Muhammad Trending Topic

Bagi pemilik akun Twitter, semua pasti tahu ada berita menarik Ahad lalu. Ya, Rasulullah Muhammad SAW menjadi trending topic worldwide di hastag #20peopleilove. Di situs jejaring microblogging  populer itu, nama Rasulullah tiba-tiba melejit tinggi karena disuarakan kicauan berjuta Tweep dunia.

Indonesia pun tertular riuh berkomentar karena fenemena itu.  “Nabi Muhammad SAW on TT now. i’m proud to be muslim,” tulis seorang pelawak nasional. Kicauan serupa datang dari Tweep lainnya, “Wehweh bangga deh liat Nabi Muhammad SAW di TT pertama🙂.”  Tentu perasaan hati saya turut gembira campur  syukur karena guru peradaban saya itu kian mendunia namanya.

Namun di sisi hati yang lain, saya merasa biasa saja. Karena buat saya, keterkenalan Rasulullah merupakan fenomena lama di dunia nyata (offline) tapi baru di dunia maya (online).

Sebelumnya Michael H. Hart sudah membuka sekuel profil Rasulullah di buku The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History. Di buku penulis asal Amerika itu, Rasulullah menempati rangking pertama di atas Nabi Musa AS, Nabi Isa AS, dan tokoh-tokoh berpengaruh dunia lainnya.

Setelah itu saya pun bertanya pada diri sendiri, “apakah cukup Rasulullah dibegitukan saja? Dipuja namanya sedemikian rupa, dielukan dalam bait nyanyian, diramaikan dalam pengajian, berseliweran dikicaukan di jejaring pertemanan? Senangkah beliau dan sudah puaskah umatnya? Sementara fakta berbicara, teladan dan amalan beliau hanya telantar di museum cerita purba tanpa ada niatan meneruskan?” 

“Yaa Sayyidinaa, Yaa Maulaanaa, Yaa Habiibinaa, Ya Syafii’inaa, Yaa Ustaadzina Hayya,” begitulah ucap kita semua mengawali nama Rasulullah Muhammad. Ada selaksa cinta, atribut hormat dan permohonan syafaat dalam ungkapan itu. T

Tapi benarkah kenyataannya demikian? Cukupkah ungkapan cinta dapat membuktikan rasa hormat sekaligus pendulang syafaat kelak di hari kiamat? Tidakkah berbuat meniru teladan kebaikan beliau lebih patut dilakukan?

Seorang lelaki berkata pada Nabi SAW, “Demi Allah, ya Rasulullah, aku mencintaimu.” Nabi SAW bersabda, “Lihatlah, apa yang kau katakan?” Lelaki itu berkata, “Demi Allah, aku mencintaimu”, dan mengulangi kalimat ini tiga kali. Nabi SAW bersabda, “Jika engkau benar-benar mencintaiku, maka bersiaplah untuk kemiskinan, kerana kesusahan yang sangat berat berlari lebih cepat kepada orang yang mencintaiku, lebih cepat daripada banjir yang mengalir ke tujuannya.” (Al Hadis).

Kisah di hadis itu menggali kedalaman makna cinta dengan cara turut mengikuti apa saja perilaku orang yang dicintainya. Rasulullah beserta keluarga dan empat sahabatnya dikenal sangat peduli terhadap nasib si miskin. Prioritas penyejahteraan umat membuat hidup beliau sangat sederhana, bahkan bisa disebut miskin karena tiada berharta.

Di hadis tersebut, Rasulullah ingin menguji keseriusan ucapan lelaki pengungkap cinta itu. Jika cinta Rasul, maka bersiaplah miskin, karena seluruh materi kepemilikan akan dikorbankan untuk membela agama, bangsa dan negara.

Kita pun, para pecinta dan pengagum Muhammad SAW, layak merenungi hadis “Cinta Rasul” itu. Jika benar menyatakan cinta kepada Rasulullah, marilah bersiap mengorbankan sebanyak-banyaknya materi dan kepemilikan yang kita cintai untuk penyejahteraan Indonesia.

Ada ribuan persoalan sosial, pendidikan dan lingkungan yang harus dibiayai dengan harta, tenaga, fikiran dan doa kita semua. Jika betul kita cinta Rasul, secepatnyalah modal sosial itu kita sedekahkan kepada yang membutuhkan. Niatkan sebagai tanaman investasi saham akhirat yang akan kita unduh setelah wafat.

Dengan keikhlasan dan keberanian berkorban seperti itu,  cinta kita baru bisa terbukti kenyataannya. Meniru seluruh teladan Rasulullah yang kita cintai, sama halnya membuat worldwide trending topiclebih baik, patriotik, serius dan menarik.

Bagi pembangunan kesejahteraan dan cita-cita pencerdasan Indonesia, pengejawantahan Trending Topic Muhammad akan berdampak manfaat lebih cepat. Tidak sekadar kicauan Tweep yang nyaring suaranya saja.

Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad. Beliau adalah pendekar kebenaran yang sudah teruji namanya. Tanpa diakui manusia sedunia,  Allah SWT sudah sangat percaya kepadanya. Pun tanpa koar-koar latah Tweep kebanggaan kita, nur Muhammad akan tetap mengorbit di antara penduduk bumi dan langit.

Sekarang pilihan ada di pembuktian amalan kita. Apakah serius ingin mengikuti teladan baiknya agar dapat syafaat kelak di akhirat? Ataukah cukup memuja-muja Muhammad beserta keluarga dan sahabatnya dengan nyanyian di setiap akhir pekan sebagai pernyataan rasa cinta? ataukah sekadar latah re-tweet ucapan komedian di hastag nama #20peopleilove saja untuk membuktikan keIslaman?  Wallaahu a’lam.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s