Iman ABC, Keadilan Kesejahteraan

Pembuktian keimanan secara lahir relatif mudah ditampakkan melalui kesaksian, sumpah, wirid bacaan, dan syahadat lisan. Namun pembuktian keimanan secara amal sosial, inilah yang masih perlu ditumbuhkembangkan.

Pada fakta Indonesia kekinian, kaum beriman (secara formal beragama di KTP-nya) yang berjumlah ratusan juta, mestinya mampu melahirkan senarai ideal-ideal kebaikan. Tapi yang terjadi malah anomali. Banyaknya kaum beriman berbanding timpang dengan sedikitnya amal kebaikan dan praktik nilai luhur keIndonesiaan.

Ambil satu contoh kebaikan, misalnya tentang keadilan dan kesejahteraan. Sudah sejak lama program penyejahteraan digaungkan, dikampanyekan, diserukan, didakwahkan, dan diiklankan. Tapi deret antrian status orang miskin tetap tak beranjak. Sedikit terentas tapi sebanyak itu pula bertunas. Sementara di batas nasib yang lain, status sosialita dan orang kaya kian ngepop ngetrend saja. Betapa tiap tahun, Indonesia selalu menyumbang nama dalam daftar orang terkaya di dunia.

Tanpa bermaksud membenturkan dikotomi kaya-miskin, inilah panggung parodi sekaligus anomali yang terjadi. Indonesia yang dihuni ratusan juta kaum beriman dan berstatus negara kaya dengan segenap potensi tanah airnya, ternyata masih menyisakan persoalan di sektor keadilan dan terutama kesejahteraan.

Sebegitu akut persoalan kesejahteraan ini, hingga kita pernah ‘mengimpor’ Profesor Muhammad Yunus dari Bangladesh untuk sekadar bercerita tentang konsep Grameen Bank dan mikro kredit-nya.

Kadang Kinasih Pembaca sekalian, saya, Anda, kita semua adalah orang Indonesia yang beriman. Setidaknya berdasarkan pengakuan yang pernah kita ucapkan. Terutama iman tentang adanya kampung akhirat, hari pembalasan, dan timbangan amal kebaikan.

Keimanan akhirat itu seyogyanya diamalkan terutama semangat bersedekah. Sehingga akan muncul kesejahteraan sosial di dunia. Nah, lewat tulisan ini saya ingin berbagi praktik terbaik tentang ujicoba pembuktian kadar iman itu yang akan berdampak langsung pada pelaksanaan kampanye keadilan kesejahteraan.

Berdasarkan pelajaran yang saya terima dari Bapa Guru, sebut saja uji praktik ini dengan “Iman A, Iman B, Iman C”. Iman A adalah ciri iman yang tingkatannya rendah atau tipis. Iman B adalah ciri iman yang ukurannya sedang. Iman C adalah ciri iman yang berderajat tinggi atau tebal. Dengan ujian ini, insyAllah kita akan tahu detil besaran iman yang bisa kita bukti-nyatakan.

Selanjutnya saya asumsikan kita semua sudah pernah mendapat rejeki maisyah dan atau bekerja dengan upah. Taruhlah dalam sehari kita bekerja dapat 4 ribu rupiah. Bila iman kita pada tingkatan rendah “A”, maka rejeki 4 ribu itu akan kita bagi: seribu disedekahkan, sisanya 3 ribu dinikmati bersama keluarga. Alokasi pendapatan dianggarkan 25 % pemenuhan kebutuhan akhirat dan 75 % untuk kebutuhan dunia.

Bila iman kita berukuran sedang “B”, maka upah 4 ribu itu akan kita bagi: 2 ribu disedekahkan, 2 ribu dibelanjakan untuk sandang, pangan dan papan. Lumayan ada keseimbangan. Standar iman fifty-fiftybisa kita penuhi. Kebutuhan akhirat 50 % dan dunia juga sama 50 %.

Bila iman kita berderajat tinggi “C”, maka hasil kerja 4 ribu itu harus dibagi: 3 ribu disedekahkan untuk akhirat, seribu saja dicukupkan untuk kebutuhan keluarga di dunia. Asumsinya, akhirat kudu diprioritaskan lebih karena usia tinggal di sana lebih lama dan baka. Sehingga kebutuhan dan persediaan sandang, pangan, papan harus dilebih-banyakkan daripada kebutuhan hidup di dunia. Logis matematikanya, 75 % rejeki dialokasikan untuk persiapan kebutuhan hidup di akhirat dan 25 % dianggarkan untuk pemenuhan kebutuhan hidup di dunia.

Uji praktik “Iman ABC” itu sudah sepadan dengan standar iman awam kebanyakan. Di atas itu, ada pembanding iman yang lebih baik lagi, yakni iman para Rasul dan sahabat. Beliau-beliau itu mampu menyerahkan semua kepemilikan tanpa menyisakan harta warisan. Sehingga sekali lagi bagi kita yang awam, uji praktik Iman ABC ini kiranya tak patut disanggah lagi dengan berbagai alasan keberatan dan dalih ketidaksiapan.

Kaitannya dengan konsep keadilan dan kesejahteraan, terutama pengentasan kemiskinan, saya pernah berhitung sederhana. Misalnya, dalam satu desa jumlah penduduknya 700 KK. Setiap keluarga itu mengamalkan praktik Iman “A” saja, yakni memberikan seribu rupiah setiap hari. Lalu uang yang terkumpul 700 ribu ini diberikan untuk memodali usaha bagi satu keluarga orang miskin di desa tersebut. Maka satu keluarga telah terentaskan dengan merasakan wujud nyata keadilan dan pemerataan kesejahteraan.

Jika saja kaum beriman Indonesia mau mengamalkan uji praktik Iman “B” atau bahkan Iman “C”, maka akan ada hitung-hitungan yang sangat membersyukurkan. Setiap hari terentas satu keluarga miskin; setiap saat berlimpah dana abadi umat; setiap hari kita praktik berbuat iman akhirat; setiap hari kita berlomba ikhlas berbagi.

InsyaAlah dalam sepekan atau maksimal sebulan, dengan Bismillaahirrahmaanirrahiim persoalan kesejahteraan akan terentaskan. Tak perlu menunggu 30 tahun Indonesia bisa berdaya, sebagaimana resep ‘kesejahteraan’ yang ditawarkan Professor Muhammad Yunus dengan Banker to the Poor-nya.

Setiap hari wujud kesejahteraan dan keadilan akan dirasakan merata pada setiap penduduk Indonesia. Kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin bisa dijembatani secara manusiawi. Dengan sumbangan itu, kita bahkan bisa urunan melunasi hutang negara ini. Tak perlu mengemis dan terjepit nista di ketiak negara pendonor lagi.

Pastinya, karena iman akhirat kita, maka godaan korupsi tak akan mempan mampir di hati. Syukurnya lagi, Indonesia bisa gemah ripah loh jinawi. Terwujudlah baldatan thayyibatan wa rabbun ghafuur. Negeri pembuktian bangsa beriman.

Bila Anda membutuhkan penguatan untuk uji praktik iman ini, maka saya kutipkan ayat Al Quran:

Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah kepada orang lain…”. (QS. Al Qashas : 77)

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. at-Taghabun : 16)

Penting dipahami bahwa dalam iman materialisme, memberikan sesuatu kepada orang lain dianggap seperti kehilangan barang. Sehingga sering muncul penyakit pelit, eman dan enggan. Akibatnya hati kemaruk, harta dan rejekinya disimpan bertumpuk-tumpuk. Takut berkurang bila hendak menyumbang.

Kebalikannya, menurut keyakinan spiritualisme, kegiatan berderma dan bersedekah dapat dinikmati sebagai investasi yang akan dituai di akhirat nanti. Muncul rasa ingin terus memberi harta terbaik kepada yang membutuhkan. Tak takut berkorban, bahkan untuk kepemilikan yang paling dicintainya sekalipun.

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al Baqarah : 267)

Bagi kita yang beriman dalam dan menganut spiritualisme, bersedekah tentu dilakukan dengan senang dan bersemangat serta memilih harta yang terbaik. Pengamalan uji praktik “Iman ABC”  adalah keniscayaan agar pengakuan iman secara lisan selaras dengan perilaku sehari-hari. Agar iman transendental berdampak pada wujud amal sosial yang horizontal. Kian tinggi iman kita, kian peduli dan semangat berbagi kita kepada sesama manusia. Keyakinan iman akhirat kita akan berdampak manfaat bagi fungsi sosial kehidupan di dunia.

Sebagai pembanding, silakan lihat kampanye Giving Pledge yang digalang Bill Gates di Amerika. Bersama sosialita, termasuk Warren Buffet & Mark Zuckenberg, mereka bersepakat sedekah 80 % dari rejeki yang didapat untuk amal kepentingan umat.

Kalau mereka saja bisa berani bertindak mulia begitu, mestinya kita yang ngaku beriman meneladani di depan, bukan? Nah, jika kita sepakat, Iman ABC bisa jadi uji praktik terbaik untuk perwujudan keadilan dan pemerataan kesejahteraan di Indonesia. Tinggal kita berani pilih yang mana? Iman A, B, atau C?

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMoco. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s