Harapkan Pasukan Sulaiman

Saat ikhtiar usaha dengan berbagai cara telah dicoba dan hasilnya belum terlihat, maka godaan menyerah sering singgah. Pada level kritis dan stress tingkat tinggi, maka enaknya mencari orang yang dianggap salah.

Demikian juga saat memikirkan bangsa ini. Kita berideal masyarakat bisa cerdas iman dan peka sosial, kita ingin adanya perubahan signifikan tentang kemanusiaan, tapi upaya ini belum juga nampak hasilnya. Rasanya kapok, pengin mogok dan melampiaskan gondok.

Tapi setelah melihat kisah Nabi Sulaiman dalam Al Quran, muncul kembali optimis syukur dan melihat lagi senarai potensi yang bisa dirangkai. Anda tentu tahu kisah pemindahan istana Ratu Balqis melalui kesaktian teleportasi seorang pembantu Sulaiman yang bernama Asif bin Barqiya. Seperti tertulis di surat An Naml 38-40, Asif berhasil memindah istana Balqis sebelum Sulaiman mengedipkan matanya. Asif mampu mengalahkan jin Ifrit yang dikenal punya kemampuan ekstra.

Pada fragmen kisah lainnya, Nabi Sulaiman diceritakan mengendarai angin, memanfaatkan burung sebagai telik sandi, rapat dengar bersama rakyat semut, memberi makan penghuni laut, bertasbih bersama gunung, dan pasukannya yang multi talenta dari lintas matra. Mukjizat Allah yang diberikan kepada Sulaiman adalah hikmah kepemimpinan mengelola lingkungan di komunitasnya.

Minus pemanfaatan jin, khodam, mahabbah, black magic, dan tradisi hewes-hewes klenik beristijroj mantra Harut-Marut lainnya, saya ingin mengajak Anda menapaktilasi harapan pasukan Sulaiman. Betapa saat merasa mustahil dan rumitnya mengupayakan kebaikan, sesungguhnya Allah telah menyediakan intangible assets yang bisa dimanfaatkan.

Saya sengaja menukil kisah Pasukan Sulaiman sebagai motivasi diri dan keluarga. Bahwa ketika nyaris putus asa mengharapkan bantuan yang tak kunjung datang, masih ada harapan dari Gusti Allah beserta bala tentara langitNya. Matra darat, lautan udara beserta kekuatan flora fauna — hewan gegeremetan kecil, rumput, angin, air, gunung, tumbuhan — dengan segenap kosmiknya adalah makhluk hidup yang bisa diajak berbicara. Itulah pasukan Sulaiman yang dapat dimanfaatkan.

Pada tataran tupoksi kekhalifahan, setiap manusia sudah sepatutnya bisa memanfaatkan potensi segenap alam dan makhluk hidup untuk ikhtiar kebaikan. Di level “yu’minuuna bil ghaibi”, sesungguhnya tumbuhan dan hewan itu hidup, mengerti perangai manusia, dan bisa diajak berkomunikasi lintas bahasa. Tapi pernahkah visi itu terlintas di benak kita? Alih-alih begitu, justru kita sering menganggap mereka tidak ada dan atau melihatnya sekadar pelengkap dunia.

Maka mulai saat ini, cobalah berbicara dengan semut. Wiridlah bersama rumput. Salami dan sapa hewan-hewan kecil melata. Berbahagialah dan tunjukkan muka sumringah ketika menemui orang jelata sebagaimana perasaan Anda saat ketemu sosialita ternama atau tokoh idola Anda. Akrabi dan hormati hak mereka sebagai penghuni bumi. Rangkul mereka sebagai potensi yang bisa dikendali.

InsyaAllah akan banyak muncul kejutan membersyukurkan. Jikalau tidak berupa bantuan yang kita harapkan, biasanya datang ilham inspiratif yang mencerdaskan. Setidaknya kita bisa syukur dijadikan manusia, sebagaimana insight yang diperoleh Sulaiman ketika disadarkan sindiran dialog semut di lembah Wadin-Naml.

Pada contoh pemindahan istana Balqis, potensi tersembunyi itu ada di manusia biasa Asif. Ya, pembantu dari manusia biasa. Bukan dari jin Ifrit yang telah banyak mendirikan bangunan-bangunan kolosal Sulaiman.

Belajar dari kisah ini, kita bisa mulai menata mindset, bahwa kadang keberhasilan usaha kita sudah ditentukan. Hanya potensi kunci yang belum kita dapati, dan itu tanpa diduga ternyata ada di hal-hal atau orang yang sepertinya remeh temeh saja. Sementara keterbatasan nalar kita terbiasa latah mengira, “potensi besar ada di hal-hal yang nampak besar”. Ternyata itu keliru.

Akhirnya, saya mendapatkan pelajaran bahwa ketika berbicara strategic planning, “Pasukan Sulaiman” beserta kekuatanNYA adalah kekuatan yang bisa digandeng. Mereka ini nampak sahaja tapi menyimpan potensi luar biasa. Temukan Pasukan Sulaiman ini di runduk tetumbuhan, di kediaman sekawanan hewan, dan di antara manusia jelata yang sering kita abaikan eksistensinya.

Selanjutnya mari pintar berikhtiar dengan bantuan intangible assets Pasukan Sulaiman. Menyambung yang belum tersambung. Merangkai mustahil menjadi mungkin. Menyatukan potensi nuswantara bernama Indonesia.

Bismillaahirrahmaanirrahiiim, terus bergerak optimis menyongsong kemenangan seluruh insan. Idza jaa-a nashrullaahi wal fath. Wa raitan-naasa yadkhuluuna fii diinillaahi afwaajaa. Fa sabbich bi hamdi rabbika wastaghfirhu – Innahuu kaana tawwabaa ! 

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s