Ujian

Sejak Senin kemarin (18/4), siswa kelas 3 SMU/MA di seluruh Indonesia mengikuti UN. Bercampur aduk perasaan mereka antara tegang, harap dan cemas. Tiga tahun pembelajaran kini dipertaruhkan demi sebuah penanda bernama ijazah. Sebelum pelaksanaan ujian, ragam ikhtiar ditempuh, mulai dari cari info bocoran jawaban, pasang nadzar hingga istighosah digelar. Semua demi satu harapan: lulus dan sukses melewati ujian.

Begitupun kelahiran semua manusia di dunia. Selama hidup ini, Allah hendak menguji siapa manusia-manusia terbaik yang berhak mendapat sertifikat kelulusan di akhirat. Dari lahir bayi hingga ditetapkan mati, itulah proses dan waktu ujian bagi semua manusia.

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. Al Mulk : 2)

Jika lulus saat wafat, akan dapat ijazah ampunan dan ridho Allah yang umumnya disebut Surga. Jika gagal, maka surat keterangan tidak lulus diberikan dan imbalannya hukuman pengasingan bernama Neraka. Tidak ada ujian ulang untuk penebusan kegagalan saat sudah mati. Allah sebagai juri penilai berlaku sangat adil di proses ujian ini.

Bagi kaum yang mengklaim beriman, karena raihan harapan hidup di akhirat berderajat 99 % Surga, maka materi ujiannya pun beragam dan berbeda dari umat yang awam biasa-biasa saja. Tingkat kesulitannya tinggi mengingat hadiah yang didapat. Juga untuk otokritik sekaligus penyadaran, bahwa pengakuan beriman tidak boleh hanya ramai berseliweran di lisan tanpa uji pembuktian.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. 29 : 2)

Apakah kamu menduga akan dapat masuk surga padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya (yang dialami) oleh orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncang aneka cobaan sehingga berkata Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya. “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” ingatlah pertolongan Allah amat dekat” (QS Al-Baqarah [2]: 214).

Dua ayat gugat di atas itu seolah membangunkan kelupaan manusia, khususnya kaum beriman. Bahwa tak cukup pengakuan kebenaran saja tanpa dibuktikan lewat serangkaian ujian kemanusiaan dan tes keimanan. Klaim beriman secara sepihak dan sangat percaya diri akan masuk surga dipertanyakan Allah melalui firmanNYA.

Sekaligus ayat itu memberikan peringatan keras bagi siapapun yang puas jumud dan statis dalam zona kenyamanannya. Merasa nyaman dan terlena dengan status tempelan “beriman” hanya karena rajin ritual formal, tidak mau refleksi, dan sepi dari amal kesalehan sosial. Di hadapan Allah manusia ini belum berbuat apa-apa, tapi sudah narsis mengharap bidadari. Ibaratnya, manusia yang sudah merasa baik thok ini percaya sesanti, “muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga”. Itulah manusia-manusia yang dikritik Allah dalam dua ayat di atas.

Nah, sebagaimana adik-adik pelajar yang sedang menikmati UN-nya, sepatutnyalah setiap manusia merasa saat ini sedang diuji olehNYA. Bahkan ketika serius dan asyik membaca kolom Lentera ini, ingatlah bahwa waktu dan proses membaca itu adalah materi ujian yang harus diselesaikan.

Apa materi ujiannya? Iyalah manusia disebut berakal jika saat berdiri, duduk dan berbaring senantiasa mengingat merasakan keberadaan Allah yang menggenangi jagad (QS. 3:190-191). Saat baca tulisan ini, sudahkah kita tetap merasakan ingatan kepadaNYA? Kalau belum merasa ingat Allah, berarti ‘ujian iman’ kita masih keliru jawabannya. Kata Allah, kita ini orang yang “belum berakal”.

Jika peserta UN hanya diberikan 50-an soal dan harus tuntas dalam waktu 100-an menit, maka ujian hidup kita ini materi soalnya lebih banyak lagi. Ada 6 ribuan ayat Al Quran berisi perintah maupun larangan yang harus kita jawab dan selesaikan. Waktunya secepat hayat dikandung jasad, sebatas kita masih bernafas di dunia ini. Jika gagal UN tahun ini punya kesempatan lagi di periode berikutnya, maka di ujian kehidupan, sekali gagal tiada lagi kesemapatan memperbaiki prestasi. Jadi hati-hatilah dan jangan ngawur memilih jawaban hidup ini.

Menengok sejarah para Rasul terdahulu, materi ujian yang mereka hadapi mayoritas berupa soal-soal kesusahan dan kesengsaraan. Ada yang dikejar-kejar dilecehkan umatnya, dilempari batu, ditimpuk kotoran unta, diintimidasi penguasa, diboikot kehidupannya, hingga ada yang dibunuh. Ritme cerita mereka penuh elegi, pengorbanan diri dan drama menyayat hati. Namun itu sesuai firman Allah bahwa siapa menghendaki kebaikan akhirat, akan diuji kesulitan di dunia. Siapa yang sabar itulah yang beruntung dan lulus menang.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. ” (QS 2-155).

Dari kisah dahulu juga, ada umat yang diuji soal-soal kesenangan dan kebahagiaan. Firaun dan Namrudz diberi soal ujian kekuasaan, hasilnya mereka gagal total. Qarun di jaman Nabi Musa dan Tsa’labah di saat Nabi Muhammad diberi soal ujian harta kekayaan, mereka tidak berhasil lulus.

Umat-umat yang digembala Rasul, yang diuji penyembahan berhala, dicoba perlombaan pengetahuan, diberi soal ujian ketokohan, dst, juga gagal. Sehingga akhirnya mereka mati membawa tanda sertifikasi “tidak lolos uji”. Maka sebaiknya hati-hati bila umat sekarang diberi soal ujian dengan materi sebagaimana peringatan ayat berikut ini.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS.3:14)

Senang, susah, jelata, kuasa, hidup dan mati adalah bagian dari materi ujian kemanusiaan sekaligus tes keimanan. Saat punya harta, sudahkah kita berani mengorbankannya untuk menolong sesama manusia? Saat miskin, sabarkah dalam kondisi itu dan tetap mensyukuri kesehatan jasmani ruhani? Saat senang, bisakah tetap menyikapi itu sebagai soal ujian dan tak terjatuh ketakaburan? Jangan sampai kita merasa diuji cobaan ketika susah saja, dan merasa senang berlebihan lupa syukur kepada Tuhan saat diuji kesenangan.

Jika kita mengaku manusia, maka sikapilah semua dinamika hidup ini sebagai ujian yang harus diselesaikan. Jika kita mengklaim beriman, maka ambillah soal-soal yang sulit agar hadiah yang kita peroleh sepadan beserta bonus-bonusnya. Fa laqtahamal aqobah (QS. 90:11-17). sebaiknya kita memilih jalan susah yakni: membebaskan perbudakan, memberi makan orang yang kelaparan, dan sabar berpesan kebajikan sesama insan.

Segera selesaikan ujian kemanusiaan dan tes keimanan ini sebelum panggilan bel akhir berbunyi. Sikapi dengan serius dan tirakati dengan prihatin hati-hati hidup yang sementara ini sebelum ajal wafat mendekat, sebelum ada panggilan kematian tiba, sebagaimana yang diterima Rosihan Anwar dan Franky Sahilatua, baru saja.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s