Takut

SurabayaPost, Kamis (06/10/2011)

Sebulan ini desa saya diteror kabar liar. Penyebabnya bisik-bisik isu pocong yang sering menampakkan diri saat malam hari dan mengetuk rumah penduduk. Beberapa orang menuturkan, pocong ini jelmaan dari pesugihan yang sedang kehilangan tuan. Ada isu pemilik pocong itu  meninggal beberapa waktu lalu, sehingga si pocong keleleran mencari pengontrak baru.

Sisi positifnya, ronda siskamling kembali bergeliat swadaya setelah sempat mandeg lama. Negatifnya tidak sedikit warga yang betul-betul ketakutan termakan isu itu, terutama anak-anak dan kaum ibu. Lurung kampung yang biasanya selepas isya masih ramai, kini sepi.

Saking parahnya, anak Pak RT yang sudah gede kelas 6 SD sampai minta tidur dikeloni tiap malam karena takut isu penampakan “pocong piyatu” itu.  Sampai saat ini saya yang masih penasaran dan sengaja hunting bawa kamera belum berhasil merekam penampakannya.

Namun setelah mendengar kabar di beberapa daerah lain juga ada teror serupa, akhirnya saya khusnudzon bahwa penampakan pocong itu cuma isu. Saya percaya bahwa jin beserta aneka rupa bentuknya itu ada, tapi tetaplah Allah SWT memberi manusia peluang menang dan mengalahkan kekuatan maya mereka.

Intinya kita semua tidak perlu ketakutan berlebihan terhadap hal begituan, walau tetap harus waspada dan mengandalkan kekuatan doa. Kepada Pak RT dan beberapa warga yang mengadukan ketakutan teror pocong itu, saya tenangkan mereka dengan ngobrol curcol sebagai terapi relaksasi.

Saya guyoni mereka, “Dulu waktu kecil saya takut cerita hantu yang malu-malu dan baru menampakkan diri di malam hari. Lha sekarang ini hantunya menjelma jadi manusia, sehingga mereka berani beroperasi 24 jam setiap hari. Justeru itu yang saya takuti.”

Ya. Daripada penampakan pocong, semestinya kita lebih takut kepada teror fitnah, upaya adu domba dan setan kebohongan yang menguasai bangsa ini. Seyogyanya kita lebih menguatirkan para pemimpin, cendekia, pengamat dan tokoh masyarakat yang kata fatwanya bisa disalah-tafsirkan sehingga Indonesia mudah berpecah belah.

Jika pocong didoai Surat Empat plus ngaji Ayat Kursi langsung ngeluyur kabur, “hantu” manusia intelek ini justeru khusyuk mengamini. Bisa-bisa bacaan tajwid, makhroj dan rujukan pustaka ayat-ayat literasi kita malah dikoreksi karena mereka lebih ahli.

Semestinya kita lebih takut kepada “hantu” televisi yang 24 jam setiap hari menjadi “kiblat ngaji” dan teladan kelakuan kita bersama keluarga. Tanpa sadar pendidikan anak-anak, kita sanderakan ke layar kaca itu dan kita lupa menjalani peran sebagai pendidik generasi Rabbani.

Padahal tayangan televisi itu perlu disensor dulu karena tidak semua baik isinya.   Kalau karena takut lihat pocong ketakutan, anak-anak bergegas tidur, tapi kalau lihat televisi ini, mereka malah bangun lembur.

Dosa kita bersama keluarga yang paling sering akibat ikut arus informasi media adalah, kita ikut manggut-manggut dan turut mengiyakan saja semua kabar yang belum tentu benar. Padahal kita tahu, bahwa semua pendengaran, penglihatan, dan pikiran akan kita pertanggungjawabkan di akhirat nanti. Harusnya itu yang kita takutkan, bukan?

Dulu ada legenda sundel bolong yang suka pamer riasan di jembatan, rimbun pepohonan atau di perempatan jalan. Sekarang mereka sudah menjelma jadi manusia sundel bodong yang lenggak-lenggok berlomba audisi badan di pementasan.  Semirip namanya dan sama-sama menakutkan akibat yang ditimbulkan perilaku mereka.

Sundel bolong lumayan sopan hanya muncul malam hari dan baju kebaya mereka masih agak rapat menutup aurat. Lha sundel bodong sekarang berani muncul siang atau malam hari, udel-nya diperlihatkan kesana kemari dan mereka nyaris bugil sama sekali.

Kalau dulu orang-orang lari ketakutan dan memalingkan muka karena melihat sundel bolong, sekarang malah mendekat dan matanya kuat melotot lama menikmati tontonan sundel bodong. Dulu sundel bolong ditakuti tapi sekarang malah dibikin kompetisi resmi.

Di film horor sering disuguhkan cerita drakula dan vampir penghisap darah manusia. Sekarang di negeri kita, drakula penikmat riba kian kuat mencengkeramkan kuku-kuku hitamnya.

Ada juga gerombolan vampir penghisap pulsa yang setiap hari menggarong hak komunikasi kita. Mereka itu yang justeru saya takuti. Palsunya mereka bilang melayani padahal aslinya mereka mencuri rejeki yang setengah mati kita cari.

Mereka adalah para maling berdasi, garong bersafari, rampok berbaju rapi, drakula berdandan wangi, vampir priyayi, dan semua pihak yang membantu kejahatan berlisensi resmi. Mereka manfaatkan kepintarannya untuk membodohi keawaman kita.

Bisa jadi kita ngeri melihat seringai bergigi drakula/vampir sehingga kita bisa lari minta tolong. Tapi kita malah akan terpikat saat melihat senyum manusiawi para drakula dan vampir yang menyaru customer service yang manis-manis itu. Sehingga saat dihisappun kita terlena sambil ngelantur “iya-iya”.

Lalu saya ingat pada sekelompok orang yang suka bikin undang-undang. Kalau kemauannya tidak dituruti mereka akan mogok dan ngancam-ngancam menakuti manusia. Undang-undang yang dibuat entah sudah berapa jumlahnya tapi saya jarang diberi tahu untuk apa, kapan diberlakukan, dan lewat apa informasi itu sampai kepada kita semua.

Pokoknya asal sudah jadi dan upah “ngerumpi” dilunasi, mereka pun leha-leha. Suatu saat karena Undang-Undang buatan mereka yang tidak pernah dikabarkan ke kampung/desa itu, kita bisa dibui hanya gara-gara jual/beli kipas angin meja yang tidak ada lembar petunjuk Bahasa Indonesia-nya.

Setelah mendengar itu, Pak RT dan warga yang konsultansi ke saya jadi terobati ketakutan pocongnya. Saya sadarkan, bahwa hantu sekarang sudah menjelma manusia. Mereka semua ada di dekat lingkungan kita bertempat. Justeru hantu berwujud manusia ini yang perlu kita kuatiri. Makanya Rasulullah menganjurkan kita meminta doa perlindungan dari kejahatan “setan jin dan setan manusia (minal jinnati wan naas)”.

Di samping semua kekuatiran dhohir itu, saya mengingatkan kiranya kita lebih akan takut bila bertemu malakul maut. Bekal apa yang kita bawa bila ia tiba-tiba datang menjemput nyawa. Saya pribadi sering prihatin ketakutan saat membayangkan nanti sendirian tanpa teman di dalam kuburan.

Lebih takut lagi saat ingat bahwa kulit, telinga, mata, tangan dan kaki ini akan berbicara menjadi saksi di depan Ilahi saat pengadilan akhirat nanti. Inilah ketakutan yang wajib kita prihatini dan perlu kita tirakati, apalagi jika mengetahui berita Al Quran berikut ini:

“Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan.” (QS. Yaasiin : 65)

 “Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka: “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. 41: 20-21)

“Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan.”(QS. 41:22) 

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s