Bangunlah Jiwanya

Judul tulisan ini terambil dari penggalan lirik lagu kebangsaan kita “Indonesia Raya” gubahan WR. Supratman.

Selengkapnya lirik dari reffrain itu adalah “Hiduplah tanahku//hiduplah negeriku//bangsaku rakyatku semuanya//Bangunlah jiwanya, Bangunlah badannya//untuk Indonesia Raya//Indonesia Raya Merdeka Merdeka//Tanahku negeriku yang kucinta//Indonesia Raya Merdeka Merdeka//Hiduplah Indonesia Raya//”

WR. Supratman memperkenalkan lagu ini pertama kali pada kongres pemuda 28 Oktober 1928. Pesan amanat yang termuat dalam lagu kebangsaan ini, cocok menjadi renungan saat kita memperingati Hari Pahlawan, hari ini 10 Nopember.

Khususnya pada petikan lirik “Bangunlah Jiwanya Bangunlah Badannya”, para pahlawan mewariskan wasiat hebat nan bijaksana bagaimana kita seharusnya mengelola kemerdekaan yang telah mereka perjuangkan.

Sebagaimana yang diketahui, Indonesia terdiri dari berbagai budaya, suku, bahasa, dan ribuan wilayah kepulauan yang terpisah lautan. Dari profil itu mereka nampak berbeda lahirnya.

Namun atas rahmat Allah Yang Maha Kuasa, proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 mampu menyatukan perbedaan itu.

Ya, ketika itu jiwa-jiwa Indonesia mampu bersatu walau berbeda-beda raga penampakannya. Karena jiwa Indonesia dibangun bersama dalam rahim cita-cita “Pertiwi harus merdeka”.

Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Bangunlah kesadaran bahwa Indonesia adalah bangsa yang berketuhanan dan berfigur teladan pemimpin kebenaran. Sehingga dengan itu, perilaku kita akan bersatu, berkeadilan, dan berbudaya manusia sebagai ciri makhluk mulya.

Bangunlah generasi yang beruhani suci dari rahim-rahim beradab ibu pertiwi. Sehingga dengan itu Indonesia ke depan akan dipimpin oleh seperangkat pemerintahan yang sehat, bermartabat, beretos kuat, amanat, ikhlas bersemangat dalam bekerja melayani rakyat.

Bangunlah komunitas manusia yang beriman dan bersemangat akhirat, sehingga usaha produktif mereka akan membawa keadilan sosial bagi manusia Indonesia dan umat seluruh dunia.

Karena jiwa-jiwa yang sudah tertanam keyakinan akhirat, sudah pasti akan bekerja untuk mengupayakan kesejahteraan dan keadilan sedulur sebangsanya di dunia tanpa pandang SARA.

Bangunlah kembali jiwa manusia Indonesia yang bekerja sekuat-kuatnya tanpa tergoda loba materi dunia, sehingga dengan itu pemerataan pembangunan dapat segera dirasakan.

Praktik riilnya bisa dimulai dari upaya pendidikan karakter akhlakul karimah di level masyarakat terkecil yakni di keluarga kita.

Pilihan karir pekerjaan, sumber rejeki yang kita dapatkan, materi pembicaraan yang kita biasakan, adab komunikasi yang kita lakukan, kesucian makanan minuman yang kita suguhkan, pustaka dan tontonan yang kita sediakan, isi hati dan pikiran yang kita aktivasikan, doa dan harapan yang kita angankan, semua itu adalah materi belajar pendidikan kehidupan kekeluargaan.

Dari kisi-kisi materi itulah, bangunan jiwa anak-anak dan keluarga kita akan terbentuk. Bila ruh belajar itu diambil dari sumber yang benar, maka jiwa generasi Indonesia akan kembali pada fitrah keunggulannya.

Sebaliknya bila ruh belajar itu dibuat dari sumber yang keliru, maka kita akan lihat generasi Indonesia sedang berlomba menggali sendiri kuburannya.

Bangunlah jiwanya dan bangun fisiknya akan mengiring serta. Kembalikan fitrah kemanusiaannya, maka dampak pekerjaan fisiknya akan terlihat bermanfaat. Bangunkan jiwa makhluk sosialnya, sehingga sifat jahat serakahnya bisa hilang.

Perbanyaklah asupan makanan ruhani berupa doa konsentrasi mengingat Allah di manapun-sedang apapun-kapanpun, sehingga jiwa dan hati ini dipenuhi cahaya iman yang berenergi plus vitamin kebenaran ilahi.

Pada level pendidikan di tingkat institusi, seyogyanya bukan pembangunan fisik yang dikebut kemegahannya. Tetapi pada jiwa-jiwa pengelola dan pengajarnya, sewajibnya diseleksi dulu, apakah mereka sudah memiliki profil keteladanan seorang guru (digugu & ditiru) ataukah sekadar “fasilitator belajar”?

Apakah mereka siap dijadikan panutan sikap keIndonesiaan ataukah sekadar terampil mengkhutbahkan teori keilmuan?

Bangunan fisik fasilitas pendidikan yang mahal dan hanya mengejar status “unggul” atau standar-standar ngibul, sudah waktunya dihentikan. Karena toh bila raihan status dan unggul fisik itu didapat melalui tipu-tipu, keluaran hasil muridnya akan gagal secara moral.

Praktik “komisi”, success fee, pelicin, dll dalam proyek pembangunan, ujung-ujungnya terbukti menyalahi bestek. Akibar jiwa manusianya sudah rusak duluan, maka hasil bangunan fisiknya juga cepat rusak.

Kondisi Indonesia yang sekarang gemar bertengkar antar sedulur sendiri ini, bisa jadi pelajaran. Betapa prioritas pembangunan yang berorientasi fisik dan melupakan pembangunan “jiwa” manusianya, membuat kita kehilangan budaya Indonesia.

Rupa fisik kita memang masih berciri manusia Indonesia, tetapi akhlak, jiwa, dan perilaku kita mirip alien predator yang luar biasa buasnya.

Maka lewat petikan lagu Indonesia Raya itu dan renungan Hari Pahlawan, saya mengajak kepada kita semua, “marilah kita bangun jiwa-jiwa keluarga kita menjadi manusia seaslinya”.

Ayo kita kembalikan fitrah manusia Indonesia kepada awal cita-cita para pejuang kemerdekaan dan pendiri republik ini. Yakni manusia yang berjiwa asah-asih-asuh dan menghargai hak merdeka setiap makhluk hidup di bumiNYA.

Para pahlawan telah menorehkan catatan sejarah perjuangan. WR. Supratman telah mewariskan panduan pembangunan manusia Indonesia lewat sepenggal lirik lagunya, “Bangunlah jiwanya, Bangunlah badannya”. Sekarang saatnya kita semua memutar sekuel kesejarahan perjuangan para pahlawan.

Sudah sepatutnya lagu Indonesia Raya yang memuat wasiat cita-cita mulya manusia Indonesia, kita amalkan untuk kemaslahatan umat di seluruh dunia.

Melalui pembelajaran di lingkungan keluarga dan institusi pendidikan, kita kader generasi Indonesia yang berjiwa perwira dan bersemangat pahlawan.

Selamat Hari Pahlawan ! Bismillaah, Merdeka !!!


Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s