Gila

Surabaya Post, Kamis (13/10)

Sebuah surat kabar online memberitakan, jumlah penderita gangguan jiwa di Surabaya semakin meningkat. Kini, sebanyak 20 sampai 30 pasien yang mendapat perawatan tiap bulannya. “Jumlahnya mengalami peningkatan 80 hingga 90 persen,” ungkap Kepala Instalasi Rawat Inap Jiwa RSU dr Soetomo, Didi Aryani Budiyono, Rabu (12/10), dalam wawancara dengan portal berita online tersebut.

Kabar itu seolah menjelaskan peristiwa yang baru saja kami alami bersama para santri. Untuk pembaca ketahui, di asrama pesantren kami, ada pelayanan khusus bagi para psikotik dan penderita gangguan jiwa. Nah, beberapa hari lalu satu klien yang dinyatakan sembuh dan telah beraktifitas belajar rutin bersama santri lainnya, tiba-tiba berulah.

Tanpa sebab yang jelas, seorang santri dibacoknya dengan parang hingga terluka. Setelah klien psikotik tersebut dirujuk ke RSUD Soetomo,  ndilalah hari ini kami dihadiahi 1 survivor psikotik lagi. Berfikir sampai di sini, rasanya gejala gila kok kian mewabah dan bertambah saja.

Kita mungkin akan berfikir dan menilai seseorang gila ketika ia mendapatkan perawatan di sebuah rumah sakit jiwa. Kita bisa tahu seseorang itu disebut gila manakala fisiknya terpasung di balok kayu. Juga, tanda-tanda skizofrenia, psikopat yang suka ngamuk, dan paranoid yang menjerit-jerit, mungkin akan menjelaskan seseorang itu gila. Pendeknya, gejala gila bisa diketahui berdasarkan analisa medis, ilmu kejiwaan dan atau dari standar definisi umum yang kita mengerti.

Tetapi makin kesini, saat jaman kian edan, sepertinya pengertian gila menurut saya tambah samar saja. Buat saya yang awam politik, hanya orang gila saja yang berani bertaruh hingga 6600 juta (biaya balon bupati di sebuah daerah) untuk merebut kursi bupati. Jabatan selama 5 tahun itu menurut saya ndak nyucuk untuk korban modal sebesar itu.

Bayangan normal saya, kalau saja nominal itu diguyurkan untuk menghidupi home industry dan atau membuka lahan bisnis baru, mungkin akan banyak pencari kerja yang terbantu. Nah, tetapi karena orang itu (sekali lagi menurut keawaman saya) “gila jabatan”, 66 milyar itu jumlah yang murah untuk sebuah kedudukan dan kehormatan.

Ada rekan sekampung yang mengaku gila bola alias gibol. Beralasan fanatisme dan membela superioritas klub yang digilainya, ia sampai masuk penjara gara-gara tertangkap sedang ngepruk  suporter tim lain. Lucunya, ia dengan bangga mengakui “prestasi sekolah” di bui ini.

Menurut saya, ia tidak mendapatkan keuntungan apapun dari klub bola yang disukainya. Terbukti saat di penjara, bukan klub itu yang membelanya, malah kepada kami keluarganya hutang uang untuk biaya penebusan. Tetapi karena ia “gila bola”, apapun akan dilakukan asalkan demi tim yang dicintainya.

Mungkin kita pernah mendengar trend sub-kultur sophaholic. Komunitas manusia yang gila belanja. Mereka ini terdiri dari sosialita ternama, berperilaku normal seperti manusia lainnya. Tapi kalau sudah urusan beli barang yang disukainya, harga berapapun akan ditebusnya. Buat kita, gila saja mau menukar harga 500 juta untuk sebuah tas produk manca negara. Tapi buat mereka, duit segitu nilainya kecil untuk sekadar merawati hobby.

Seorang fanboy penggila gadget tertentu, akan rela mengeluarkan hingga ratusan juta untuk menebus produk yang baru dirilis. Padahal ia sadar fitur yang biasa dimanfaatkan hanya itu-itu melulu, tetap saja ia membelinya dengan mahal.

Menurut saya, orang seperti ini tipikal konsumen gila yang dibodohi produsen selamanya. Tapi ia justeru gembira karena puluhan hingga ratusan juta yang dikeluarkan sepadan dengan kepuasan yang ia dapatkan.

Anda tentu tahu fenomena Star Syndrome yang menggelayuti insan selebriti hari-hari ini. Demi menjaga popularitas dan nilai jual, mereka rela berkorban apa saja. Persaingan sengit diantara artis dan ketakutan ditinggalkan fans membuat mereka sering nekat tindakannya.

Menurut kita, sungguh gila jika sampai mereka sengaja bikin berita heboh (misalnya menyebar foto bugil, hobi kawin cerai, ngedrugs, dugem, dll) hanya untuk tujuan mengangkat namanya yang mulai redup akibat kalah bersaing. Tapi buat mereka, hal seperti itu normal saja dilakoninya.

Menurut Al Quran, definisi gila bisa berbeda lagi. Misalnya dalam QS. Ali Imran ayat 190-191, manusia yang berakal normal adalah mereka yang selalu ingat Allah saat duduk, berdiri (beraktifitas) dan berbaring (saat istirahat).

Kebalikannya, kalau tidak bisa berlaku seperti firman Allah itu, berarti kita tidak berakal normal. Kita yang saat bekerja atau beristirahat tidak konsentrasi mengingat Allah, Al Quran menyebut kita tak berakal alias gila. Walau nampaknya normal, tapi sejatinya pikiran kita sudah terkena gangguan jiwa.

QS. Shaad ayat 45-46 berfirman, pribadi berbudi dan berilmu tinggi adalah mereka yang selalu mengingatkan manusia kepada negeri akhirat. Mereka ini yang waras dan sadar bahwa akhirat kampung halaman sebenarnya dan dunia ini hanya persinggahan sementara.

Jadi kalau kita hanya mempersiapkan bekal hidup di dunia saja, seolah hidup selamanya, maka Allah SWT melalui Al Quran mengatakan kita edan (gila tertipu dunia). Lha wong dolan mampir ngombe, kok malah lupa pulang meneruskan perjalanan.

Klien kami yang dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo itu dinyatakan gila oleh keluarganya akibat pernah gandrung mengamalkan laku olah kanuragan. Mungkin karena wahana wadag-nya kurang kuat atau ditelikung kuasa gelap jin, sehingga syarafnya terganggu. Kita yang sekarang hidup di jaman edan ini, mungkin merasa normal dan sehat saja. Tapi bisa jadi menurut pandangan lain, kita ini sedang gila dan kurang waras secara kejiwaan.

Para Nabi dan Rasul yang mendakwahkan kebenaran selalu dianggap gila oleh umatnya. Padahal dalam pandangan Allah/Rasul, yang gila itu justeru mayoritas umat yang sedang digembalanya.

Tinggal sekarang kita pilih mana? mau ikut gila sesuai definisi medis, orang umum, gila seperti beberapa perilaku yang saya sebut di muka, gila cinta kepada dunia sebagaimana versi Al Quran, atau “gila” gandrung kepada Allah dan akhirat sebagaimana teladan para Rasul (dengan resiko dianggap gila oleh manusia di jaman edan ini)???

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s