Terompet

Lentera, Surabaya Post, Kamis (29/12)

Jika Allah mengijinkan, dalam 2 hari lagi, kita semua akan mengakhiri satu tahun Masehi. Kalender Gregorian 2011 akan segera tuntas dan berganti memasuki awal 2012.

Beberapa sedulur kita menyambut pergantian waktu “old & new” itu secara sukacita. Umumnya mereka manfaatkan liburan dengan wisata dan atau berkumpul bersama keluarga.

Puncaknya, seperti biasa, sebagian mereka akan memenuhi jalan dan pusat keramaian menandai akhir tanggal 31 malam. Histeria hitung mundur menuju tanggal 1 di tahun baru, bergerak serentak di seantero dunia.

Kota-kota bersiap dengan papan iklan, pengumuman dan pasukan keamanan. Pusat perbelanjaan berdandan dengan paket jualan yang sekiranya diminati pembeli. Penginapan dan lokasi wisata berbenah menerima tamu-tamunya.

Tempat hiburan berlomba menyuguhkan acara istimewa. Di jalanan, penjual terompet berteriak menawarkan dagangan. Pada malam pergantian tahun nanti, biasanya terompet akan ditiup beramai-ramai bersamaan dentum kembang api.

Sebagian orang percaya bahwa penggunaan terompet diawali tradisi bangsa Yahudi saat mereka mengumumkan peristiwa penting dan menandai tahun barunya.

Konon, saat saat malam pergantian tahun itu, masyarakat Yahudi meniup shofar, sebuah alat musik sejenis terompet sebagai ritual intropeksi diri.

Selain sebagai penanda ritual agama, sebagian orang juga percaya, terompet digunakan para raja dan tradisi militer purba saat mereka mengumumkan peperangan.

Kini, terompet identik dengan perayaan. Terutama saat malam tutup tahun, alat musik tiup itu seperti dress code yang wajib dibawa oleh peserta pesta.

Sebagaimana 10 tahun belakangan ini, desa saya yang lugu jadi ikut tertulari. Malam 31 Desember nanti, kaum muda dan remajanya akan berombongan ke kota, bertret-tret meniup terompet menuju alun-alun untuk merayakan pergantian tahun.

Seperti biasanya tahun-tahun sebelumnya, saya memilih di rumah saja. Meski beberapa tetangga dan teman menawari liburan bersamaan atau konvoi bertret-tret tahun baruan, saya lebih suka beraktifitas belajar bersama keluarga.

Bila diminta mengarifi akhir tahun Masehi, saya selalu menyarankan perenungan, annual retreat, dan atau muhasabah berjamaah sebagai ikhtiar instropeksi diri: menghitung kesalahan dan merencanakan pertaubatan.

Saya teringat tanggal 15 April tahun 2004, situs http://www.newscientist.com merilis temuan tim saintis dari Jerman tentang bentuk kosmos kekinian. Pimpinan tim, Frank Steiner dari University of Ulm, melontarkan kesimpulan bahwa struktur semesta ini menyerupai bentuk terompet.

Temuan Steiner ini didetailkan pada data piranti NASA yang disebut Wilkinson Microwave Anisotropy Prob (WMAP). Walau masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan, literasi astronomi dari tesis Steiner ini cukup menggugah hati. Terutama bagi saya di saat merenungi jelang akhir tahun Masehi hari-hari ini.

Masih soal terompet, saya pun terngiang firman Al Quran tentang penanda tutupnya umur dunia dan hari pengadilan akhiratNYA mulai dibuka.

“Dan pada hari ketika terompet di tiup, maka terkejutlah semua yang di langit dan semua yang di bumi kecuali mereka yang di kehendaki Allah. Dan mereka semua datang menghadapNya dengan merendahkan diri.” (QS. 27 : 87).

“Dan ditiuplah terompet sangkakala. Maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup terompet itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (keputusannya masing-masing).” (QS. 39 : 68).

“….. Dan ditanganNya-lah segala kekuasaan pada hari ditiup terompet…” (QS. 6 : 73).

Seketika setelah membaca rilis saintis dan firman Al Quran, saya kian percaya bahwa akhirat itu ada sebagaimana saya yakin pasti tentang dunia yang sekarang ini saya jalani.

Apalagi wahyu Al Quran dan temuan Frank Steiner itu diperkuat hadis-hadis Rasulullah yang bercerita soal terompet Israfil. Disebutkan bahwa sang Malaikat akan bertugas meniup “terompet kosmos” untuk menutup pagelaran alam dunia beserta tahun-tahun kefanaannya.

Saya merasa tiupan terompet Israfil itu sudah berjalan prosesnya. Bunyi nafas Israfil di bibir terompet sudah terdengar sejak Rasulullah Muhammad bernubuat tentang kiamat.

Kini, suara terompet penanda akhir kosmosNYA kian nyaring saja lengkingnya. Ditandai jaman kerusakan sebagai awal tutup usia dunia, bermunculan di mana saja, bahkan di dekat-dekat lingkungan kita. Kehidupan ranah politik, ekonomi, kenegaraan, masyarakatnya, agamanya, sosial budayanya, tata krama ucapan dan pikiran, berebut rusak menjauhi tradisi asli manusiawi.

Karena itu saya harus berlomba dengan batas waktu terompet kosmos itu ditiup. Sementara saya belum pasti kapan terompet Israfil menutup hidup saya sekeluarga di dunia, afdolnya memperbanyak persiapan bekal tinggal di akhirat dan perenungan dosa-dosa yang telah saya perbuat.

Sebelum riuh terompet kiamat menutup pintu taubat, sebaiknya saya sekeluarga lekas mencari suaka ampunanNYA dan berebut mendapatkan rahmat ridho-NYA. Hemat saya, tiupan terompet kosmos Israfil lebih membutuhkan prioritas perhatian dan keprihatinan daripada meramaikan perayaan terompet tutup tahun Gregorian.

Bagi penguasa dan politisi, terompet tutup tahun ini mungkin disikapi kebut-kebutan perang strategi menyambut pentas 2014. Buat para sosialita dan komunitas dugemania, akan banyak agenda direncana untuk “showbiz” selanjutnya. Bengkel modifikasi motor panen pelanggan yang ingin knalpotnya dipermak untuk konvoi dan blayer-blayeran di jalan.

Terompet berarti para pegawai kantoran bersiap cuti dari kebosanan rutinitas pekerjaan. Siswa sekolah kembali menikmati liburan. Pebisnis menghitung laba dan kerugian. Petugas keuangan mengepaskan anggaran tahunan. Tukang cetak kalender sibuk melayani pesanan.

Di jalanan, penjual terompet makin ngotot menghabiskan dagangan. Sementara di sebagian pesantren, beberapa santri berikhtiar mengkhatamkan Al Quran.

Lalu seperti biasanya, pada pukul 00 di detik pergantian tahun nanti, terompet akan dibunyikan sekali lagi, oleh mereka yang merayakannya. Tanda tahun 2012 dibuka menutup 2011 yang telah purna.

Lalu bagaimana dengan Anda meruwati akhir Masehi ini? Apakah ikut berhura-hura meniup terompet di jalan raya dan pusat keramaian kota? Ataukah prihatin berdoa di rumah saja, belajar muhasabah bersama keluarga sambil menunggu suara terompet kiamat Israfil yang –siapa sangka– segera tiba?

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s