Sholat Sampai Sifat

Sebagai rukun penanda kepatuhan seorang hamba, sholat memiliki makna penting selain sekadar perintah wajib dari Allah SWT. Betapa penting arti sholat ini, sehingga ia menempati urutan rukun Islam kedua setelah syahadat penyaksian ketauhidan. Arti penting itu ialah perubahan menuju kebaikan dari hasil refleksi plus koreksi perbuatan yang sudah dilakukan.

 

 

Doa-doa yang terucap dalam sholat merupakan sarana komunikasi kepadaNYA. Di dalamnya terdapat proses dialog interaktif antara manusia dan Allah SWT yang berlangsung live dan menyesuaikan tema-tema kehidupan yang sedang dilakoni. Di sini, seorang hamba dipersilakan “berbicara” kepada Tuhan. Mau memberi informasi topik apa saja, Allah SWT akan menerima.

 

 

Mari ambil contoh dialog dalam satu rukun sholat. Saat membaca Al Fatihah, di sana terdapat petikan ayat “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin” yang bermakna “kepadaMU kami menyembah dan kepadaMU kami memohon pertolongan”. Idealnya ketika melafalkan ayat ini, mimik mulut, jalan pikiran dan isi hati bersuara sama. Sehingga permohonan “penyembahan dan pertolongan” itu akan sampai di hadapan Tuhan.

 

 

Nah, tapi yang terjadi sering tidak begitu. Mulut mengucap “iyyaka na’budu”, hati masih wira-wiri di urusan sebelumnya. Lisan membisikkan “wa iyyaka nasta’iin” sedang pikiran jalan-jalan mengingat hasil rapat, ingat kompor yang belum dimatikan, ingat jemuran yang belum dientas, ingat sawah yang kebanjiran, dst. Antara bibir dan hati tidak sama tujuannya.

 

 

Akhirnya, sholat pun tidak berdampak apa-apa terhadap perubahan diri. Sejak kecil sampai dewasa rajin melaksanakan sholat, tapi perbuatannya sama dengan orang yang tidak pernah sholat. Sifatnya masih suka marah, bohong, mendendam, meremehkan orang miskin, sombong, pelit enggan sedekah, merasa benar sendiri, jarang merasa bersalah, cinta dunia lupa akhirat, dan sifat buruklatent lainnya.

 

 

Padahal kalau sholatnya sampai kepada yang dimaksud, permintaan “iyyaka nasta’in”nya berjawab, maka akan ada perubahan signifikan. Misalnya sebelum sholat kikir, setelah sholat berubah dermawan. Sebelum sholat suka marah dan mendendam, setelah sholat hilang sifat itu. Sebelum sholat suka menghujat dan menghina orang lain, setelah sholat lebih banyak koreksi pribadi. Seterusnya begitu sehingga sholat betul-betul berfungsi sebagai alat pengendali mutu diri.

 

 

Dalam kaitan itu, Al Quran menyatakan innas-sholaata tanha ‘anil-fahsyai wal munkar. Sesungguhnya sholat itu mencegah perbuaan keji dan munkar. Lalu mari kita  tanyakan pada kita yang sudah rajin sholat. Apakah ada perubahan sebelum dan sesudahnya? Mestinya, ada perubahan bila merujuk pada firman Tuhan di atas.

 

 

Bila sebelum dan sesudah sholat tiada perubahan kebaikan, kiranya ada yang perlu dikritiksi dan dikoreksi dari proses sholat kita. Boleh jadi sholat kita cuma menjalankan kewajiban yang ditularkan turun temurun dari sang moyang. Tidak lebih. Asal sudah rutin menjalankan “lima waktu”, kita seolah bersih nyaris tanpa dosa. Kita lupa, bahwa sholat adalah baru sebatas media komunikasi kepadaNYA.

 

 

Artinya, bila sholat kita sampai kepada ALLAH, dan memantul kembali kepada diri ini, pasti ada perubahan perilaku. Sholat dimaknai sebagai praktik behaviour change communication (komunikasi perubahan perilaku). Dari yang sebelum sholat berperilaku buruk berubah menjadi baik. Setidaknya kita akan ketularan sifat ALLAH yang penyayang dan pengasih. Sehingga setelah sholat, diri ini akan terbebas dari nafsu amarah, dendam, iri, hasud, dll.

 

 

Inilah pentingnya kita belajar memaknai sholat. Sejak sekarang, mari shalat sampai pada sifat.  Dalam rutinitas kerja dan aktifitas hidup sehari-hari, masukkan ikhtiar niat shalat. Berkomunikasi terus live streaming kepadaNYA. Refleksi dan pertanyaan yang harus dijawab rutin adalah “Sholatku tadi sampai kepada ALLAH nggak, ya?”; “Apa perubahan perilaku saya setelah sholat tadi?”, dst.

 

 

Sebagai rambu-rambu pemandu, silakan diperiksa kembali ayat-ayat Al Quran yang mengkritisi makna sholat. Diantaranya pada Surat Al Maauun. Allah SWT memperingatkan kita yang sholat tapi masih suka riya dan pamrih.

 

 

Sholat nampak khusyu’, tapi tidak punya kepedulian sosial, maka berhati-hatilah. Sholat rajin 5 waktu, tapi cari rejeki hanya untuk pribadi dan keluarganya saja, maka waspadalah. Alih-alih menuai pahala, justeru kita akan dicap pendusta agama dan sholat kita akan dikutuki jadi bahan bakar siksa api.  Na’udzubillahi min dzaalik.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s