Petisi Al-Kahfi

Surabaya Post, Kamis (27/10/2011)

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan/penyelewengandi dalamnya. Al Quran sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik.

Rasulullah Muhammad SAW pernah menyarankan kita semua, agar setiap jelang Jumat sudi membaca Surat Al Kahfi. Afdol membaca surat ini sejak terbenamnya matahari pada Kamis sore hingga Jum’at senja.

Hari ini Kamis bertepatan terbitnya Lentera, mari kita ngaji merenungi petisi dalam surat Al Quran bersandi 18 ini. Ada serangkaian tuntutan yang harus segera kita wujudkan bersama jika ingin hidup mulia sebagai manusia beragama, berbangsa & bernegara.

Pertama, Al Kahfi mengilhami pesan bahwa harapan kebangkitan Indonesia masih tersisa di bahu para pemuda. Sebagaimana kisah penghuni Al Kahfi, heroisme para Rasul/Nabi, serta epos  pahlawan republik ini, para pemuda seyogyanya bisa jadi pejuang yang setia menggerakkan kebenaran.

Kepada pemuda  Indonesia, kita menuntut agar mereka bisa menyegerakan perubahan kehidupan yang  sesuai nilai-nilai Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika. Kita berharap mereka ini memiliki militansi seteguh pemuda Al Kahfi.

Mereka kudu berani melawan arus keumuman, berani miskin materi, berani menjauhi godaan kekuasaan, bersih dari ambisi duniawi, menutup telinga dari kabar tidak benar, bernyali meski kalah jumlah, dan bersabar tahan uji sampai mati.

Kedua,  Al Kahfi menuntut kita agar sabar berjuang bersama-sama orang-orang yang menyebarkan kalimat tauhid di pagi dan senja hari, hanya mengharap keridhaan-Nya. Janganlah mata hati kita terpesona dan ikut merebut perhiasan dunia yang fana. Janganlah kita mengikuti orang yang hatinya telah lalai dari mengingat Allah, diperbudak hawa nafsu dunia, dan orang perilakunya melewati batas.

Ketiga, kepada kita yang dititipi rejeki, Al Kahfi berpesan jangan arogan sambil mengklaim semua kepemilikan sebagai properti pribadi dan hasil olah kepintaran kita sendiri. Nyatakan bahwa semua karunia semata milikNYA, bukan karena usaha atau kecakapan kita sehingga kita enggan menyedekahkannya. Ingatlah sungguh kita tidak punya apa-apa dan amalan shalih adalah rejeki terbaikNYA yang harus kita raih segera.

Keempat, melalui cerita Nabi Musa as dengan Khidir as, Al Kahfi menuntut kehati-hatian kita terhadap godaan kasta cendekia dan ego tokoh agama. Bacalah, betapa Nabi Musa yang berderajat Rasul dan bergelar kalamullaah saja, masih diperintah Allah belajar nilai sabar serta keutamaan sikap merendah kepada Khidir. Allah menghendaki seperangkat syariat Nabi Musa mesti dilengkapi ilmu thariqot, haqiqat dan makrifat milik Khidir.

Nabi Musa alpa dan sempat terpeleset dengan status maksum kebenarannya, sehingga Allah perlu menegurnya dengan cara menyuruhnya berguru ke Khidir. Lewat kisah ini, Al Kahfi menuntut keinsyafan kita semua yang sering mengaku benar melulu. Apalagi yang sudah bergelar tokoh agama ternama, biasanya enggan menerima peringatan dari orang awam.

Maka sebagaimana lakon Nabi Musa, mari kita berani mengaku “masih bodoh” dan bersemangat belajar lagi. Bagi kita tokoh agama, jangan puas dulu dengan status “benar” berstandar manusia umumnya.

Logikanya, kita tidak akan lebih pintar, lebih benar, lebih alim, lebih khusyu’, lebih baik, dan lebih beriman daripada Nabi Musa. Beliau yang berkategori ulul azmi masih perlu sabar berguru ke Khidir, sehingga sangat naif jika kita manusia biasa (atau baru dipanggil Kyai, Gus, Habib, Ustadz, Syaikh saja) sudah merasa cukup ilmu dan enggan mengaku pernah keliru.

Kelima, bagi kita yang saat ini sedang berbangsa dan bernegara. Al Kahfi menyerukan tuntutan dua model pilihan pemerintahan. Model Dzulqarnain yang bekerja sekuat tenaga menyejahterakan rakyatnya,  memerintah sesuai bimbingan Tuhan, tidak tergiur gaji duniawi, serta menepati janji yang sudah disepakati.

Model lainnya adalah pemerintahan Ya’juj Ma’juj yang merusak, membunuh, mencuri, merampok, memfitnah, menipu, mengadu domba, dan kemana-mana menebar onar sesama bangsa manusia.

Pilihan pemerintahan itu berpulang pada kecerdasan iman kita rakyat semua, saat memilih dan mempercayai mereka. Jadi jangan salahkan bila terjadi pemerintahan yang keliru, karena itu juga bagian dari kesalahan kita sendiri. Al Kahfi merefleksi kita semua, pilihan Ya’juj Ma’juj atau Dzulqarnain itu bisa terlihat dari perilaku kita sehari-hari.

Kalau usaha dan hasil kerja kita lebih banyak dihabiskan untuk kebutuhan dunia dan mengenyangkan pribadi atau sekeluarga saja, berarti kita meniru pemerintahan model Ya’juj Ma’juj.

Sebaliknya bila rejeki halal kita lebih banyak dikirim ke akhirat, disedekahkan untuk kebutuhan agama, bangsa, dan negara, maka kita mengikuti model kepemimpinan Dzulqarnain. Ingat, pada level terkecil, kita semua adalah pemimpin di “pemerintahan pribadi” dan atau “pemerintahan keluarga”.

Kepada pemuda, kita titipkan aspirasi ayat-ayat Al Kahfi ini sekaligus materi renungan peringatan Sumpah Pemuda, Jumat esok pagi. Kepada para pemilik rejekiNYA, jangan arogan meremehkan wong cilik dan akui semua rejeki itu milih Tuhan. Kepada pemerintah, kita amanatkan petisi ilahi ini agar mereka segera berubah dan memimpin seperti Dzulqarnain.

Kepada para cendekia dan tokoh agama, kita serukan mereka kudu meniru Nabi Musa yang mau merendah dan bersemangat belajar benar. Kepada masyarakat, kita sampaikan tuntutan agar mereka tidak mengikut tradisi Ya’juj Ma’juj yang suka merusak akibat kebodohan dalam memahami kebenaran.

“Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-MU dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.” Aamiin. 

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s