Resolusi Domain .id & Nasionalisme QWERTY

Kolom Telematika Detikinet, 3/1/2012
bisa juga dibaca di tautan http://bit.ly/tZTJAn

Jakarta – Situs Alexa secara berkala mendaftar top site dari seluruh dunia. Pembaruan dilakukan setiap hari, mungkin sebagai garansi keabsahan hasil pendataan.

Terkini posisi sepuluh besar dipuncaki Google, Facebook, YouTube, Yahoo!, Baidu, Wikipedia, Blogspot, Windows Live, Twitter dan Amazon. Sembilan di antara mereka berdomain [dot] com. Wikipedia satu-satunya yang berdomain [dot] org.

Dari sepuluh pemuncak itu, hanya Baidu milik China, situs yang bercitarasa lokal Asia. Sembilan sisanya berbasis di Amerika.

Tiga halaman berikutnya, urutan masih didominasi web luar negeri. Di halaman 3 inilah, pada nomor urut ke 72, nama Indonesia baru muncul dengan identitas domain [dot] id. Sayangnya, pemilik domain ini bukan netizen nusantara, tapi lagi-lagi, google.co.id, pebisnis industri maya mancanegara.

Bergeser ke domainworldwide.com, malah saya dapati nama Indonesia merambat di angka 184 dengan status rangking ‘still polling’.

Jujur, saya cemburu dengan capaian Baidu yang bisa meraih 5 besar Alexa. Gemas campur iri melihat Google mendominasi — sampai peringkat co.id di urutan 72 pun yang mestinya domain kita, diregistrasi atas nama mereka. Kian terusik rasa ke-Indonesiaan saya ketika domain worldwide menempatkan .id Indonesia di bawah Ethiopia dan Ghana.

Terlecut itu semua, rasanya masih relevan jika semangat nasionalisme kembali dikumandangkan. Di antara ikhtiar kecilnya, mari meniatkan resolusi 2012 ini sebagai pemasyarakatan domain [dot] id.

Mengelola potensi netizen pertiwi agar belajar bernalar mengindonesiakan Indonesia secara benar. Melalui [dot] id, nasionalisme digerakkan oleh ketukan jari di tetikus mini, papan ketik dan layar belasan inci. Ini aksi nasionalisme qwerty, sedikit ikhtiar pintar mengenalkan peradaban cyber Indonesia kepada dunia.

‘Belajarlah hingga ke Negeri China,’ begitu kata pesan bijaksana. Baidu berhasil menggeser dominasi Google sebagai piranti mesin pencari dengan memanfaatkan human wave yang tersedia. Potensi itu diperkuat kebijakan proteksi pemerintah untuk memperkuat industri domestik, stabilitas ekonomi sekaligus mempersempit dominasi kompetitor luar negeri.

Setidaknya dari rangking top site Alexa, Baidu telah membuka mata kita betapa efektifnya strategi mobilisasi netizen Negeri Tirai Bambu ini. Melalui Baidu, China secara jitu memproyeksikan limpahan penduduk sebagai aset vital pengembangan ekonomi lokal sekaligus propaganda nasionalisme kebangsaannya. Sayangnya di Alexa, Baidu kurang berasa China dengan luput menyematkan [dot] cn sebagai domainnya.

Memulai dengan yang Sederhana

Terilhami Baidu, saya optimistis satu hari nanti harus ada situs berdomain .id milik Indonesia yang bertahta di teras top site Alexa. Indonesia punya netizen human wave yang militansinya serupa China. Ditambah lagi, optimisme resolusi .id ini merujuk statistik yang dirilis APJII per 1 Juli 2010. Ternyata sudah 47,861 situs yang teregistrasi domain [dot] id.

Hingga akhir 2011 ini, registrasi yang dicatat PANDI sudah mencapai 58 ribu lebih. Tentu ini fakta pertumbuhan yang lumayan mensyukurkan. Kalau saja jumlah 58 ribu itu teregistrasi di domainworldwide.com, maka posisi .id sudah masuk urutan 38, di atas .co.il milik Israel.

Kini, seiring pertumbuhan pengguna internet Indonesia yang trend-nya terus naik, registrasi .id masih mungkin bertambah lagi. Hitungannya sederhana, saya dan setiap guru TIK di Indonesia mengedukasi siswa bikin hasta karya blog berdomain my.id atau web.id.

Lalu bekerjasama dengan guru bahasa, mengajak dan melatih siswa menulis pengalaman belajarnya di blog mereka. Biaya pembelian domain + sewa hosting senilai Rp 100-200 ribuan per tahun relatif terjangkau oleh sisihan uang jajan dan atau recehan jatah pulsa mereka saja. Mungkin dengan registrasi berombongan, harga bisa ditekan lewat paket bundelan.

Dari situ, sudah dapat dikira berapa pertambahan .id nantinya. Lewat blog, output materi TIK bisa ditampilkan hasilnya dan dibaca dunia. Literasi sastra siswa bisa diperkaya dan identitas nasional domain Indonesia kian mondial keberadaannya.

Tentu proyeksi .id ke depan bukan sekadar gagah-gagahan memuncaki top site Alexa atau domain worldwide saja. Ada sisi lain manfaat yang akan kita dapat.

Pertama segi ekonomi, karena domain .id dikelola bangsa sendiri maka perputaran rantai ekonomi akibat biaya penggunaan domain tentu juga akan berlangsung di dalam negeri seperti pajak sampai lapangan kerja baru yang dapat memberikan kesejahteraan.

Ketika .Id Meraksasa

Menurut M. Salahuddien (#FF @patakaid), seorang pegiat TIK Indonesia, semakin banyak nama domain berbasis .id digunakan maka tentu daya tarik dan nilai ekonominya semakin tinggi. Nantinya orang asing akan tertarik turut menggunakannya.

Ini keuntungan lain dari segi brand value misalnya google.co.id atau yahoo.co.id. Dua raksasa industri maya ini menunjukkan kepercayaan yang tinggi terhadap domain Indonesia khususnya atau internet kita pada umumnya.

Kedua, manfaat perkembangan konten lokal dan peradaban cyber. Banyaknya penggunaan domain .id juga bisa menjadi salah satu indikator semakin banyak konten lokal tumbuh dan seberapa besar kontribusi kandungan informasi Indonesia di ranah cyber.

Tentunya ini juga menjadi tolak ukur bagi keunggulan Indonesia dalam hal dominasi informasi. Pendeknya, kita menjadi produsen bukan cuma pemakai/konsumen. Semakin banyak kompilasi konten berarti makin besar sumbangan kepada dunia pengetahuan dan akhirnya terwujud peradaban agung berciri adiluhung Bhinneka Tunggal Indonesia.

Ketiga, menumbuhkan militansi kecintaan terhadap kreasi bangsa sendiri. Pararel dengan kampanye ‘Cintai Produk Indonesia’, penggunaan .id akan membuktikan kerukunan dan nasionalisme kita di dunia maya.

Meminjam kalimat Sigit Widodo, Ketua PANDI, “Seharusnya sebagai bangsa Indonesia harus bangga memakai akhiran domain .id dibandingkan domain lain. Ini seperti kita harus membela tim nasional sepakbola kita dibandingkan tim sepakbola dari luar negeri. Meskipun tim nasional kita sering kalah”.

Ya, menjadi ironis ketika korporasi luar negeri cerdik melihat potensi ekonomi Indonesia dengan berlomba-lomba registrasi .id sebagai strategi penetrasi pasar di sini, sementara kita sendiri (karena ketidaktahuan?) malah bangga tidak memakainya.

Lagi-lagi saya ingat relevansi petuah Ketua PANDI (#FF @sigitwid), “Memang kalau dilihat langsung, lebih enak memakai domain .com. Tapi kalau ingin lebih nasionalisme, seharusnya memakai domain .id,” jelasnya.

Konon, Kominfo RI mengonfirmasi bahwa pada tahun 2012 sambungan koneksi internet akan menjangkau semua desa di Indonesia. Jika kabar ini benar, tentu potensi yang harus ditindaklanjuti.

Kepada pebisnis dan relawan internet Indonesia, saya berharap nantinya edukasi pengenalan internet bukan melulu seputar surel (surat elektronik), jejaring sosial, chat, mesin pencari, atau cuma cuci mata berselancar wisata web saja. Tapi sekaligus dimunculkan muatan informasi pariwara .id.

Komisi8@yahoo.com

Beberapa kali saya temui, mereka yang tidak memakai domain .id akibat ketidaktahuan dan mungkin kurangnya penjelajahan. Contohnya, ada alamat laman situs aparat keamanan di sebuah kabupaten memakai .com.

Saya percaya niat bagus mereka ingin membuka diri terhadap akses informasi. Tapi alih-alih berkhayal profesional atau go international, kekeliruan penggunaan .com itu justru bermakna unyu: go commercial.

Jarangnya sosialisasi — mungkin juga — membuat .id kurang dikenali. Saya sering mendapati di bak samping dan belakang truk, tulisan http://www.blablabla@yahoo.com. Entah maksudnya apakah mereka mau nulis alamat surel atau situs.

Tapi saya kira, itu akibat kurang pengetahuan dan wawasan mereka saja. Mungkin di batas literasi pemilik truk ini, kata internet itu sekadar berawalan ‘www’, berimbuhan ‘@’ dan berakhiran ‘.com’.

Kita tentu masih ingat insiden lucu ‘komisi8@yahoo.com’ Mei 2011 lalu. Saat Komisi VIII DPR berdialog dengan sehimpun PPIA Melbourne, senator kita ngawur saja menyebutkan surelnya. Terbukti kemudian, itu alamat palsu.

Saya pikir, kalau saja mereka melek .id lalu pura-pura memberi alamat komisi8asli@yahoo.co.id, mungkin sedikit terampuni parodi politisi ini. Secara, masih ada sedikit embel-embel nasionalisme .id-nya di benak mereka.

Supaya tak terulang cerita lucu itu, kembali, kinerja PANDI perlu ditunggu. Apakah pergantian kru yang baru bisa menggaransi target pertumbuhan 250.000 [dot] id pada 2015 nanti?

Mari berharap migrasi IPv6 dan kebijakan pengalihan registrasi domain ke pihak ketiga bisa lebih memikat pengguna. Keluhan birokrasi dan tuntutan kemudahan registrasi yang kerap jadi sugesti, semoga teratasi. Hasil idealnya, domain .id kian dikenali, diminati dan proyeksinya sebagai identitas situs Indonesia kian mendekati nyata.

Selain PANDI, sektor bisnis kudu mendukung, terutama penyedia jasa internet seperti APJII, Awari, Awali, dan lainnya. Bentuk dukungan paling sederhananya, bikin media iklan poster/banner berisi materi pengenalan .id kepada masyarakat.

Jasa hosting bisa mengedukasi klien untuk lebih memilih .id daripada domain luar negeri disertai paket harga kompetitif. Syukur bila pemerintah mau saweran sesuai tupoksi yang dimiliki.

Lebih massif dan efektif jika komunitas blogger bersama relawan TIK sebagai pelopor netizen Indonesia mau menyepakati resolusi .id ini. Selain jadi pengguna, mereka aktif mengedukasi masyarakat yang didampingi. Sedulur Hacktivist memberikan bantuan stabilitas keamanan agar pengguna domain .id terjaga dari ancaman teror backdoor.

Seterusnya gotong royong menguati eksistensi .id ini akan lebih menampilkan Indonesia secara elegan, selain sebagai alternatif keisengan balapan meretas laman web Negeri Jiran. Penggunaan .id juga membuktikan nasionalisme yang nyata, lebih dari sekadar lengking demo ‘anti asing’ di media dan jalan raya.

Akhirnya, saya ucapkan selamat bekerja keras, bergas dan bernas melintasi 2012. Awali masehi dengan semangat advokasi penggunaan .id. Mari buktikan keunggulan peradaban maya dan identitas nasionalisme kita kepada dunia melalui ketikan jari di papan qwerty.

Afdolnya, sukses wordpress bisa mengilhami lahirnya blog .id. Strategi jitu Baidu kita tiru melalui inovasi mesin pencari buatan anak negeri dengan domain .id.

Segera pada saatnya, situs domain worldwide dan Alexa akan mencatat .id kita berada di atas mereka. Sejarah akan menoreh nama baik kita sebagai anak saleh pecinta ibu pertiwi Indonesia.

Mudah-mudahan ikhtiar kecil ini bisa mengembalikan semangat kebangsaan yang kian ditelantarkan. Peradaban satu santun rukun Indonesia di ranah maya semoga menularkan kebersamaan dan kesetiakawanan kepada kita semua, anak-anak nusantara.

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Bersatulah .id-.id Indonesia, Merdeka!

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s