WatchDog-ku Sayang

apa media sudah kehabisan stok berita ya?

kok sampai sempat-sempatnya kita, unggah berita asumsi tentang media arab yang tak ikut memberitakan dongeng wedding itu?? EGP gitu loh !

ya wis toh, hak media Arab untuk tidak lebay dan latah menyiarkan dongeng wedding yang tak penting. Lebih baik ngurusi prioritas berita dalam negeri mereka yang butuh penanganan dan keseriusan. Mereka lebih bertindak pinter, dan menjauhi mental inlander !

Lha daripada media kita yang ramai-ramai live streaming, buat apa juga?

saya bukan arabroadcaster atau araboy yang membela mereka karena alasan rasial dan atau sentimental.

Saya aseli warga Indonesia yang cinta Indonesia, termasuk media dan pewartanya. Justeru dengan kritik ini, saya mau jurnalisme kita kembali berlari pada profesi “watchdog”nya. Bukankah masih banyak berita nasional dan daerah yang layak diunggah? seperti gempa Aceh kemarin yang bikin panik orang sana? kenapa tidak diberi perhatian minimal sama?

Ada juga prestasi anak-anak pertiwi di luar negeri yang hebatnya luar biasa. Kenapa tidak diberitakan semeriah ini? malu aku, kita ikut-ikutan tepuk tangan, larut dalam perayaan dan komentar cengengesan, tersihir pengalihan isu ‘royal wedding” itu yang entah manfaatnya apa buat negeri kita? sementara kita acuh membiarkan warga aceh sana mendelik bergidik ketakutan berlarian???

Biarlah saya dituding sok nasionalis atau kurang gaul, jika narasi ini dirasa terlalu normatif dan mencolot keluar dari arus utama.. biarlah.. saya menghormati saja jika ada yang lebih suka ditindih “stockholm syndrome”: tersandera oleh perkosaannya industri sindikasi media, tapi malah merem-melek-mesem menikmatinya…

Pesan pengiling untuk rekan-rekan saya alumni AWS tercinta:

“Besok kalau nulis berita yang cerdas ya? berita kawin sosialita cukup 5-10 menit saja di slot infotainment seperti biasanya… tak perlu heboh booming apalagi pake ribut live streaming kayak baru pertama sightseeing “the royal kucing wedding on terrace genting”.

Ah patologi pariah, kapan negeri ini steril dari gosip sampah, pengalihan isu murah, dan penyakit “inlander keminter nan keblinger”?

salam jurnalis kritis & skeptis !

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMoco. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s