Belum Beragama

Surabaya Post, Kamis (12/5/2011)

“Katakanlah: Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dariTuhanmu.” (Qs. 5:68)

Dari beberapa diskusi resmi, jagongan lesehan, majelis taklim, pengajian ibu-ibu arisan, maupun lingkar halaqah yang pernah saya ikuti perihal agama dan sosial, muncul tesis sementara: keyakinan agama masyarakat kita relatif baik, walau hanya terbaca dari klaim ‘benar’ sepihaknya.

Dengan segala dinamika dan anomali yang mengiringi, patutlah saya bersyukur rakyat Indonesia masih percaya kepada agama, meyakini wajibnya pengamalan kebenaran. Semoga saja itu bermakna sila pertama Pancasila yang mengakui eksistensi keesaan Tuhan, masih kuat terpatri di hati Indonesia ini.

Nah, saat masuk pada kajian kritis tentang pembuktian keagamaan, saya sering ungkapkan ayat Al Quran sebagaimana tersaji di awal tulisan ini. Bahwa siapapun belum dianggap “beragama sedikit pun” jika belum mengamalkan isi Kitab Suci yang diyakini. Secara sederhana, saya asumsikan “Ahli Kitab” itu adalah orang yang paham, pernah dengar kajian dan atau bisa baca tulis Al Quran, sehingga setiap Muslim akan merasa wajib ikut merenungi ayat ini.

Biasanya saya mulai gugah dengan pertanyaan, “Dari sekitar enam ribuan ayat Al Quran, berapa yang sudah sampeyan laksanakan jika itu perintah dan berapa yang sampeyan tinggalkan jika itu larangan?”. Sering jawaban yang keluar hanya mesam-mesem saja.

Beberapa menjawab, “Saya sudah laksanakan lima rukun Islam secara rutin!” Lainnya menambahkan, “plus rajin ikut majelis takliman dan sumbang kotak masjid seikhlasnya.”.  “Ana minal ma’had ya ustadz,” acung seorang rekan muda bersemangat. Sepertinya ia ingin menegaskan identitas keislaman yang ia idealkan.

“Cuma itu, lalu bagaimana dengan perintah dan larangan lainnya?” tanya saya merangsek. Lagi-lagi jawaban mereka biasanya cuma senyum. Seolah baru tersadar, surat teguran Allah dalam Al Maidah 68 itu membuat pengakuan beragamanya terantuk fakta “sedikitpun belum beragama”. Karena setelah dihitung rata-rata, perintah atau larangan Al Quran yang diperhatikan hanya berjumlah puluhan sampai ratusan saja.

Ya, sebagaimana mereka, saya juga mengajak Anda untuk menjawab jujur pertanyaan ini “Sudah berapakah ayat-ayat kitab suci yang berhasil kita amalkan?” “Sudahkah pengamalan itu memberi manfaat langsung bagi lingkungan dan kehidupan sosial di tempat Anda tinggal?” “Masihkah kita ngotot mengaku beragama jika disorot ayat itu, sementara amalan kita hanya puluhan atau ratusan saja?”

Ya, harus berani dan jujur kita akui. Bahwa selama ini amalan kita masih berkutat pada rutinitas ritual yang itu-itu saja. Syahadat, sholat, zakat, puasa, haji, ditambah sedikit pintar ngaji plus gelar alim. Kadang baru hafal beberapa ayat, tapi sudah merasa mengamalkan seluruh perintah kitab suci dan agama. Sehingga pahala surga diklaim dengan enaknya dan kelompok lain yang berbeda madzhabnya gampang saja difatwa kafir-sesat-neraka.

Padahal jika berkaca dari ayat tersebut, kita ini belum beragama sama sekali. Pada contoh praktik hidup sehari-hari misalnya, sudahkah kita bisa sholat berjamaah lima waktu bersama keluarga? Sedang perintah sholat berjamaah itu wajib.

Sudahkah kita mampu mengingat Allah saat duduk, berdiri, berbaring, setiap saat? Al Quran memfirmankan dzikrullah itu keharusan. Sudahkah kita bisa meninggalkan kebiasaan marah? Karena Al Quran menganjurkan demikian. Mampukah kita menghapus dendam dan membalas perlakuan jahat seseorang dengan sikap maaf dan kasih kebaikan? Karena Al Quran jelas memerintahkan begitu.

Lihatlah, secara bahasa “agama” berasal dari khazanah Sansekerta Jawa yang bermaka”A = tidak”, “GAMA=kocar-kacir”. Bila digabung, “Agama” berarti “tidak kocar-kacir”.  Kata lain untuk menyatakan arti agama, bisa mengambil bahasa Latin “religio” dari kata kerja re-ligare yang berarti “mengikat kembali”. Semua mengerucut pada makna yang sama yakni, “teratur”, “bersistem” dan arti “kebersatuan” lainnya.

Lalu mari kita cocokkan dengan kondisi Indonesia terkini. Idealnya dengan pengertian agama dari segi bahasa itu tadi, Indonesia akan teratur, manusianya rukun agawe makmur, negara bisa tentrem kerta raharja. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Tradisi masyarakat kacau balau, politik penuh intrik, manusianya saling tuding, dan negara diambang sirna.

Bisa jadi semua pangkal persoalan ini adalah gara-gara kita sendiri. Mengaku beragama tapi sebenarnya sedikitpun belum beragama. Karena dari dua definisi “agama” versi Al Quran dan segi bahasa, kita tidak pernah melakukannya.

Pada aspek kehidupan sosial, pendidikan, lingkungan, terdapat ribuan ayat Al Quran berisi rambu-rambu “do & don’t” agar bumi dan manusia ini bergerak dalam harmoni yang serasi. Sudahkah ribuan “do & don’t” itu kita perhatikan dan laksanakan?

Bila masih sebagian kecil saja pelaksanaannya, apalagi belum pernah mempelajarinya, sebaiknya tunda dulu pengakuan beragama itu. Tunggu sampai Anda bisa membuktikannya dengan cara mengamalkan seluruh isi kitab suci yang Anda yakini. Ingat, kita beradu dengan batas waktu dan ada musuh ghaib setan yang berupaya keras menyesatkan pengamalan kebenaran.

sumber:
http://surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=39b8faaf928ad46f59df7c4ca9ae0dce&jenis=182be0c5cdcd5072bb1864cdee4d3d6e

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMinutes. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s