Pada Suatu Ibu

Dari pagi buta hingga senja tiba, sosok sepuh itu sibuk merenda kerja. Setiap menitnya adalah pengabdian, setiap jamnya adalah pelayanan, setiap harinya adalah penugasan, setiap pekannya adalah pertanggungjawaban, setiap bulannya adalah perubahan, setiap tahunnya adalah penyempurnaan, dan setiap nafas hidupnya adalah pencarian ridho ampunan Tuhan.

Pada suatu ibu, melekat rahim peradaban yang nanti mewariskan masa depan kebangsaan. Pada suatu ibu, tumbuhlah etos profetik yang melestarikan kebenaran ilahi di muka bumi. Pada suatu ibu, tersimpan kekuatan cinta yang abadi hingga akhir hayatnya. Pada suatu ibu, lahirlah pemimpin perkasa, Rasul mulia, pahlawan tanpa tanda jasa, dan manusia-manusia penjaga dunia. Pada suatu ibu, tunduklah para bapak di bawah siraman airmata peneduhnya.

“Ibumu, ibumu, ibumu,” begitu kata Rasulullah dahulu. Tiga derajat terhormat yang disematkan kepada kaum ibu di atas hak kaum bapak. Ini menandakan posisi ibu di hadapan Allah dan RasulNYA bukan cuma wanita biasa.

Dalam kelola manajerialnya, rumah dapat dijadikan madrasah pengubah sejarah. Bak malaikat, doa kasih sayangnya tumbuh melimpah sepanjang usia manusia. Seperti matahari, cintanya tiada meminta balas jasa.

Karir seorang ibu sesungguhnya potret perkasa nusantara. Selepas bapak dan anak istirahat di malam hari, bahkan tenaganya sudah menyiapkan kebutuhan untuk esok pagi. Untuk anak yang berangkat belajar, untuk bapak yang pergi mencari rejeki. Ternyata durasi tanggungjawab ibu kita di rumah melebihi bapak penanggung maisyah.

Pada Ibu Hajar dan Ibu Mariyam kita bisa belajar pengasuhan anak ala single parent. Pada Ibu Asiyah kita bisa praktik menjadi istri yang baik saat menghadapi suami yang gila kuasa. Pada Ibu Fatimah kita bisa meniru cara hidup berkeluarga yang sederhana sesuai teladan RasulNYA. Pada Ibu Rahmah, kita dapat mencontoh sikap setia dan syukur sakit. Pada Ibu Khadijah, kita bisa belajar berkurban untuk perjuangan dan sifat sabar hingga wafat tiba. Pada Ibu Aisyah, kita bisa meniru ciri manusia pembelajar yang cerdas.

“Dan kami perintahkan kepada manusia berbuat baik kepada dua orang ibu bapak nya, IBUNYA telah mengandungnya dalam keadaan lemah yg bertambah tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, Bersyukurlah kepada Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada Ku lah kembalimu”. (QS. Luqman 14)

Allah Tuhan Yang Maha Esa begitu memuliakan kaum ibu. Surga dan ridhoNYA bisa diperoleh hanya melalui restu ibu. Al Quran sebagai pedoman hidup kita semua, telah memerintahkan manusia bersikap baik terutama kepada ibu kita. Sebegitu mulya posisi kaum Hawa ini, bahkan untuk sekadar melampiaskan keluh kesah “Ah” terhadap ibu, Al Quran melarang perbuatan kita itu.

Semoga Anda sudah menonton film pendek “Lakon Pada Suatu Ketika” buatan animator Indonesia. Kalau belum, sila cari dan cek di situs YouTube. Pada satu fragmen adegan, serombongan bajaj dan motor tua betransformasi jadi robot pembela manusia.

Menariknya, sutradara memilih protagonista dari seonggok bis tua. Lihatlah di tempelan kaca depan bis berkelir ijo-putih itu, sticker sign DOA IBU menyirat pesan tetua kita dulu. Bahwa penghormatan hari-hari ibu bukan cuma 22 Desember melulu, tapi seyogyanya diruwati sepanjang waktu, selama usia kasihnya masih ada, selagi dunia terus memperpanjang nafasnya.

Selain di film itu, saya yakin Anda pun sering menemui tulisan itu di kendaraan pengangkut di jalan raya. Sungguh pesan bijaksana yang lahir dari kesadaran supir-supir Indonesia. Mereka yang selama ini dianggap jelata dan kelas profesinya tak banyak dilirik, ternyata sangat memposisikan ibu di nomor satu.

Film animasi pendek buatan Lakon Animasi Solo itu menyiratkan pesan. Bahwa itikad baik perubahan bisa dilakukan lewat bantuan Gusti Ilahi dan harus disertai optimisme tinggi. Kita, anak-anak Indonesia ditunggu ibu pertiwi untuk segera sujud mengabdi. Sudah saatnya kita tidak lagi memandang sesama manusia sebagai musuh dan ancaman dunia. Sebaliknya, kini waktunya bertransformasi menyikapi sesama manusia sebagai saudara anak-anak Adam dan Ibu Hawa.

Kita, anak-anak nusantara seketurunan Ibu Hawa, tak patut bertengkar mulut apalagi jual beli nyawa untuk kepentingan dunia. Karena kalau ternyata kita masih saja gemar bertengkar, berarti kita termasuk anak-anak yang durhaka pada perintah rukun ibunya.

Maka saling bersalamanlah antar saudara seIndonesia seperti kita waktu kecil dulu dididik untuk bersalaman setiap hendak berangkat dan pulang. Mari menyikapi hari-hari pengabdian kepada ibu pertiwi bukan hanya berhenti pada 22 Desember ini. Balaslah doa kasih sayangnya yang sepanjang waktu itu dengan menebarkan kasih sayang sesama manusia, sesama keturunan yang dilahirkan dari rahim Ibunda Hawa.

Pesan dari Solo, animator Indonesia secara luar biasa menampilkan potensi laduni anak-anak pertiwi. Nasionalisme sineas cerdas berbalut teknologi informasi itu lahir dari rahim ibu-ibu Indonesia. Mereka ilhami transformasi bajaj lapuk, motor usang plus bis tua ibukota menjadi kekuatan penjaga negeri ini dari serbuan alien luar bumi yang berkolaborasi dengan inlander dan Sengkuni.

Transformasi perubahan kendaraan tua itu, diperkuat semangat “Optimus Prime” versi baru berwujud bis DOA IBU. Tentu saja maknanya, Allah sebagai “Supreme Optimus Prime” mengawal serta doa ibunda. Perubahan Indonesia menuju masa depan penuh kebaikan, haruslah disertai restu ilahi dan doa ibu pertiwi. Doa itu tertulis dalam cita-cita empat pilar dasar: Pancasila, Pembukaan UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.
Firman Al Quran dan wasiat Rasulullah sudah sering dikhutbahkan guru dan ulama kita. Ditambah lagi pesan animasi bis “DOA IBU” yang dibawa para supir jelata melaju sepanjang jalan raya nusantara. Kesemuanya menampilkan pesan untuk kita semua, “saatnya mengabdi bagi ibu pertiwi”.

Wasiat bijaksana agar kita berhati-hati dan tidak mengulangi tragedi “Malin Kundang” yang durhaka pada ibunda bernama Indonesia. Ibu pertiwi menyuruh rukun diantara kita, menunggu anak-anak Indonesia untuk optimis, bangkit, rukun dan ikhlas melayani negeri ini.
Selamat Hari Ibu bagi kaum Hawa Nusantara. Ibu saya, ibu Anda, ibu kita semua, adalah sesuatu  yang patut diturut setelah Allah dan RasulNYA. Setiap saat, doa dan restu ibu turut menentukan sukses mardhatillah kita semua. Raihlah surga dan ridhoNYA dengan menghormati ibunda di posisi utama.

“Ibumu, Ibumu, Ibumu,” begitu pesan Rasulullah dulu.  Dalam bait doa ibunda, terkandung ridho dan ampunanNYA. Ibu kita, rahim peradaban manusia mulya. Allaahummaghfirlii wa liwaa lidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s