Ketika Sang Penggembala Tiada

Mendekati hari-hari akhir hayatnya, Rasulullah bersabda di hadapan para sahabat, “Seorang hamba Allah oleh Tuhan telah disuruh memilih antara dunia dan akhirat dengan apa yang ada padaNya, maka ia memilih yang ada pada Tuhan.” Para sahabat terdiam mencoba mengartikan sabda Rasulullah itu.

Namun Abu Bakar yang cerdas imannya segera tahu bahwa pesan itu bermakna tugas profetik Rasulullah di dunia akan segera purna. Maka Abu Bakar pun menangis sambil berkata, “Tidak. Bahkan tuan akan kami tebus dengan jiwa kami dan anak-anak kami.”

Kuatir tangis haru ini akan menjalar kepada sahabat lain, Rasulullah dengan lembut memberi penghiburan kepada Abu Bakar : “Sabarlah, Abu Bakar.” Ternyata benar firasat Abu Bakar. Beberapa hari berlalu setelah peristiwa itu, Rasulullah meninggalkan dunia, dipanggil menghadap kekasih sejatinya, Allah SWT.

Tangisan Abu Bakar selain karena cinta yang besar juga dilatari keprihatinan tinggi. Ia sangat sadar betapa kehadiran Rasulullah sangatlah penting dibutuhkan sebagai figur penggembala yang bisa merapikan dinamika manusia. Terutama di komunitas Arab yang masa itu kental dengan budaya tribal, figur Rasulullah terbukti mampu membuat etnis-etnis suku bersatu dalam sumpah janji bertauhid ilahi.

Abu Bakar sadar, bila Rasulullah wafat maka wahyu ilahi akan terhenti dan perpecahan bakal sulit dihindarkan. Terbukti kemudian, beberapa saat saja sebelum jenazah Rasulullah dikebumikan, nyaris terjadi adu fisik antara sahabat Muhajirin dan Anshar karena beda rembugan mengenai suksesi kepemimpinan. Belum sampai hitungan harian ditinggal Rasulullah, umat sudah terpecah.

Maka kalau sekarang ribuan tahun setelah kewafatan sang utusan, kita bisa lihat secara kasat mata betapa memprihatinkan kondisinya.

Lihatlah sedemikian besar potensi umat beragama saat ini, tapi alih-alih bersatu memperkuat barisan kerukunan, justeru diantara mereka saling adu juara adigang-adigung-adiguna. Betul di mana-mana bergema pujian kepada Rasul, tapi teladan Sang Junjungan sedikit sekali yang diikuti.

Keadaan miris ini sudah dikabarkan dalam Al Quran: “Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. 30 : 32)

“Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).” (QS. 23 : 52).

Selain bertupoksi pemimpin, Rasulullah adalah figur utama seorang penggembala. Sedangkan umat adalah domba-domba sakit dan tersesat yang hendak dicarikan obat plus jalan selamat. Maka ketika sang penggembala masih menunggui kawanan domba, ada jaminan domba-domba itu akan tertib dan menuruti peringatan sang penggembala. Domba akan dijaga agar sehat bebas penyakit, terjaga dari gangguan srigala, tidak makan tanaman orang, tidak saling gontok-gontokan, tidak kacau berkeliaran, dan tidak akan lari dari tali kendali.

Tetapi begitu sang penggembala tiada, maka kawanan domba akan bertingkah ngawur seenaknya. Mereka makan tanaman orang, kacau balau berlarian, saling adu sungu gontok-gontokan, dan akhirnya terlepas dari kekang kendali. Domba-domba itu pun kembali berpenyakit karena tidak dirawat, ada yang dimakan serigala, tersesat, dan ke mana-mana membuat keonaran.

Demikianlah, ketika para Rasul “penggembala” itu wafat dan meninggalkan “domba” umatnya, terjadilah kegaduhan luar biasa. Umat yang semula sehat dan terawat menjadi merana, liar, sakit, dan buas tak terkendali lagi. Apalagi ada penyakit musuh setan dalam hati manusia yang selalu menyesatkan dan mengadu domba para pengikut Rasul.

Maka terjadilah fenomena kerusakan umat saat ini. Semua kelompok mengaku benar sendiri dan memfatwa sesat kelompok lainnya. Tidak ada ketertiban, kerukunan, kebersatuan. Adanya kekacauan, permusuhan dan perpecahan. Persis seperti domba yang ditinggalkan penggembala.

Fenomena kerusakan umat akibat tiadanya Rasul ini menggejala di semua keyakinan agama, bukan cuma menimpa satu agama saja. Sehingga keprihatinan ini hendaknya disadari oleh kita semua, umat manusia yang pernah dikabari firman-firman utusan Tuhan.

Jikalau kita semua memang benar adanya, pasti akan rukun bersatu di bawah komando tauhidNYA. Sebaliknya, bila kita saat ini sibuk bertengkar sendiri, berarti ada di antara kita yang salah. Bisa jadi jiwa kita semua begitu gelap diliputi dosa sehingga petunjuk kebenaranNYA sulit masuk ke hati kita.

Indonesia dengan ragam kekayaan ribuan budaya dan suku bangsa, mestinya penuh potensi yang layak disyukuri. Namun nyatanya, hari-hari ini kita disuguhi pementasan adegan kekacauan tiada henti. Potensi kita populasi Muslim terbesar di dunia yang seharusnya dapat digerakkan untuk memelopori etika profetik kepada seluruh umat manusia, justru gemar beradu domba. Akhirnya kita pun kembali ke budaya tribal yang horor nan vandal.

Rintih Abu Bakar menangisi kepergian Rasul kini seolah terdengar kembali. Ribuan tahun silam kesedihan Abu Bakar bergema jauh di tanah suci. Sementara saat ini tangisan Abu Bakar kembali berbunyi dekat di negeri kita sendiri.

Yaa Allaah, mungkinkah Engkau berkenan menghadirkan kembali Rasulullah di sini bersama kami? Yaa Rahman, kasihani nasib kami yang saat ini merana, liar, sakit, terancam serigala dan malah sibuk diadu domba akibat ratusan abad lamanya tiada perawatan dari sang penggembala…..

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s