Menangis & Mengingat Mati

Kitab tarjamah Durrotun Nasihin menceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah duduk bermajelis taklim bersama para sahabat. Topik yang didawuhkan Rasulullah membuat para sahabat menangis.

Usamah bin Zaid yang saat itu belum bisa menangis berkata, “Aku mengadu tentang kekerasan hatiku Ya Rasul. Kenapa ia demikian?”. Maka Rasulullah meletakkan tangan beliau ke dada Usamah, lalu bersabda: “Minggatlah hai musuh Allah”. Kemudian Usamah pun menangis karena hatinya melembut setelah disentuh Rasulullah.

Setelah itu Rasulullah bersabda: “Kebekuan air mata akibat hati yang keras. Kekerasan hati karena banyak dosa yang kemudian lupa mengingat mati. Itu terjadi karena sering lama melamun harta dunia. Dan cinta harta dunia merupakan pangkal segala kejahatan.”

Pembaca Lentera yang mulya, pada saat-saat tertentu hati kita ini membutuhkan pencairan agar tidak beku dan mengeras. Diantara prosesnya bisa dilakukan dengan cara menangis melelehkan air mata.

Kisah Usamah tadi serta dawuh Rasulullah menyiratkan pesan, bahwa orang yang hatinya keras bisa dicairkan dengan cara menangis taubatan nasuha menginsafi dosa, menghindari jebakan cinta harta dunia dan rajin merenungkan hari kematian.

Mengingat mati adalah ciri cerdas diri dan tanda orang yang beriman. Begitu serius perintah ingat mati ini sampai Rasulullah pernah mendapatkan peringatan “ilham kematian” dari Allah SWT dalam sebuah ayat Al Quran, “Sesungguhnya engkau akan mati dan sesungguhnya mereka semua akan mati pula” (QS. 39: 30)

Relevansi menangis dan mengingat mati adalah proses pelembutan hati, penenangan jiwa dan ikhtiar perbaikan etos kerja. Tangisan perenungan akan melatih kepekaan jiwa, lembutnya hati, kesalehan sosial, kesantunan ucapan dan keterampilan refleksi dosa diri.

Air mata taubat yang dialirkan secara serius dan khusyu’, menurut Rasulullah, bisa memadamkan panas api neraka di akhirat nanti. Lewat tangisan air mata kita, mata hati akan terbuka dan jernih menatap masa depan akhirat. Perilaku menjadi zuhud dan tidak tergoda loba oleh pesona kesenangan dunia.

Mengingat mati akan mengerem ambisi duniawi yang sering tak terkendali. Selain itu ingat mati bisa meningkatkan etos kerja berlipat ganda. Ya, karena dengan mengingat mati pekerjaan kita akan fokus untuk dua tujuan sekaligus, yakni memenuhi kebutuhan akhirat dan dunia. Plus menanggung kebutuhan keluarga sekaligus memikirkan kebutuhan bangsanya.

Hasil kerja akan ditasarufan untuk kebersamaan, dibagikan untuk kepentingan agama, bangsa, dan negara yang membutuhkan. Bukan hanya dinikmati untuk pribadi atau keluarganya saja. Karena paham bahwa kematian bisa datang kapan saja, maka untuk memenuhi kebutuhan akhirat dunia itu, waktu, energi, pikiran, harta dan tenaganya akan diforsir sekuat-kuatnya. Seolah tidak sempat istirahat karena kuatir maut keburu menjemput.

Maka segera saja kebutuhan itu harus dicukupi. Etos kerja dipacu dengan semangat fastabiqul khoirot, berlomba menanam investasi sedekah plus setoran amal kebaikan. Bekerja dan berusaha di dunia untuk kebutuhan keluarga dan umat, yang hasilnya akan dituai setelah kita wafat.

Allah SWT berfirman dalam Al Quran, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. 59:19)

Melalui ayat tersebut, Allah memerintahkan agar kita berfikir tentang “hari esok”, yakni mati yang sewaktu-waktu akan mengakhiri pekerjaan kita di dunia ini.

Kembali pada fadhilah menangis, diceritakan dalam Durotun Nasihin, bahwa sahabat Umar r.a. adalah pribadi yang sangat lembut hatinya. Walau dikenal dengan karakter keras, namun beliau sering menangis karena ingat kematian dan tuntutan amalan.

Setiap hari Jumat, beliau membaca buku catatannya selama sepekan. Ketika mendapati perbuatannya yang tidak diridhoi Allah SWT, beliau memukulkan cambuk pada tubuhnya sendiri sambil berkata, “Inikah yang kau perbuat ?”.

Rasulullah pun pribadi yang lembut hatinya dan sering menangis prihatin karena jiwa kasih memikirkan umatnya. Dalam sebuah hadis diriwayatkan, “Andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis” (HR. Bukhari & Muslim).

Dua poin dari tulisan ini, yakni menangis dan mengingat mati dapat kita jadikan renungan harian. Saat hati kita mengeras, beku, dan tidak peduli pada nasib saudara sebangsa, cobalah menangis dengan mengingat kematian yang segera tiba.

Ketika kesibukan karir ambisi duniawi memerkosa raga kita, menyita konsentrasi dan energi, menghabiskan hari-hari, hingga melupakan Allah SWT dan kehidupan akhirat, maka redakan nafsu itu dengan mengingat mati.Diamkan sejenak aktifitas dan renungkan saat-saat kritis naza’, ketika jasad berpisah dengan hayat.

Selanjutnya kita semua berharap dapat meneladani Rasulullah dan para sahabat. Tentang ciri kepribadian beliau-beliau yang lembut hatinya dan kuat etos kerjanya. Beliau bisa seperti itu karena membiasakan diri dengan tangisan perenungan dan ingat hari kematian.

Pada kisah Usamah kita bisa belajar mencairkan kekerasan hati. Pada kisah Umar r.a. kita bisa melenadani laku prihatin dan kebiasaan baik menuliskan catatan amalan setiap pekan. Pada Rasulullah, kita belajar menangis prihatin karena memikirkan bangsa manusia yang lupa akhiratnya akibat sibuk memenuhi kebutuhan dunianya saja.

Rasulullah bersabda dalam sebuah hadis, bahwa amalan diangkat setiap hari Senin dan Kamis. Maka saya ajak pembaca Lentera semua untuk merenungi hari ini. Tengok bagaimana isi catatan amalan kita? Sudah penuh kebaikan atau justeru dipenuhi kejahatan?

Mumpung masih hidup dan belum mati, segeralah koreksi diri. Tangis air mata kita akan melembutkan hati dan bersemangat menyiapkan bekal hidup setelah wafat. Sebagai renungan penutup, mari kita renungi firman Allah melalui ayat Al Quran berikut ini:

“Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. 3:185)

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s