Shalawatan Antisipasi Kekeringan

Bersamaan tulisan ini tiba di meja redaksi, saya bersama para santri sedang bersiap menerima rombongan tamu dari 60-an pondok pesantren se-kabupaten Probolinggo. Para Kyai, Habib, Ustadz dan Gus pengasuh ma’had ini, akan diajak rihlah tarbawiyah wa iqtishadiyah oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Probolinggo. Mereka akan belajar praktik-praktik terbaik pengelolaan lingkungan dan Eco-Pesantren di Lamongan.

Kebetulan pondok pesantren SPMAA menjadi laboratorium percontohan bagi program ini. Saya sebagai santri sangat bersyukur bisa berbagi pengalaman dengan komunitas ulama’ dalam pemasyarakatan isu strategis keIndonesiaan bidang pelestarian lingkungan.

Alhamdulillah penghuni bumi pertiwi ini mayoritas Muslim, maka sudah sepatutnya komunitas santri harus lebih tanggap, cerdas, dan trengginas beraksi menyikapi fakta kondisi alam terkini.

Kepada para pengelola ma’had yang sudah pernah datang sebelumnya, secara sentilan saya sering ingatkan, “Gus, Yi, Bib, ustadz, mulai sekarang ngajinya ditambah. Selain buka Kitab Kuning, santrinya juga harus diajak bersemangat ngaji kitab biru, hijau dan coklat.”

Beliau-beliau itu pun langsung menyahut, “ngaji kitab biru, hijau dan coklat, maksudnya apa Gus?”. Saya jawab, “ngaji Kitab Biru itu belajar meruwati kualitas air dan udara. Kitab Hijau berisi praktik pelestarian tumbuhan, hutan dan tanaman. Kitab Coklat membahas penyelamatan produktivitas tanah dan lahan basah.”

Sekadar diketahui, isu biru-hijau-coklat adalah terma yang akrab bagi rekan-rekan pegiat lingkungan. Maksud perlambang “biru, hijau, dan coklat” sudah saya jelaskan seperti penjelasan saya kepada para pengasuh pondok pesantren itu.

Nah, sebagaimana ajakan saya kepada para santri, saya pun mengajak para pembaca sekalian. Terutama yang masih mengaku Islam dan beriman, “Ayo mulai sadar ancaman kerusakan lingkungan dan segeralah kita rukun berbagi aksi peduli !”

Satu isu lingkungan yang kini marak dibicarakan adalah ancaman bahaya kekeringan hingga tahun 2015 ke depan. Selain karena efek pemanasan global, fenomena badai matahari, dan siklus rutin bumi, kerakusan manusia menghisap sumber daya alamnya juga jadi penyebab utama. Secara cerdas Allah telah menubuatkan hal ini dalam Al Quran, agar kita sadar selekasnya:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian (akibat) perbuatan mereka, agar mereka mau kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Rum : 41)

Katakanlah, “Terangkanlah kepadaKU jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?” (QS. Al Mulk : 30).

Lalu apa tindakan antisipatif menyikapi peringatan Al Quran dan kondisi fakta bumi yang kini mulai terbukti? Terutama menghadapi bahaya ancaman kekeringan yang sudah di depan mata ini? Itulah pertanyaan yang menjadi ujian kita kaum beriman sekaligus latihan menapaktilasi Isra’ Mi’raj yang pernah dijalani Nabi beberapa abad silam.

Isra’ kita lakoni lewat perjalanan sosial melihat fakta kerusakan sekaligus berbagi pembelajaran menyelamatkan lingkungan (rihlah tarbawiyah). Mi’raj meningkatkan derajat kebaikan dari yang biasa hanya ngaji-ngaji teori, naik kelas menjadi praktik-praktik aksi peduli yang langsung bermanfaat bagi kesejahteraan umat.

Pada ideal paham rahmatan lil alam, Isra’ Mi’raj kita kali ini adalah gerakan sosial menyikapi surutnya sumber air, pencemaran sungai, pembuangan limbah ke laut, dan peka menerawang “isu biru” lainnya.

Kepada komunitas pesantren, bahaya ancaman kekeringan terus saya suarakan. Tak terkecuali kepada para pengelola ma’had se-kabupaten Probolinggo yang berkunjung ke pesantren kami hari ini. Begitupun sekarang kepada para pembaca, saya minta Anda semua ikut menjawab dan menyegerakan aksi cerdasnya.

Karena air adalah jaminan keberlanjutan sekaligus sumber kehidupan, maka ajakan saya “Mari sholawatan antisipasi bahaya kekeringan. Selain kuat-kuatkan berdoa di mana saja, kapan saja, sepanjang pagi-siang-sore-malam non-stop 24 jam, aksi riil dan kecil bisa dimulai dari keluarga kita.”

Pertama, berhemat air sekaligus menghindari laku mubazir. Mandi bisa menggunakan shower sederhana atau kran yang diatur kecil pengalirannya. Ini relatif lebih hemat daripada mandi pakai gayung yang byar-byor itu.

Penghematan serupa bisa dipraktikkan saat berwudhu. Putar kran air sepertiga saja, jangan dibuka seluruhnya. Jika mau, air bekas wudhu dapat ditampung dan dimanfaatkan untuk menyirami tanaman atau untuk minum hewan piaraan. Keluarga, takmir masjid, dan pesantren bisa ikuti ikthiar ini.

Kedua, sediakan wadah tampungan air hujan seperti tandon buatan untuk persiapan kekeringan. Jika bisa, sisakan lahan tanah untuk sumur resapan dan biopori. Selain berfungsi menyimpan air tanah, sumur resapan bisa mengurangi dampak banjir.

Biopori dapat dimanfaatkan untuk kompos yang bernilai ekonomis. Intinya cadangan air kudu disimpan, disalurkan dan dimanfaatkan seefisien mungkin untuk kehidupan.

Ketiga, jaga sumber daya air. Di komunitas pedesaan, selamatkan telaga dari pencemaran limbah perumahan. Alternatif lainnya, gerakkan menanam dan merawat pohon di sekitar rumah, di sawah, di sepanjang jalan, dan di sekitar lokasi sumber air.

Penduduk desa cukup minum dari telaga atau sumber air bersih di sekitarnya saja. Hindari konsumtif berlebihan dengan latah iklan minum air kemasan. Dengan menghindari latah berlebihan minum air kemasan, kita otomatis ikut pelestarian sumber air pegunungan.

Selain tiga ikhtiar saya, masih ada beberapa alternatif usaha yang bisa kita coba untuk menjawab persoalan kekeringan air ini. Sejauh serius kita ikhtiari, selebihnya tawakkal pada ilahi. Terpenting, kita bergerak cerdas menapaktilasi Isra’ Mi’raj.

Bila kemarin sholawatan kita hanya rutinan setiap pekan, maka kali ini saya mengajak sholawatan sepanjang hari. Berdoa, belajar, dan bekerja menyolawati air sebagai jaminan kelangsungan kehidupan.

Anda bergerak menyelamatkan cadangan air lingkungan di level keluarga, komunitas tinggal atau tempat kerja, sementara saya akan berikhtiar bersama ulama, petani dan penggembala di desa. Bismillaahirrahmaanirrahiim, proficiat para pegiat sholawat !

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s