Mudik

SurabayaPost, Kamis (22/09/2011) | 10:07 WIB

Fenomena menjelang hari raya menyajikan begitu banyak ragam makna. Hiruk pikuk dan padatnya lalulintas orang mudik ke kampung halaman; berjubelnya pasar dan pusat perbelanjaan berburu pelbagai kebutuhan; sampai khusyuk dan ikhlasnya sebagian kecil hamba Allah yang klesetan tafakur di masjid untuk iktikaf menunggu datangnya lailatul qadar dan rahmat iman.

Mal-mal berlomba mengadakan midnight sale. Puluhan serba-serbi diskon menghiasi label ratusan produk yang ada. Para shopaholic berjubel antri berebut barang untuk parade mudik. Waktu diskon yang diberikan pada dini hari sekalipun tidak menjadi halangan memenuhi keranjang belanjaan. Barang-barang terbaik yang bisa dibeli diborong untuk satu tujuan, mudik dan lebaran. Saking pentingnya membawa sesuatu untuk mudik, bila tak punya uang, hutangpun akan dilakukan.

Mudik identik dengan perjalanan jauh nan melelahkan. Moda transportasi apapun yang dipakai, berhenti sejenak untuk ngaso melepas letih merenggangkan sendi.

Biasanya di tempat yang teduh dan rindang atau rest area yang nyaman dan lapang. Benak para pemudik dipenuhi dengan kerinduan kampung halaman dan keinginan cepat sampai di lubuk nenek moyang. Senyaman dan seindah apapun tempat singgah, tak akan mengendurkan semangat empat lima segera bertemu handai taulan.

Di dunia ini kita hanyalah singgah. Dolan mampir ngombe bakal mole nyang kelanggengan. Bermain dan singgah sejenak untuk sekedar minum, akan pulang ke

kampung keabadian. Kita adalah pemudik yang singgah di dunia untuk mencari bekal dalam perjalanan panjang menuju kampung yang dirindukan. Fikir dan kalbu ini dipenuhi kerinduan bertemu sanak keluarga mu’min mujahid. Segemerlap apapun dunia ini tidak akan menyurutkan mimpi tertinggi bertemu wajah Sang Pencipta, Ilahi Robbi. Sudah seperti itukah pemahaman yang ada di benak kita?

Mudik selalu disiapkan jauh hari sebelumnya. Malah terkadang selama setahun rajin menyisihkan gajinya ditabung untuk memastikan ada bekal saat mudik nanti.

Padahal mudik hanya hitungan hari saja. Secara matang sudah disiapkan biaya untuk transportasi, konsumsi selama perjalanan dan dana talangan untuk silaturrahmi riyayanan. Tak lupa oleh-oleh dan buah tangan untuk keluarga dan teman-teman. Saking banyaknya yang harus disiapkan, banyak yang tidak bisa pulang karena tak cukup uang.

Entah kapan, kita pasti mudik ke akhirat. Selama hayat masih dikandung badan, masih ada pula waktu untuk persiapan. Mudik ke kampung akhirat bukan untuk beberapa hari saja, tapi untuk selamanya. Karena kita tak hendak kembali lagi ke dunia yang fana. Inilah mudik yang sesungguhnya.

Jika kita berpikir waras, mudik ke akhirat tentu membutuhkan persiapan yang jauh lebih banyak, jauh lebih serius dan jauh hari sebelumnya. Bukan buah tangan yang harus disiapkan, tapi bekal untuk hidup abadi di akhirat, kampung harapan. Sudah seserius itukah persiapan akhirat kita?

Tradisi mudik di negeri kita biasanya dilaksanakan setahun sekali. Mayoritas melakukannya saat menjelang lebaran Idul Fitri. Bagi yang mampu, mudik setahun sekali. Bagi yang tidak mudik tahun ini, ada kesempatan cari sangu untuk mudik tahun berikutnya.

Ihwal mudik ke akhirat hanya ada kesempatan sekali selamanya. Punya bekal atau tidak tetap saja harus budal, mudik. Siap atau tidak siap, tidak bisa ditunda barang sedetik. Senang atau enggan, ini bukan tawaran tapi sudah suratan.

Coba tanya diri masing-masing, di sepuluh hari terakhir ramadan kemarin, mana yang lebih dipikirkan; shopping di mal atau mikirin zakat fitrah dan zakat maal; keluar malam untuk diskon midnight sale atau iktikaf di masjid dan qiyamul lail?

Alhamdulillah bila kemarin kita sudah menikmati mudik beberapa hari ke kampung halaman. Seiring dengan itu pikir dan siapkan juga amal sedekah kita sebagai bekal untuk mudik abadi ke kampung halaman kita, kampung akhirat selamanya.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s