Bela Bangsa vs Bela Diri

Sudah jadi tradisi di hampir setiap komunitas pesantren mengajarkan ilmu bela diri untuk santrinya. Itu pula yang sering ditanyakan para tamu saat berkunjung ke pesantren kami. “Jenis bela diri apakah yang diajarkan?”, begitu biasa mereka bertanya.

Kami, sebagaimana yang diajarkan para guru pendahulu, menjawabnya “Di pesantren ini para santri tidak diajarkan bela diri, tapi diajak belajar bela bangsa.”

Ilmu bela diri yang lazim dipahami masyarakat berkisar pada latihan fokus penempaan fisik untuk beradu tarung mengalahkan musuh manusia. Sementara bela bangsa mengarahkan manusia untuk belajar kasih saling membela sesamanya dari serangan musuh ghaib syetan.

Dua perbedaan mendasar dalam memahami arti “musuh” inilah yang menjadikan konsep “bela bangsa” lebih kami pilih daripada definisi “bela diri”.

Pada konsep bela bangsa, setiap detik dan menit dipahami sebagai situasi perang melawan musuh syetan. Karena sadar bahwa musuh ghaib yang posisinya berada di dalam hati, di saluran peredaran darah, di pusat kendali syaraf otak, maka lahirlah sikap waspada seumur hidupnya.

Fokus pertahanan adalah mengendali ego pribadi agar tidak disusupi bisikan musuh syetan yang bisa beroperasi kapan saja. Sehingga setiap kutikan hati atau selintas pikiran akan selalu disaring dan diwaspadai, karena bisa jadi itu datangnya dari bisikan musuh ghaib syetan.

Bela bangsa didasari naluri asah-asih-asuh, keterampilan seorang begawan yang zuhud keduniawian, dan figur pribadi yang bebas dari penyakit hati.

Bukti dari keberhasilan konsep ini dapat dilihat jika kita tidak mudah marah, bersih dari sifat iri, dengki, dendam, hasud, riya’, pamrih, sombong, bohong, meremehkan orang rendahan, terhindar dari kemaruk duniawi, dan senantiasa menganggap semua manusia adalah saudara sesama anak cucu Adam yang mesti dikasihi.

Praktiknya ketika melihat orang bersalah atau saat kita disakiti, muncul sifat kasihan ingin memperingatkan dan menyadarkan. Seapes-apesnya mengirimkan Al Fatihah agar orang tersebut terbuka hatinya dan bertaubat menyadari kekeliruannya.

Bela bangsa akan menguati rasa cinta tanah air dan mendahulukan kepentingan agama, bangsa, dan negara daripada keakuan ego pribadi. Muncul kesadaran bahwa diri kita pun pernah bersalah dan berdosa, sehingga tidak langsung bereaksi marah saat melihat orang lain khilaf menyakiti kita.

Sementara makna bela diri, walau awalnya diniati sebagai alat pertahanan dari kejahatan, kini terasa bergeser peruntukannya. Mungkin karena menganggap musuh itu sebatas manusia, sehingga ketika ada potensi ancaman sedikit saja, langsung bereaksi melawan dan secepatnya menjatuhkan. Hapal sedikit jurus, bawaannya berangasan seolah penguasa jalanan.

Keliru memaknai filosofi bela diri berakibat membiasakan pembenaran-pembenaran, bahkan terhadap kesalahan yang sudah telanjang dilakukan. Pokoknya “dia atau mereka yang salah, saya atau kami yang benar”.

Provokasi kata-kata atau isu selintasan saja, dengan gampang bisa dijadikan pemantik tawuran. Atas nama solidaritas semu dan kekorsaan karbitan, adu jurus massal pun sering terjadi.

Kasus perang besar antar dua perguruan kanuragan baru-baru ini jadi bukti, bahwa makna “bela diri” kini bergeser destruktif, bangga-banggaan sektarian dan potensial mengancam rekatan kebangsaan.

Contoh lain bela diri “anak TK” yang ditampilkan para politisi kita, bela diri media arus utama yang berorientasi semata laba, bela diri masyarakat Indonesia yang gampang diadu-domba dan seterusnya. Sila lihat televisi, koran, internet, radio, dan media massa. Setiap hari pasti ada saja kasus menyalah-kaprahi arti “bela diri” ini.

Bela bangsa akan melahirkan sifat-sifat kebegawanan sebagaimana teladan para utusan. Kita bisa lihat pada saat Rasulullah diusir, dimaki-maki, dikejar, dan dilempari batu oleh penduduk Thaif.

Beliau menangis sambil menengadahkan permohonan, “Allaahummahdii qaumii fa innahum laa ya’lamuun (Ya Allah tunjukilah bangsaku itu, mereka menyakiti aku karena tidak tahu aku ini utusanMU).”

Sama sekali tidak ada rasa marah atau dendam ingin membalas perlakuan kejam itu. Padahal kalau saja Muhammad mau, Allah sudah mengutus malaikat gunung yang siap membantunya menghancurkan kesombongan kaum kafir Thaif.

Kebegawanan bela bangsa yang sama beliau tampakkan saat peristiwa Fathul Makkah. Semua penduduk yang selama ini mengusir dan berencana membunuh beliau, langsung diampuni tanpa diadili. Abu Sufyan yang selama ini jadi tokoh antagonis terdepan, diberikan jaminan perlindungan dan  keamanan. Hak asasi manusia Makkah dipulihkan seutuhnya.

Surat An-Nashr yang mengiringi peristiwa itu pun beredaksi “An-Naas”, bermakna manusia. Sesuai isi surat ini, Fathul Makkah didedikasikan untuk tegaknya ketauhidan, kemenangan seluruh insan dan dimulainya peradaban kedamaian. Rasulullah Muhammad telah meletakkan konsep bela bangsa secara elegan dan penuh keperwiraan.

Jika memang terpaksa dihadapkan pada kondisi pertempuran pun, kendali hati akan tetap ikhlas dan jauh dari nafsu membunuh. Seperti teladan kisah sahabat Ali r.a saat duel pedang dengan seorang musyrik Makkah.

Ketika posisi Ali r.a. menang, orang musyrik yang posisinya kalah dan pedangnya jatuh itu meludahi muka Ali. Tersulut emosi karena dilecehkan, Ali hendak membunuh orang tersebut. Tapi Ali kemudian sadar bahwa membunuh disertai rasa marah bukanlah ciri Islam. Maka Ali pun terhindar dari tarung konyol itu. Akhir cerita, orang itu sukarela menjadi muallaf karena sikap ksatria Islami yang ditunjukkan Ali.

Begitulah praktik riil bela bangsa, saat-saat genting berhasil mengatasi ego pribadi demi menyelamatkan masa depan kemanusiaan. Inti olah diri difokuskan pada pengendalian pikiran, ucapan dan perbuatan.

Terbentuklah kesadaran bahwa di setiap diri ini ada unsur musuh syetan yang bisa mengintai, mendatangi, menasehati, membisiki untuk berbuat jahat. Sehingga para pembela bangsa yang berhasil mengatasi “musuh dalam diri” ini adalah pribadi yang betul-betul sakti dan teruji.

Bela bangsa berorientasi ukhrowi, sehingga melihat sedulur manusianya berdosa terancam neraka, tumbuhlah sifat kasih sayang ingin menyadarkan dan lekas menyelamatkan.

Sedangkan pada kekeliruan makna bela diri, pokoknya manusia yang berpotensi memusuhi harus lekas dibasmi. Terbentuk keyakinan bahwa pihak di luar komunitas kompetisinya dianggap lawan yang mesti diperhitungkan.

Jika perlu, pre-emptive strike. Cegat di jalan dan bantai mereka tanpa sisa. Bela diri dianggap berhasil jika lawan manusianya terkapar di tanah dan berdarah-darah.

Karena berorientasi nafsu duniawi, saat melihat saudara sesama manusia yang berdosa, bisanya cuma memaki-maki, menyalahi, ingin menghakimi sendiri, meluaplah rasa dendam dan benci. Tidak ada rasa ingin memperingatkan dengan kasih sayang atau niat mendoakan.

Konsep bela bangsa cocok dijadikan pegangan umat beragama, khususnya kami para santri. Memang sangat sulit pelaksanaannya, namun disitulah letak khas ketinggian dan derajat keilmuannya.

Disitulah terdapat bukti keunggulan budaya kesantrian dibandingkan tradisi keumuman. Disitulah para santri dapat menunjukkan kebenaran dalil “al Islaamu ya’lu wa laa yu’la ‘alaih”, Islam tinggi tiada yang menandingi.

Bela bangsa akan mendekatkan kita pada sifat ketawadhu’an, pertolongan Allah dan bersahabat dengan malaikat. Sedangkan kekeliruan memaknai bela diri akan menjurus manusia pada adu domba sia-sia dan rawan dipanaskan unsur jin syetan.

Menurut hemat kami, kaum santri akan sakti mandraguna bila orientasi pembelajaran olah jiwa raga bukan lagi terkungkung bela diri yang menarget musuh lahiriah manusia, tapi bela bangsa yang setiap detik mewaspadai anasir ghaib syetan di dalam dirinya.

Bismillaahirrahmaanirrahiim, laa haula wa laa quwwata illa billaahil-’aliiyil ‘adhiim.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s