Takbir Cinta Ibrahim

Diantara dua puluh lima Rasul yang jamak diketahui, Rasulullah Ibrahim a.s. memiliki keistimewaan tersendiri yang diberikan oleh Allah. Beliaulah yang diyakini menjadi “Bapak 3 Agama Terpopuler di Bumi”: Islam, Nasrani dan Yahudi.

Rasulullah Ibrahim termasuk diantara lima rasul ulul azmi. Doa-doanya yang masyhur banyak mengisi halaman Al Quran. Dalam bacaan tahiyyat, namanya ditaburi sholawat selain ditujukan bagi Rasulullah Muhammad. Iman tauhidnya kepada Allah begitu kuat dan melekat sehingga Ibrahim digelari Khalilullah, Sang Kekasih Allah.

Sejak muda, Ibrahim ditempa ujian kecerdasan iman melalui serangkaian proses perjalanan spiritual yang luar biasa. Untuk pilihan hidup itu semua, beliau selalu berdiri sendiri dan berani berbeda dengan paham manusia umumnya. Hanya Allah kerabat terdekatnya.

Akibatnya, Ibrahim pun kenyang dengan penentangan kaumnya. Beliau dibakar, dikejar-kejar Namrudz, diusir bapaknya yang memuja berhala, mengembara sampai akhirnya Ibrahim menyepi di tanah suci bersama isteri dan keluarganya.

Atas petunjuk Tuhannya, Ibrahim a.s membawa Ibu Hajar bersama Ismail kecil ke padang gersang yang asing dan tiada tanda kehidupan. Di bumi Bakkah yang panas itu, Ibrahim kemudian meninggalkan isteri dan anaknya.

Beliau hanya memberikan sebait doa cinta. Kepada Allah saja, Ibrahim menitipkan dua makhluk yang dicintainya itu. Ibrahim sangat percaya, Allah beserta kasih dan kuasaNYA akan selalu menjaga mereka berdua.  Allaahu Akbar.

Mari kita sejenak merenungkan peristiwa ini. Ibu Hajar dan Ismail adalah qurrota a’yun, penyedap mata bagi Ibrahim. Karena setelah lama berkeluarga, beliau tak kunjung dikarunia putera. Sehingga ketika Ismail lahir ke bumi, asa Ibrahim meninggi. Kelak, Ismail diharapkan bisa mewarisi etos kerja profetiknya.

Namun ketika Ismail sedang bayi lucu-lucunya, Allah memerintahkan Ibrahim agar “membuang” dua cinta garwa (sigare nyawa) itu jauh-jauh ke tempat baru yang belum pasti dituju.

Allah memberikan pelajaran bahwa cintanya orang mu’min kepada Allah itu murni dan berlebih-lebih. Cinta kepada Allah tidak boleh kalah oleh hasrat cinta dunia. Innalladziina aamanuu asyaddu hubba lillaah.

Tetapi bagi kita semua yang berjiwa basyar manusia, pelajaran itu mungkin akan sangat sulit dan berdilema. Terutama bagi Ibrahim, betapa sulitnya beliau harus memilih antara jiwa kerasulan dan rasa cinta keluarganya sebagai bawaan naluri manusia biasa.

Namun Ibrahim akhirnya terbukti dan teruji bahwa takbir cintanya kepada Allah melebihi cintanya kepada dunia beserta keluarganya. Beliau patuh menjalani semua perintah itu dengan kalimatnya yang terkenal, “aslamtu li robbil ‘aalaamiin” (aku tunduk pasrah kepada Tuhan semesta).

Ritual yang kemudian mengilhami lari sa’i antara bukit Marwah dan Shofa ini, mudah kita ceritakan sekarang. Tetapi bila saja kita hidup saat itu, mungkin kita akan mencela Ibrahim orang gila atau bapak yang aneh. Bagi penyuka teori pengasuhan terkini, mungkin menganggap tingkah Ibrahim seperti parenting sinting, “Wong anak isteri sendiri kok ditelantarkan.”

Sekuel kisah Ibrahim itu mengajarkan bahwa cinta butuh pengorbanan. Cinta juga harus berdimensi ilahi. Ternyata “sekolah pembuangan” Ibu Hajar dan Ismail itu adalah proses ilahiah yang kemudian melahirkan Ka’bah, Rasulullah Muhammad, Islam, dan ritual rukun haji sampai kini. Cinta Ibrahim kepada Allah yang melebihi cinta kepada keluarganya, membuktikan betapa sakralnya pekik labbaik Allaahumma labbaik.

Lalu pada kisah berikutnya yakni ketika Ibrahim diwahyukan menyembelih Ismail. Kita bisa menyaksikan betapa cinta Ibrahim diuji lagi. Apakah ia terikat cinta dunia dengan membebaskan Ismail ataukah lebih cinta kepada Allah dengan menyembelih puteranya itu. Ternyata Ibrahim teguh memilih cinta kepada Allah melebihi dunia dan rasa manusiawinya.

Berpekik Allaahu Akbar, Ibrahim menetak pedang itu ke leher putera tercintanya. Beliau meneriakkan takbir untuk mengusir nafsu cinta fananya. Sambil tetap menyisakan rasa manusianya, Ibrahim menguatkan tekad dengan melafal Laa ilaaha illallaah.

Ya, arti tahlil itu tidak sekadar “tiada Tuhan selain Allah”. Tetapi Laa ilaaha illallah yang dimaknai Ibrahim adalah “tiada apa-apa di dunia ini selain hanya dzatNYA yang menggenangi semesta”. Tidak ada Ismail, tidak ada rasa manusia, tidak ada dunia seisinya. Maka sudah sepatutnya tauhid ini dimurnikan hanya melalui cinta dan kepatuhan pada semua perintahNYA.

Maka takbir dan tahlil itu dapat mengekalkan cinta Ibrahim kepada Allah. Dengan takbir cinta hubbalillaah itu, beliau berhasil menisbikan cintanya kepada putera yang berpotensi ditunggangi wahn (cinta dunia).

Takbir itu berdimensi cinta akhirat sekaligus dunia. Di benak kerasulan Ibrahim mungkin terbersit, “biarlah bapak dan anak sementara berpisah di dunia, tapi bisa bertemu kembali di akhirat dalam ridho dan ampunanNYA” dengan cara mematuhi wahyu penyembelihan ini.

Karena cinta Ibrahim itu berdimensi ilahi, maka nyambung cintanya kepada Ismail. Sang putera inilah yang menguatkan wahyu mimpi itu dengan kalimat peneguhnya, “Abi, laksanakan perintah Tuhanmu ini. InsyaAllah Abi akan mendapati aku seorang hamba yang ikhlas menerima kepastianNYA.”

Semakin trenyuh dan terpekiklah jiwa rasul sekaligus jiwa manusia Ibrahim mendengar ketulusan hati puteranya. Karena berhasil mengusir cinta nafsu dan memilih cinta Allah, maka ujian tersebut dihadiahi domba pengganti yang dilestarikan lewat Idul Qurban hingga kini. Allaahu Akbar wa lillaahil hamdu.

Takbir cinta Ibrahim berdampak kasih sayang. Allaahu Akbar-nya diteriakkan untuk mengusir nafsu cinta duniawi yang sering ngendon dalam diri. Allaahu Akbar digunakan untuk melawan rasa enggan berkorban, terutama berkorban memberikan sesuatu yang dicintainya untuk kepentingan Tuhan. Pekik tahlil dan takbir Ibrahim melahirkan cinta berdimensi murni ilahi, ukhrowi dan bermanfaat duniawi.

Berbeda dengan anomali mayoritas dunia saat ini, teriakan Allaahu Akbar sering diselewengkan untuk politik kekerasan dan semangat perebutan kekuasaan. Takbir digemakan secara liar, brutal, horor sosial, penuh kebencian dan vandal. Sungguh aksi pencitraan buruk yang merusak kisah cinta Ibrahim, keluarganya dan ajaran kasih tiga agama besar warisannya.

Khusus bagi kita kaum Muslim, takbir cinta Ibrahim mengajarkan bahwa kepergian ke tanah suci seyogyanya diniati praktik pengorbanan cinta duniawi.

Pada niat itu, teselip tekad bahwa tidak ada kepemilikan apapun selain semua hanyalah milikNYA semata. Sehingga pada akhirnya kita bisa mengikuti jejak Ibrahim. Tanpa pasang inisial “H” di depan nama, kita bisa membuktikan cinta kepada Allah melebihi cinta kepada diri, keluarga, harta, kedudukan, dan dunia seisinya.

Untuk latihan mengikuti jejak Haji Khalilullah Ibrahim, saya mengajak hari ini, esok pagi dan lusa, mari kita semua berpuasa. Kamis ini kita puasa sunnah, Jumat puasa tarwiyah, dan lusa puasa Arofah. Latihan kecil-kecilan menahan nafsu makan itu semoga membiasakan kita dapat melantukan takbir Allaahu Akbar secara benar.

Takbir mengusir egosentris dan sifat tamak dunia. Takbir menggemakan cintaNYA yang berdampak cinta kepada sesama manusia di seluruh dunia. Allaahu Akbar. Laa ilaaha illallaahu Allaahu Akbar. Allaahu Akbar wa lillaahil-hamdu.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s