Rugi

SurabayaPost, Kamis (29/9/2011)

“Katakanlah, ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu, orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Al Kahfi : 103-104)

Peringatan Allah di ayat tersebut menyentakkan kesadaran, terutama buat kita kaum beriman yang biasanya sudah merasa penuh dengan catatan amalan kebaikan. Ternyata di balik sangkaan kebaikan yang pernah kita lakukan, terselip ancaman kerugian tentang hilangnya amal tersebut dari catatan Allah SWT. Sebagaimana hal itu difirmankan dalam lanjutan surat Al Kahfi ayat 105.

Pelajaran penting yang harus diingat adalah “kerugian bagi orang yang merasa telah cukup banyak berbuat baik”. Ada beberapa kerugian serta akibat buruk yang harus kita hindari dari sifat “gede rumangsa” berlebihan ini.

Pertama, orang yang merasa kebanyakan berbuat baik, sering lekat dengan karakter jumud. Karena merasa kenyang amal, ia tak perlu menambah kebaikan. Karena dengan satu atau dua perbuatan saja ia sudah merasa terakui sebagai orang beragama, maka tak perlu mengamalkan seluruh isi kitab sucinya. Karena cukup berbuat baik dari satu ayat saja, maka ia merasa terbebas dari kewajiban mengimani ayat lainnya.

Bagi Muslim khususnya, hanya dengan bekal syahadat, sholat, puasa, zakat, berhaji plus pinter ngaji saja, merasa sudah sangat puas dan menyangka telah berbuat sebaik-baiknya. Akhirnya banyak yang lupa bahwa masih terdapat ribuat ayat berisi perintah dan larangan yang harus diamalkan. Inilah yang saya sebut kerugian jumud. Sikap tidak mau berkembang dan bersemangat mengejar derajat amalan terbaik. Puas hidup berleha-leha karena merasa dirinya “sudah cukup status Islamnya”.

Kedua, karena merasa banyak berbuat baik sehingga enggan menerima peringatan. Bagi orang seperti ini, catatan kebaikan seolah ia monopoli sendiri. Teguran atau kritik dianggap mengusik ego alter-nya yang “sudah sangat baik dan baik”. Mari berhati-hati, terutama sikap ini seringkali menghinggapi para cendekia agama dan tokoh masyarakat kita.

Mungkin karena terlalu lama tidur di atas sanjungan kebaikan, sehingga saat dibangunkan peringatan mereka tidak siap. Alih-alih merasa bersalah dan ingin berubah, untuk menutup urat malunya, para pengingat/pengkritik justeru terancam digugat sebagai penjahat yang meresahkan stabilitas umat dan status ketokohannya.

Ketiga, jauh dari rahmat taubat. Karena sudah merasa penuh kebaikan, maka hidupnya seolah suci tanpa dosa dan bebas dari salah. Kekeliruan itu membuainya sehingga tak sekalipun ingin menangis taubat.

Apalagi diperparah penafsir “asal mikir” yang ngawur dan nekad memaknai sebuah ayat semisal, “asal sudah syahadat pasti dijamin selamat dunia akhirat”. Banyak orang awam yang kemudian mengentengkan tanggungjawab hidupnya dengan teori “kebaikan instan” ini. Seolah tak perlu taubat karena dengan syahadat sudah cukup membuktikan kebaikan sekaligus menghapus catatan kesalahan.

Keempat, biasanya orang yang merasa banyak berbuat baik akan terbuai dengan janji ganjaran dan luput mewaspadai “virus amalan” yang bisa masuk kapan saja. Karena terlena dengan catatan amalan baik, kita sering lupa ada setan yang ingin menggagalkan kebaikan itu. Banyak kejadian di akhirat nanti, umat yang kehilangan amal baiknya karena terhapus oleh amal buruk yang tak disadarinya.

Penyakit “merasa baik” ini yang akut melanda bangsa kita sehingga tidak ada persatuan dan kerukunan. Kerugian yang ditimbulkan sudah sangat jelas kita rasakan. Peringatan agama dan aturan negara sudah tidak mampu mendisiplinkan keinginan nafsu kita. Karena semua merasa baik dan harus segera dituruti kemauannya. Tawuran dan kebaikan instan menjadi mayoritas pilihan.

Untunglah Allah SWT dengan kasihNYA mau memberikan peringatan lewat Al Quran. Beruntunglah bagi diri dan keluarga kita yang terhindar dari kerugian sifat “merasa baik” saja. Lebih untung lagi bila kita menyadari “banyak dosa” sehingga akan melahirkan pertaubatan dan laku keprihatinan. Dengan merasa “banyak dosa” kita tidak akan gampang menyalahkan diri lain.

Empat kerugian dari sifat “merasa baik” itu bisa bisa kita hindari selama masih ada kesempatan hidup di dunia. Akan sangat kaget dan menyesal bila kita selama ini sudah merasa berbuat sebaikbaiknya namun di hadapan Allah SWT tidak berarti apa-apa. Apalagi jika kejadian itu berlangsung di akhirat yang tidal ada lagi kesempatan memperbaiki.

Penulis mengajak kepada pribadi, keluarga, dan masyarakat semuanya, hindarilah kerugian “merasa baik” sebagaimana peringatan Allah SWT. Mulailah meneliti kembali sangkaan amal kebaikan yang kita kerjakan. Jangan sampai kita sudah merasa berbuat sebaik-baiknya, tapi tanpa kita sadari, amalan itu terhapus oleh perbuatan kita sendiri. Rugi dunyo ora dadi opo, rugi akhirat bakal ciloko.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s