Kisah Kakus

Kolom Lentera, Surabaya Post, Kamis (12/1)

Bangunan itu tetap awet seperti dulu. Terletak di paviliun rumah kami, setiap hari ia selalu mengakrabi saya sekeluarga. Pintunya berkelir hijau muda. Penerang bohlam yang temaram mempertegas romansa lama dari ciri fisik bangunan ini. Tata interiornya mengingatkan saya semasa masih sering didampingi kedua orang tua.

Ada tiga bilik yang memisah bangunan ini menjadi dua fungsi, 2 kamar mandi dan 1 kakus. Di dalam ruangan BAB inilah, saya sering mengilhami diri untuk hidup andap asor, belajar siap diremehkan, tidak larut tersirap puji dan latihan berpekerti wirai.

Alkisah, setiap jongkok di atas kloset tua itu, konsentrasi saya terbagi antara menahan napas dan secepatnya melepas beban usus. Sebisanya saya berusaha menutup hidung, apalagi ketika terdengar suara ‘plung’, tanda tinja menepuk seraup air di kloset.

Sungguh, bau khas itu tetap saja tidak enak, meski saya sudah membiasakannya sejak anak-anak.

Lalu seiring keluarnya ‘si kuning’, bayangan sombong dan jumawa yang kerap menepuk dada –apalagi saat dihadiahi sanjung puji–, langsung lenyap.

Kesadaran saya seketika dibenturkan fakta dari sisi manusiawi yang saya jalani. Betapa keluaran olahan dari laku metabolisme itu, menampilkan hakikat pementasan badan yang secara jasmani ternyata hanya berisi (maaf) tahi.

Pada lain lakon, tersebutlah Abah Salim, tetangga sebelah rumah yang juga rajin nyantri bersama saya di pondok pesantren SPMAA. Sebagai santri yang dituakan, nasihat beliau sering saya diskusikan bersama santri-santri pemula. Diantara nasihat Abah Salim yang paling saya favoritkan adalah tentang dongengan ‘Kakus Berjalan’.

Kisah itu membelajarkan saya –dan kami para santri–, bahwa sifat sombong dan riya’ (pamrih) sangat tak pantas kita unggulkan. Karena ciri ragawi kita membuktikan banyaknya kotoran dan produk pencernaan yang lumayan menjijikkan.

Melalui lubang kuping, hidung, mata, mulut, anus, kulit dan kemaluan, kita dapat melihat seonggok tubuh kita yang hina.

Dari yang berwujud gas, cairan, butiran, gel maupun onggokan, semua menimbulkan bau yang mengganggu. Dijamin, tiada yang enak rasanya, tidak ada satupun yang menggugah selera kita untuk mencoba menikmatinya.

Selengkapnya nasihat Abah Salim berbunyi begini, “Sampeyan semua ini jangan suka bangga-banggaan dengan panggilan kesantrian. Walau sampeyan alim, pinter ngaji, ahli kitab, setiap hari ngibadah, walau sampeyan Gus, sejatinya sampeyan cuma kakus.”

“Kalau tidak percaya, silakan dibedah dan lihatlah isi jerohan sampeyan. Bukankah isinya kotoran semua?? lalu kalau isi badan seperti ingus, darah, upil, congek, ludah, belek, dahak, daki, tahi, air seni, semua dikumpulkan, bukankah sampeyan ini seonggokan kakus berjalan?,” kata si Abah.

Sampai hari ini renungan kloset dan kisah “Kakus Berjalan” dari Abah Salim itu, selalu saya jadikan sarapan kerohanian. Terutama ketika dihadapkan pada posisi ketinggian, jabatan kedudukan, situasi kebanggaan, dan godaan kesemena-menaan.

Kisah kakus itu seolah mampu membingkas nafsu sombong saya dan mengembalikan fitrah asli manusia bumi: jelata tiada daya, hanya dicipta dari “kotoran” air sperma yang wujudnya tidak menyedapkan mata.

Harapan saya, Anda semua keluarga pembaca Lentera, turut mau memaknainya.

Ketika kita semua merasa berhak mendapatkan pujian, ketika kita enggan diremehkan, ketika hendak meluapkan kemarahan, ketika mau meremehkan orang rendahan, ketika bernafsu melampiaskan jabatan, ketika kita bersiap mempertahankan kekuasaan, ketika kita memperebutkan kebanggan, sadarlah sesungguhnya kita hakikatnya cuma seisi kakus yang hina.

Apapun atribut sosial yang kita bekal, sadar atau tidak, faktanya kita ini hanya sekumpulan kotoran berbalut keindahan kulit badan. Kita, sejatinya penampilan kakus berjalan.

Kisah kakus itu akan membawa kita lebih menghormati sesama manusia, dari manapun mereka asalnya, apapun status sosial mereka. Kisah kakus itu juga akan mengilhami sifat rendah hati, mental kita siap diremehkan, tak mudah terpancing provokasi dan agitasi murahan.

Selanjutnya ketidaksempurnaan bentuk “kakus berjalan” yang kita bawa, akan melahirkan ritus kebaikan, ikhtiar pertobatan dam penyempurnaan amalan yang terus menerus, sampai kita dipanggil olehNYA.

Kita tidak akan puas lalu berhenti saat merasa “sudah baik”, tapi akan berusaha berubah demi menggapai derajat kemulyaan sebagaimana yang Allah maksudkan.

Hikmah kisah “kakus berjalan” juga akan membawa kita pada kesatuan pikiran, “Kita sama jelata di hadapanNYA”. Tidak boleh ada yang sombong dan jumawa: merasa berhak menyamai kekuasaanNYA.

Menurut saya, itulah prioritas perbaikan ‘kakus’ yang selekasnya kita urus. Segera, murah, dan semua insyaAllah bisa memulainya tanpa banyak bicara. Tidak perlu boros ongkos hingga bermilyar-milyar. Cukup dibiayai niat kuat berikhtiar sadar dan dilandasi semangat ingin berubah jadi “kakus” manusia yang benar.

Memperbaiki kualitas “kakus” diri ini lebih afdol dan mendesak daripada mempercantik kloset kakus yang masih layak dipijak. Kecuali kalau kita berniat menjadikan kakus itu ruang buang hajat sekaligus fasilitas penunjang syahwat, ya silakan saja.

Mudah-mudahan setelah ini, tidak ada pejabat tinggi yang membodoh-bodohkan rakyatnya, hanya karena mempertanyakan anggaran perbaikan kakus khusus. Sejujurnya, dalam batas logika saya, pertanyaan masyarakat itu cukup rasional di tengah himpitan kesulitan yang kini kita hadapi.

Saya yang bodoh ini pun akan bertanya, “untuk apa saja sih milyaran ongkos perbaikan yang dikeluarkan?”. Apalagi bila dibanding kakus di rumah saya, puluhan tahun dipakai oleh 10 bersaudara, sampai sekarang hanya beberapa kali ganti lampu dan pintu, cukup dengan biaya puluhan ribu.

Dari renungan kloset saya dan tambahan kisah ‘kakus berjalan’ Abah Salim, saya mengajak sampeyan semua, mari segera menundukkan kepala dan rajin membatin, “Sesama kakus berjalan, dilarang saling meremehkan.”

Semoga setelah ini, kita tidak saling sok-sokan dan merasa paling berlogika sedunia.

“Gusti Allah, ampuni kesombongan kami selama ini. Sadarkan kami bahwa fana badan yang sementara ini hanyalah ‘kakus berjalan’ dan sebentuk kehinaan.

Sehingga dengan ilham kesadaran itu, kami bisa kembali mukhlis merendahkan diri kepadaMU. Didiklah kami semua beribadah semata memujikan keunggulan dan kesempurnaan hanya untukMU.”

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

2 Balasan ke Kisah Kakus

  1. abdul rochim berkata:

    Tulisan yg sangat bagus Gus.. InsyaAllah bs jd penyejuk dan peyadar hati yg kerap congkak ini. Thanks. Ditunggu tulisan2 berikutnya.

    • GA berkata:

      Alhamdulillaah, jika tulisan ini mengilhami kecerdasan iman kita semua. Apakah ini mas Rochim alumni AWS dari Paciran – Lamongan, seangkatan saya 2001?. Terima kasih sudah mampir di lapak tulisan saya ini, ditunggu komentar perbaikan selanjutnya. Wassalaamu’alaikum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s