Sekumpulan Setan

Semenjak setan menolak sujud kepada Adam, sebagaimana yang Allah SWT perintahkan, ia dipaksa lengser dari surga, dicap pembangkang dan dikutuk hingga matinya.

Dendam setan akibat hukuman itu dilampiaskan kepada manusia melalui sumpahnya di hadapan Allah, “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus” (QS. 7:16); “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya,” (QS 38 : 82).

Setelah itu, permusuhan antara setan dan manusia pun dimulai. Karena kelihaian tipu muslihat dan keberadaannya yang gaib, setan lebih leluasa mengalahkan manusia.

Dari kisah sejarah dalam Al Quran bisa diketahui, betapa banyak manusia yang akibat kalah oleh serangan gaib setan sehingga terpaksa bersekutu dengannya dan kemudian melawan ajaran para utusan Tuhan. Manusia yang menjadi korban penyesatan bisik jahat setan disebut Al Quran sebagai hizbusy syaithon (sekumpulan atau sekutu setan).

Hingga hari kiamat nanti, sumpah setan untuk menyesatkan manusia dari jalan kebenaran akan terus berlangsung. Setan tidak peduli apapun agama manusia, darimanapun suku bangsa manusia, latar profesi, rupa warna kulit, dan bahasanya, pokoknya semua manusia akan dibujuk jadi sekutunya.

Pada akhirnya seluruh anak turun Nabi Adam akan dipaksa ikut bersamanya menuju kampung sengsara di akhirat yang bernama neraka.

Hizbusy Syaithon atau sekumpulan setan bisa melibat ke diri kita bila kita tidak waspada. Karena ia adalah sifat yang menyaru dalam aliran darah, bisikan halus yang mengaliri denyut hati, ia bisa menguasai jalan pikiran dan kemudian mewujud dalam perbuatan.

Semua serba gaib dan seolah kita sendiri yang sedang menjalani. Padahal sesungguhnya itu akibat dari pengaruh hizbusy syaithon yang sudah merasuk ke jiwa kita.

Praktik nyatanya dapat kita lihat dengan meneliti kepribadian kita sehari-hari. Betapa kita dan semua manusia dengan mudahnya terlibat gerakan hizbusy syaithon.

Jika kita lupa menyukuri sinar matahari yang terbit pagi hari ini tadi, kita telah kafir bi nikmah dan itu berarti kita sudah termasuk hizbus syaithon. Kita terkena tuah dari sumpah setan, “Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS 7:17)

Kehidupan berbangsa dan bernegara yang saat ini terjadi, bisa juga kita jadikan pembuktian. Betapa ciri pribadi hizbus syaithon yang sombong itu menyifat ke segenap lapisan masyarakat. Semuanya ingin menang dan ogah mengalah. Para pihak terobsesi “duduk di atas”, gengsi “lesehan di bawah”.

Kita selalu minta dihargai, emoh sebentar saja direndahkan. Kita semua bernafsu memimpin dan enggan dipimpin. Semua manusia kita anggap berderajat di bawah kita. Sehingga kita pun merasa berhak memonopoli dan mendominasi mereka.

Tanpa sadar kesombongan itu kita lakukan. Tanpa terasa kita sedang mengikuti sifat asli setan yang sombong ketika ia diperintah tunduk kepada Adam. “Ana khairun minhu. Kholaqtanii min-naar wa kholaqtahuu min thiin.” (Aku lebih baik dari dia. Aku diciptakan dari api dan ia diciptakan dari tanah).

Kesombongan setan berasumsi, tak mungkin tanah lebih kuat dan lebih baik dari api. Jadi ia merasa tak pantas bersujud menghormati keberadaan Adam.

“Kecuali iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir. Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”. (QS. 38 : 74-76).

Sifat tidak mau diremehkan, perasaan ingin terus diunggulkan, obsesi selalu berpangkat kekuasaan, syahwat percepatan kekayaan profan, dan ego libido “numero ono” inilah yang menjadi asas gerakan hizbusy syaithon.

Anehnya, perbuatan setan banyak dikutuk manusia tapi kita sekaligus manusia sendiri menyukainya dengan meniru sifat dasar setan. Manusia melibatkan diri ikut kumpulan setan.

Literatur berita di media kita akhirnya penuh baku tengkar sesama manusia. Pada fungsi sosial dan kehidupan berbangsa kita khususnya, tak ada lagi harmoni. Ajang muktamar yang idealnya dipenuhi nalar orang benar, berubah jadi arena adu jotos dan makian.

Pun di panggung politik yang mestinya berguna menampilkan kemajuan negara, berganti alih fungsi jadi pentas kejahatan manusia.

Pemicunya adalah sifat sombong, sifat tidak mau dipimpin, sifat tidak mau diremehkan, sifat tidak mau bersatu rukun, sifat ingin dipuji, sifat ingin diakui, itulah sifat sekumpulan setan.

Pada lingkup pribadi, kebiasaan kita yang suka membenci orang bersalah, adalah bagian dari sifat hizbusy syaithon. Ya, hanya setan yang ingin manusia sesat selamanya. Cuma setan yang mau manusia mati masuk neraka. Setanlah yang senang ketika anak manusia wafat tidak sempat meminta ampun dan bertaubat.

Maka jika kita benci orang berdosa, membiarkannya terus salah, memaki-makinya agar kian tersesat, menjauhinya agar ia terkucil, tidak memberi kesempatan mereka untuk berbuat baik, apalagi tidak berusaha menolong mereka agar bertaubat, berarti kita senang para pendosa itu disiksa dalam neraka.

Dan itu berarti kita sama dengan setan yang bersumpah hendak menyesatkan anak manusia sebanyak-banyaknya. Tanpa sadar jasad kita berwujud manusia, sedang nyawa kita menyaru setan. Na’udzu billahi min dzaalik.

Laku mubazir boros memanfaatkan pemberianNYA, juga termasuk sifat kumpulan setan. Mubazir air, perusakan lingkungan, nafsu konsumtif berlebihan sehingga menumpuk sampah di pembuangan, penggunaan anggaran tak sesuai kebutuhan, hajatan yang menghabiskan uang milyaran, perebutan jabatan yang membuang-buang keuangan, juga bagian dari laku mubazir.

Sedang sifat mubazir itu adalah sifat setan. Pada praktik ini, kembali manusia –dan kita juga– sering tanpa sadar telah masuk dalam sekawanan kumpulan setan.

Agar tidak termasuk sekumpulan setan, Allah telah memerintahkan kita agar menyikapi setan sebagai musuh yang kudu diwaspadai sebagaimana firmanNYA, “Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia sebagai musuhmu. Sesungguhnya setan itu mengajak orang yang segolongan dengannya, agar bersama-sama menjadi penghuni neraka sa’ir” (QS. Fatir: 6).

Selanjutnya Allah pun mengajarkan kita doa penangkal bila setan datang menggoda, “Dan jikalau setan mengangganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah.” [QS. Fussilat:36]. “

“Dan jika mengenaimu satu gangguan dari setan, maka hendaklah engkau memohon perlindungan kepada Allah, sesungguhnya Allah selalu dalam keadaan Mendengar dan Mengetahui.” (QS. Al-A’raf : 200)

Sebagai antisipasi seterusnya, usahakan setiap keluar masuk nafas kita, iringi konsentrasi mengingat Allah dan sertai dengan doa perlindungan dari kehadiran serangan setan, sebagaimana firmanNYA:

Dan berdo’a lah: Ya Tuhanku, aku berlindung kepadaMu dari bisikan bisikan setan. Dan aku berlindung kepadaMU ya Tuhanku dari pada kehadiran mereka (setan setan) didekatku.” (QS. Al Mu’minun : 97-98).

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s