Tuhan Tandingan

Dan di antara manusia itu ada yang mempertuhan sesuatu yang lain daripada Allah sebagai tuhan-tandingan; dicintainya seperti mencintai Allah. Orang yang beriman hanya lebih mencintai Allah semata. Seandainya orang yang zalim itu dapat memikirkan ketika mereka melihat siksaan nanti di hari kiamat, sungguh seluruh daya dan kekuatan hanya kepunyaan Allah. Dan sungguh-sungguh Allah Maha dahsyat siksa-Nya.” (Al-Baqarah:165).

Ciri orang beriman, diantaranya, terlihat dari komitmen ketauhidan yang pernah ia syahadatkan. Bahwa mereka akan menjadikan Allah subhaanaahu wa ta’ala sebagai satu-satunya ilah (Tuhan) yang wajib disembah semurni-murninya, dilayani sepenuh waktu & dicintai sepenuh jiwa raga.

Komitmen tauhid itu juga bermakna tidak akan pernah menomorduakan pelayanan Tuhan dengan urusan sesibuk, sepenting, sesuatu apapun.

Bila komitmen ini diingkari, maka sebutan “orang beriman” akan copot dan berubah “musyrik” atau penyekutu. Menyepelekan urusan Tuhan dan kemudian menomor satukan urusan nafsu dunianya semata, berarti sama dengan “musyrik” atau “menyekutukan Tuhan”.

Sebagaimana peringatan Al Baqarah 165, ada manusia yang mencintai “sesuatu” seperti ia mencintai Allah. Ayat ini tegas menyebut, mencintai Allah dan mencintai “sesuatu” secara seimbang saja, sudah bisa disebut “musyrik”. Jika cinta itu sudah terbagi sama kepada selain Allah, maka itu sama dengan membikin “andaadan” atau tuhan tandingan.

Buya Prof. DR. HAMKA dalam Tafsir Al Azhar menulis, “Di dalam ayat disebut tandingan-tandingan itu dengan kata andaadan dari kata mufrad niddun. Kita pilih artinya dalam bahasa kita tandingan-tandingan, karena maksud kita andadan itu amat luas. Bukan saja dengan andaadan itu orang mempersekutukan Allah dengan memuja dan menyembah, malahan lebih luas. Misalnya ada perintah lain atau undang-undang lain yang lebih dipentingkan daripada perintah atau undang-undang Allah, maka yang lain itu telah menjadi andaadan.”

Tuhan tandingan atau “andaadan” mudah saja menjelma kepada sesuatu yang ditekuni, rutinitas profesi, aktifitas hobi, barang yang dicintai, kerabat keluarga yang dikasihi, atau trend produk budaya dan teknologi yang sedang digemari.

Contoh semalam ada tontonan pertandingan bola yang hebohnya luar biasa. Para penonton –yang sebagian besar Muslim–, selama 2×45 menit pertandingan berjalan, apakah masih bisa membagi konsentrasi ingat kepada Allah dan aksi pemain di lapangan??

Kalau ternyata ingatan kepada Allah nyaris hilang dan hanya tertuju pada guliran bola itu, maka kita sudah termasuk membuat “tuhan tandingan”.

Apalagi jika sampai melupakan –atau menunda waktunya dan mempercepat rakaat– sholat jamaah Maghrib dan Isya hanya untuk menikmati tontonan, maka lengkaplah bukti kemusyrikan kita dalam menyekutukan Allah subhaanahu wa ta’ala. Bola mati dijadikan “tuhan” & ritual penyembahan.

Pada level keluarga, rasa cinta pada anak secara berlebihan dapat menjerumuskan dalam penyembahan andaadan. Atas nama kasih sayang, semua keinginan anak dituruti saja tanpa menimbang manfaat dan mudaratnya, tanpa memikirkan apakah keinginan anak itu sesuai peraturan Allah atau tidak.

Perilaku ini sering mengundang peluang korupsi dan kejahatan kemanusiaan yang sekarang melanda dunia maupun Indonesia.

Peringatan Allah tidak diikuti. Aturan negara dilangkahi. Norma sosial dan asas kepatutan tidak diindahkan sama sekali. Semua ini bisa terjadi karena perlakuan “demi anak” yang disayangi.

Secara sadar dengan mengutamakan kepentingan anak itu dan berakibat mengabaikan perintah/larangan Tuhan, kita telah berproses memahat “tuhan tandingan” berwujud “tuhan peranakan”. Hal ini sudah difirmankan Allah dalam Al Quran:

“Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. 7:190).

Pada praktik kehidupan sehari-hari yang kita tekuni, mari bertanya, “Banyak mana ucapan-pikiran-perbuatan yang didasari perintah Allah atau yang disetir nafsu seenak hati kita sendiri?”.

Karena dari jawaban jujur pertanyaan itu, akan terlihat bukti ketauhidan yang pernah kita syahadatkan. Bila ternyata banyak dari pikiran-ucapan-perbuatan kita yang asal gelesik-asal nyablak-asal mlaku, berangkat dari niat sak enake karepku, maka itu termasuk perbuatan musyrik: “bertuhan nafsu”.

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya. Maka apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu terdengar atau memahami? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya dari binatang ternak itu.” (Q.s. Al-Furqan: 43–44)

Dari penjelasan di atas, penyembah “tuhan tandingan” tak perlu bersyahadat menyuarakan: “saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain andaadan”.

Karena hanya dengan meneliti rutinitas pikiran-ucapan-perbuatannya, seseorang dengan mudah terkategori berkepribadian musyrik. Bagi pegiat sholat, ketika melafalkan doa pada saat takbir hingga salam, bisakah konsentrasi mengingat Allah sampai selesai???

Bila sedetik saja konsentrasi itu terbagi, misalnya teringat urusan/pekerjaan/keluarga yang tak sempat diselesaikan sebelum sholat, maka harus diakui secara jujur.Bahwa sholat kita yang menyembah Allah dengan niat muhlishiina lahuddiin, telah tercemar syirik.

Ada andadaan atau tuhan tandingan yang menyusup ke sholat kita. Dan itu akan berdampak pada hasil akhir nantinya, sholat hanya sekadar menghitung jumlah rakaat dan hafalan ayat-ayat. Andaadan atau tuhan tandingan itu kini memasyarakat secara masif dan pesat.

Berdasar penjelasan di muka, maka andaadan itu bentuknya bisa menjelma dalam purwarupa tuhan duit, tuhan idola, tuhan hobi, tuhan karir, tuhan pacar, tuhan anak, tuhan suami/isteri, tuhan ketokohan, tuhan kedudukan, tuhan kebanggaan, tuhan kesenangan, tuhan kebebasan, tuhan kekayaan, dll.

Intinya bila semua perkara atau benda yang kita cinta dan sibuk kepadanya, lalu karena cinta dan kesibukan itu kita lupa kepada keberadaan dan aturan Allah, maka itulah bukti perbuatan kita menciptakan tuhan tandingan.

Diantara perbuatan yang tergolong dosa besar dan sangat dimurkai Allah, ialah laku musyrik atau kesengajaan menyekutukanNYA dengan sesuatu, apapun itu. Mari berhati-hati menghindari adanya andaadan yang latent dan sering kita akrabi tanpa sadar ini.

Bismillaah. Walladziina aamanuu asyaddu hubba lillaah.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s