Mohon Maaf (bukan) Lahir Batin

SurabayaPost

Kamis, 15/09/2011 | 09:57 WIB

Sebuah pemandangan lumrah ketika musim lebaran tiba: meminta maaf atas semua khilaf.  Beragam cara dilakukan mulai dari berkunjung ke kampung, kirim ucapan kartu pos, bertukar surat elektronik hingga saling sms-an dengan bahasa puitis menawan.

Tradisi yang berlangsung setahun sekali ini satu-satunya di dunia hanya ada di Indonesia. Banyak yang meyakini hanya dengan mengucapkan “minal aidin wal faizin” saja, semua dosa akan terhapus dari catatan malaikat-Nya.

Alkisah menurut cerita, Rasul Dawud memiliki 99 permaisuri. Sebagai seorang raja besar, ‘fasilitas’ yang dipunyai beliau itu merupakan hal biasa terutama di kalangan para penguasa. Karena terdorong khilaf, beliau terpesona dengan kecantikan isteri salah seorang panglima perangnya yang bernama Uriya. Berbekal hierarki keputusannya, satu waktu Raja Dawud menugasi Uriya ke medan pertempuran. Misi berujung kemenangan dan Uriya gugur di palagan.

Singkat cerita, isteri Uriya yang telah menjanda dinikahi oleh Dawud. Rencana itu berjalan sebagaimana semula, yakni keinginan Dawud yang ‘berikhtiar’ memiliki janda Uriya secara legal dan halal. Karena kedudukan beliau sekaligus Nabi yang maksum, salah kaprah itu langsung ditegur oleh wahyu petunjuk Allah SWT.

Peristiwa ini direkam dalam firman Al Quran Surat Shad ayat 21-26. Melalui dua malaikat-Nya, Allah SWT mengajari Dawud tentang hak asasi manusia, keadilan, dan mahalnya permaafan. Allah SWT kemudian mewahyukan Nabi Dawud agar datang ke makam Uriya untuk minta maaf.

Pertama kali saat mengucap permohonan maaf Nabi Dawud hanya berkata, “Wahai Uriya mohon maafkan segala kesalahan saya !”. Mendengar  rajanya bersabda, Uriya pun lekas menyahut dari dalam kubur, “Tentu saja wahai Baginda, saya maafkan semua kesalahan Anda!”.

Merasa sudah mendapatkan permaafan, Nabi Dawud pun pulang ke rumahnya. Namun Allah SWT mengutusnya kembali ke makam Uriya untuk kembali meminta maaf dengan kalimat yang melahirkan detail kesalahan.

Di sisi makam Uriya, Nabi Dawud lalu berkata, “Wahai Uriya mohon maafkan saya. Sesungguhnya saya menugasimu ke misi pertempuran adalah karena niatku yang mau menikahi isterimu dan sekarang sudah saya lakukan!”.

Ketika akhirnya tahu penjelasan rajanya itu, Panglima Uriya terdiam tidak menjawab. Nabi Dawud pun menangis berlama-lama di makam Uriya untuk sekadar mendapat kata maaf. Akhirnya oleh Allah SWT, pertobatan Nabi Dawud diterima walau Uriya masih bergeming mendiamkannya.

Kita bisa meneladani apa yang dilakukan Nabi Dawud dari kisah ini. Saat meminta maaf, idealnya kita pun kudu mengatakan jenis kesalahan yang pernah kita khilafkan. Mungkin akan terasa berat, malu, terbebani, takut ditolak, gengsi, dan kekuatiran lainnya saat mencoba. Namun justru di situlah terletak  nilai sakral pengakuan khilaf sekaligus harga mahal perkataan maaf.

Ketika datang pertama kali ke makam Uriya, Nabi Dawud mungkin berfikir “minal aidin wal faizin”, persis kebiasaan kita di Indonesia yang latah mengucapkan “mohon maaf lahir batin” saat lebaran kemarin. Ternyata belajar dari kisah Nabi Dawud, hal itu tidak dibenarkan oleh Allah. Karena minta maaf di lisan yang lahir, tapi kesalahan masih terpendam di lubuk batin.  Akhirnya tidak nyambung. Mohon maaf belum tulus “lahir dan batin”.

Maka wajibnya permohonan maaf harus disertai perincian kesalahan yang dilakukan. Baru setelah itu, “aqad ijab iabul” permaafan dapat tunai disahkan. Rasulullah Muhammad SAW juga pernah meneladani serupa.

Beliau sampai rela melepas bajunya dan minta dicambuk sahabatnya karena pernah tanpa sengaja mencambuk sahabat tersebut saat menuju medan peperangan. Dari teladan kisah seperti situlah, tangisan dan lebaran maaf lahir batin akan sepenuhnya bersemangat taubat. Bukan sekadar berpuisi kalimat dan atau berjabat tangan sesaat.

Saya pun mengharapkan, segera setelah ini tanpa menunggu Idul Fitri, kita semua bisa meminta maaf dengan melahirkan rincian jenis kesalahan kepada orang atau sesama ciptaanNYA yang pernah kita zalimi.

Mungkin kita perlu riyadhoh berjalan dan meminta maaf pada lingkungan: “karena pernah menginjak semut tanpa sengaja, mengutil ranting kecil yang bukan milik kita, atau setiap hari mengotori kebersihan langit dan bumi ini

Sungguh membersyukurkan bila para pimpinan kita dengan cucuran air mata mau pidato di televisi dan bicara di media, “Mohon maaf saya telah membohongi Anda semua, wahai rakyat saya! Kami yang berdinas di instansi religi, mohon maaf karena selama ini telah menggeluti hobi korupsi. Mohon maaf kami yang bekerja di media terlalu sering menyebar kabar tidak benar. Mohon maaf lahir batin kami telah menikmati bancakan dana pendidikan. Setulus hati maafkan kami yang telah berkali-kali membuat peraturan untuk dolanan anggaran.!” dst..dst

Dan kita semua juga perlu mengaku, “Mohon maafkan kami para jelata, yang terpaksa menyimpan dendam karena terlalu lama disakiti oleh Anda semua para pimpinan dan penyelenggara pemerintahan!”

Dalam mengupayakan ampunan dan permaafan, kita bisa dan harus kuat berupaya mengikuti jejak teladan para Nabi, sebagaimana kisah Dawud a.s dan Rasullah Muhamad SAW yang ada di tulisan ini. Bismillaah.

Selanjutnya kita semua akan diberkati hari-hari penuh ampunan tanpa menunggu moment lebaran. Jiwa dan raga ini akan diperkaya rahmat ampunan dan ridho-Nya. Perilaku, ucapan, dan tindakan kita akan merdeka dari dosa. Lahir batin kita benar-benar disucikan. Bukan cuma lahirnya maaf-maafan, tapi batinnya masih dendam titen-titenan.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s