Belum Baik

Kamu tidak akan memperoleh (derajat) kebaikan sebelum kamu menginfakkan sebagian (banyak) harta yang kamu cintai. Dan apa yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui.” (QS. 3: 92).

Ayat ini diwahyukan pada saat Rasulullah sudah menetap di Madinah. Diriwayatkan dalam hadis, sesaat setelah mendengarkan ayat 92 Surat Al Imran ini dibacakan, Abu Thalhah langsung menghadap Rasulullah. Sahabat berperilaku lemah lembut ini mantap menyerahkan harta yang paling dicintainya, yakni kebun kurma “Bairaha’” kepada Rasulullah untuk dimanfaatkan sebagai pembiayaan perjuangan.

Kebun “Bairaha’” saat itu terletak di depan masjid Nabawi Madinah. Letaknya strategis di pinggir jalan raya, pun hasilnya selalu melimpah dan pemandangannya terkenal sangat indah. Bagi para petani Madinah, kebun serupa “Bairaha’” adalah investasi ekonomi yang menjanjikan keuntungan berlipat ganda di dunia. Namun bagi Abu Thalhah, investasi akhirat jauh lebih mendatangkan manfaat, berbunga syafaat dan berjangka selamanya, yaitu dengan cara menyedekahkan harta “Bairaha’” tercintanya itu kepada kepentingan sosial.

Abu Thalhah meyakini jika kebun itu tertinggal di dunia dan tidak disedekahkan, mungkin hanya akan jadi hiasan atau seonggok warisan bagi keluarganya saja. Tapi bila didermakan, akan lebih banyak manusia selain keluarganya bisa menikmati hasil kebun itu.

Pelajaran yang bisa kita petik adalah jangan mudah mengaku baik bila belum bisa mengamal-baktikan perintah ayat tersebut. Jangan gampang mengklaim sebagai orang benar jika sampai saat ini belum bisa meniru teladan keikhlasan Abu Thalhah. Lakukan koreksi sekaligus otokritik atas klaim kebaikan kita sendiri, bila belum mampu ikhlas menyedekahkan harta yang paling kita cintai untuk kebutuhan agama, bangsa dan negara.

Pengertian kebaikan yang selama ini melekat terbatas pada ritual formal seperti syahadat, sholat, zakat, puasa, haji, pintar ngaji, terkenal alim, perlu kiranya diperluas lagi. Betapa dengan renungan ayat itu, kebaikan ternyata dicirikan dengan amal sosial berwujud pengorbanan yang tidak ringan. Bahwa rukun penyaksian kebenaran yang diucapkan lisan haruslah dibuktikan lewat serangkaian ujian ketat. Tidak cukup hanya dengan klaim sepihak saja. Simaklah ayat Allah berikut ini:

Bukanlah kebaikan itu menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebaikan itu siapa yang beriman kepada Allah, Hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan Nabi-nabi, dan memberikan harta yang paling dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir (ibnu sabil), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya….”. (QS. 2 : 177)

Ayat ini kian tegas menjelaskan pengertian kebaikan dilihat dari aspek fungsi sosial manusia dan lingkungannya. Artinya kebaikan yang kita akui haruslah berdampak manfaat langsung bagi persoalan sosial dan lingkungan di sekitar tempat tinggal. Ritual formal seperti sholat yang bersifat komunikasi transendental seyogyanya ditindaklanjuti amal aksi individual maupun komunal menjawab persoalan sosial yang akut di negeri ini.

Dengan kalimat pertanyaan sederhana, “Sudahkah kita pernah menyedekahkan mobil, rumah, sawah, sepeda motor, deposito, asuransi, koleksi perabotan, hasil pekerjaan, pakaian dan makanan yang kita cintai untuk upaya pengentasan anak yatim, pemberdayaan keluarga miskin, penyediaan rumah singgah bagi musafir, penyediaan keterampilan kerja alternatif bagi peminta-minta, dan advokasi penghapusan perbudakan?”

Penyelesaian “PR” kebaikan yang disebutkan dalam potongan ayat itu sangat relevan dengan kondisi sosial dan faktual bangsa kita, Indonesia. Terutama yang terakhir disebut, yakni “memerdekakan hamba sahaya”. Kemarin kita dengar kabar dan pirsa di media tentang ribuan TKW Indonesia yang telantar di Arab Saudi dan sudah dijemput oleh pemerintah.

Nah, bagi kita yang mengaku baik, mengklaim alim, bersyahadat Islam, menyuarakan rukun iman, apa aksi kita menyahuti persoalan TKW itu setibanya mereka di tanah air? Sudahkah terpikir oleh kita rupa kepedulian yang akan kita dharma-baktikan? Bagaimana mengurus nasib pekerjaan dan keberlanjutan hidup mereka selanjutnya? Siapa yang mau memberi terapi psikososial atas trauma yang mereka sandang? Apa yang kita lakukan untuk menyikapi kasus “unwanted pregnant” yang terpaksa diterima oleh ibu-ibu TKW itu? Siapa yang mau bertanggung jawab memperjuangkan kejelasan identitas sekaligus mengurusi kelahiran bayi-bayi tak berbapak itu?

Selain persoalan tersebut, carut-marut akibat patologi sosial yang mendera bangsa ini, juga perlu dicarikan obatnya. Itulah lahan pembuktian bagi kita yang mengaku beriman dan memahami arti kebaikan.

Persoalan warga miskin yang tak mampu berobat, mahalnya biaya pendidikan, kasus anak gizi buruk, ancaman rawan pangan, bencana alam, dilema keberadaan kaum urban dan tata perkotaan, degradasi moral, matinya kerelawanan sosial, nasib rentan usaha pertanian, dst itu semua adalah pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan segera.

Ada seratusan juta lebih populasi pribadi yang mengklaim Muslim di keluarga Indonesia. Saya percaya mereka adalah orang-orang baik yang ditakdirkan Allah lahir untuk mengabdi-layani bangsa ini. Mari berasumsi, ratusan juta orang itu ikhlas bergerak serempak dalam satu barisan kerukunan mengatasi persoalan sosial, lingkungan, dan pendidikan.

Betapa hasilnya akan sangat membersyukurkan. Betapa ulama, umara, masyarakatnya, semua berlomba kebaikan dalam satu ikatan kemanusiaan dengan semangat berkorban. InsyaAllah negeri ini akan kembali dirahmati.

Tak perlu menunggu mimpi tinggi punya kekayaan “Bairaha’” seperti Abu Thalhah untuk segera bersedekah. Karena patokan kebaikan itu bukan hanya diukur dari jumlah materinya, tapi nilai pengorbanan dari cinta kepemilikan yang diberikan. Bagi yang tak berpunya, bisa menyumbang tenaga dan pikiran, itulah yang dikorbankan.

Mengingatkan orang bersalah –dengan hati bening, kasih tanpa marah– juga bagian dari kebaikan. Sampai misalnya tidak punya tenaga, doa ikhlas sekuatnya dapat juga disumbangkan untuk penyejahteraan negara ini. Juga tak perlu menanti perintah tupoksi, karena itu akan buat kita saling menunggu dan bahkan bisa dihasud setan agar kita saling menyalahkan.

Sudah sewajibnya kita bersyukur diberi Allah kemauan mengaku baik dan beriman. Tapi berkaca dari firman Al Quran dan kisah kebun “Bairaha’” Abu Thalhah, kita belum akan dianggap baik jika masih belum mampu memberikan kepemilikan yang paling kita cintai untuk kebutuhan agama, bangsa dan negara.

Semoga catatan ini menjadi renungan yang relevan kita kampanyekan terutama memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei lalu. Jadikan diri kita, keluarga atau komunitas terdekat kita sebagai madrasah pembelajaran kebaikan melalui praktik keteladanan berkorban demi kemanusiaan dan keIndonesiaan.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s