Hari Raya Milik Siapa?

Pernah dikisahkan pada jaman Rasulullah, sahabat Abu Abu Bakar r.a. dan sahabat Umar r.a. berbeda pendapat dalam memutuskan sebuah persoalan keumatan. Perbedaan itu membuat para sahabat lainnya kuatir akan terjadi friksi. Akhirnya sampailah berita tersebut ke Rasulullah Muhammad. Segera oleh beliau, dipanggillah kedua sahabat dekat nan mulia itu. Rasulullah hendak meminta keterangan sekaligus berupaya menyatukan rahmat kerukunan.

Saat Rasulullah bertanya kepada Umar r.a. bagaimana cerita peristiwa sesungguhnya, sahabat yang terkenal tegas dan pemberani itu menjawab, “Ya Rasulullah sayalah yang bersalah, Abu Bakar yang benar.” Sambil menjawab demikian, Umar r.a. menangis sesenggukan. Begitu pun sebaliknya. Ketika Rasulullah bertanya kepada Abu Bakar r.a., mertua Nabi ini pun menangis dan berkata, “Ya Rasulullah sayalah yang bersalah, Umar yang benar.”

Pada akhirnya kedua sahabat inipun berangkulan dalam tangisan persaudaraan penuh keikhlasan. Perbedaan pendapat telah terkikis oleh air mata rahmat. Pada peristiwa inilah, qaul Rasul tentang “ikhtilafu ummatii rahmah” (perbedaan ummatku adalah rahmat) menemukan relevansinya. Walau beberapa ahli hadis meragukan kesahihan sanad hadis itu, namun bolehlah kita jadikan bahan pembelajaran sekaligus renungan.

Bahwa jika ada dinamika perbedaan kemudian teraliri rahmat kebenaran dan atau dibimbing Tuhan, pasti akan rukun bersatu lagi. Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. awalnya berbeda tapi kemudian karena dialiri rahmat kebenaran dan bimbingan Rasulullah, mereka berdua berhasil mengalahkan ego perbedaan demi keselamatan umat dunia akhirat.

Saya pun teringat perayaan Idul Fitri 1432 H tahun ini. Sebagaimana yang sudah pernah terjadi, hari raya dilaksanakan pada tanggal berbeda. Meski tidak sampai terjadi konflik fisik, perbedaan penentuan tanggal dan hari Idul Fitri ini memunculkan keprihatinan.

Betapa Idul Fitri yang semestinya jadi ajang perenungan dan tangisan setelah ditinggalkan Ramadhan, malah jadi medan laga kesaktian fatwa. Klaim kelompok “jumlah umat jutaan” dijadikan sandaran kekuatan dan pembuktian. Maka versi Idul Fitri muncul berbeda-beda dan kita yang hidup di kalangan bawahan tolah-toleh kebingungan.

Merenungi fenomena perbedaan Idul Fitri ini, saya membandingkan dengan peristiwa yang menimpa Abu Bakar r.a. dan Umar r.a pada cerita di atas. Saat perbedaan dinaungi rahmat, maka yang lahir adalah doa berkat, tangis taubat dan sisi manfaat. Tapi ketika perbedaan dilatari klaim sektarian, maka akibat yang muncul adalah kehebohan, kesesatan dan ketidakberaturan.

Sungguh efeknya berbeda jauh. Satunya berdampak maslahat, satunya berakibat mudarat. Tragisnya, ketika ego alter itu saling menimpa pembesarnya, kaum bawahan lagi-lagi jadi korban.

Maka ketika seorang teman menghibur kegelisahan saya itu dengan kalimat “kuncinya adalah toleransi”, saya masih tetap bersedih. Karena hemat saya, ini bukan tentang toleransi saja, tetapi juga membawa pilihan resiko tanggungjawab keselamatan jutaan umat di akhirat. Iya kalau benar semua, lha kalau ada yang keliru?? Para ardzalun dan pengikut itulah yang saya khawatirkan. Mereka awam dan tahunya menurut kepada fatwa tokoh agamanya.

Seorang rekan lain coba menawarkan jawaban, “bila khilafah berdiri pasti semua perbedaan ini teratasi”. Tanpa mengurangi rasa hormat, saya pun menjawab bahwa opsi khilafah belum tentu mujarab. Karena toh akan balik lagi ke nafsi-nafsi. Kalau nanti sistem khilafah dan pemilihan keputusan masih bernaluri ego pribadi seperti sekarang ini tanpa dibimbing petunjuk Allah, ya digaransi bakalmbulet lagi.

Maka betul firman Allah dalam surat Ar Ruum ayat 31, “yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”

Dari ayat itu saya mencocokan dengan fenomena perbedaan Idul Fitri yang terjadi. Kemudian saya sampai pada simpulan pertanyaan, “Jadi hari raya sekarang milik siapa?, apakah masih murni milik Islam ataukah sudah jadi domain golongan-golongan sebagaimana terawangan surat Ar Ruum 31 itu??”

Perbedaan yang sebelumnya sudah dipisah madzhab dan imam, kini dipertajam lagi. Ide penyatuan ukhuwah kian jauh panggang dari api.  Maka saya pun menyeru dan memohon kepada para pemuka agama.

“Wahai para pemufakat fatwa, bukalah selimut ego kalian semua. Sudahilah perbedaan dan ego apriori, demi umat kalian ini dan tanggungjawab di akhirat nanti!!! Apakah karena hujjah berpengikut jutaan jemaah, lalu kita boleh bikin fatwa “asal beda saja” dengan ormas berpengikut jutaan lainnya? Bukankah Idul Fitri saat yang tepat untuk penyatuan potensi kemenangan umat ini? Tapi kenapa justru selalu jadi ajang tukar padu rebutan klaim kalender itu?? Apa ini yang dimaksud nasehat “perbedaan itu rahmat?”

Diantara kebingungan hati saya, terbersit tangis jerit, Ya Rasul, Ya Muhammad, kini ke mana kami harus berkiblat? Aku teringat tangismu sesaat sebelum Engkau berlalu, “ummatku…ummatku…ummatku…”. Rupanya kini tangisanmu terbukti. Umat bingung karena diperebutkan imam agung. Fatwa penetapan hari raya yang dulu di jamanmu selalu satu, kini beda-beda meski kami tinggal dalam satu negeri…”

 

Akhirnya untuk menjaga harapan saya, ketika ditanya oleh sedulur-sedulur yang bersalaman lebaran, “Gus ikut hari raya hari apa?”, saya jawab kepada semua, “Alhamdulillaah sama dengan panjenengan.”  “Hari apa, Gus?,” mereka mendesak. “Hari Jumat,” jawab saya mantap. Ya, meski saya sekeluarga sudah memilih 1 Syawal diantara hari Selasa (30/8) dan Rabu (31/8) kemarin itu, untuk ikhtiar mendamaikan para penanya, saya bersiasat ijtihad menjawabnya “Jumat”.

Saya berasumsi hanya pada hari Jumat-lah kita para Muslim masih dapat dipersatukan dalam niat, kiblat, jumlah rakaat, dan rukun sholat. Pun hemat saya, bukankah setiap hari Jumat itu bisa kita maknai sebagai “hari besar”, “hari mulya”, dan “hari raya” kita semua? Tanggal berapapun yang jatuh pada hari Jumat, kita bisa rukun guyub menyembahNYA tanpa keminter menandai kalender, tanpa debat kata, dan tanpa heboh adu fatwa.

Mudah-mudahan dengan jawaban itu, hari raya tetap milik kita semua. Walau berbeda pilihan tanggal dan hari saat Idul Fitri 1432 H ini, pada “hari raya” ibadah sholat Jumat-lah kita semua bisa “berlebaran” dan bersalaman bersama.

Juga kita semua tidak perlu disindir kalimat satir, “orang lain berpengetahuan sudah berhasil menjelajahi tanah bulan, sementara kita masih ­ngeyel  berdalil keagamaan rebutan mengintip peristiwa datang bulan !”

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s