Komunitas Penulis Perubahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s