Kitaro & Rapsodi Orkestra Indonesia

Sejak dulu sering saya ditawari rekan menonton konser musik, tapi sesering itu pula ajakan saya tampik. Bukan karena saya tidak tertarik, tapi ini soal pilihan selera saja. Meski buat saya semua madzhab musik itu apik, tapi untuk pertunjukan live yang layak simak itu cuma orkestra dengan musikal multi-instrumental.

Sebuah pementasan yang bukan sekadar olah vokal atau lirik-lirik sentimental, tapi keterampilan seorang komposer memadukan ragam ‘konflik’ dari berbagai etnik alat musik. Di situlah antusiasme saya dalam melihat pertunjukan orkestra begitu menggebu.

Dari jenis pertunjukan itu, Indonesia memiliki Addie MS dengan Twilite-nya, juga Ananda Sukarlan dan Dwiki Dharmawan. Musikus orkestra mancanegara, saya paling suka menikmati Kitaro dan Yanni yang sama-sama punya basis kepiawaian pianis. Saya senang pernah berkesempatan mendengar karya mereka walaupun hanya dari pita kaset atau keping cakram saja.

Hari ini, Kitaro dijadwalkan manggung di Jakarta. Mau datang kejauhan, selain menimbang harga ongkos masuk yang tidak murah. Akhirnya saya cukup puas buka-buka YouTube untuk menikmati rekaman pemetasan yang pernah ia kelilingkan.

Tanpa beli tiket mahal, saya dapat mengikuti “World Tour” Kitaro yang mondial. Hanya dari layar laptop tigabelas inci, saya bisa menikmati tingkah Kitaro yang sering terpejam gedek-gedek itu. Untuk yang satu ini, saya berterimakasih hidup di abad digital dengan ciri suguhan kecanggihan konvergensi teknologi setiap hari.

Pembaca, mungkin diantara Anda semua memiliki selera musik yang sama dengan saya. Sebagaimana saya yang belum beruntung bisa menikmati aksi Kitaro secara langsung via pandang mata, tetaplah kita wajib bersyukur terutama atas anugerahNYA hari ini.

Syukurnya lagi, kita hidup di Indonesia: sebuah bangsa besar yang kaya raya akan karakter manusia maupun sumber daya alamnya. Satu-satunya negara di dunia yang terdiri dari ribuan suku, bahasa, dan pulau hunian.

Kitaro dan atau pementasan orkestra lainnya memiliki kemiripan dengan struktur budaya Indonesia yang beraneka rupa. Alat musik itu diandaikan manusia dan budayanya. Sementara komposer itu adalah kepemimpinan kita semua, sesuai jenjang tupoksi-nya. Pementasannya adalah sepanjang usia Nuswantara Indonesia ini ada.

Dari pementasan orkestra kita bisa belajar memaknai dan mengamalkan falsafah Bhinneka Tunggal Ika. Musik etnik dipadu synthesizer, bedug, suara manusia, biola, drum dan garputala, menghasilkan irama yang rancak penuh gelegak enak.

Demikian juga Indonesia, jika saja kita mau menghayatinya. Ragam perbedaan dengan dinamika prosesnya, sebenarnya adalah anugerah indah. Sebagaimana alat musik yang berpotensi konflik, dengan olah perpaduan yang pas, keberbedaan itu justeru jadi satu pementasan padu, menghasilkan nada-nada syahdu dan aksi penghiburan yang seru.

“Sesederhana itu?,” tanya seorang rekan saya. Tentu saja iya sederhana pelaksanaannya kalau kita tidak mau bikin repot. Setidaknya bisa dimulai di level keluarga, jika terlalu apatis melihat macam-macamnya karakter manusia Indonesia.

Dari keluarga kita bisa belajar mengelola kepemimpinan, mengerem ego senioritas, menghormati sesama manusia, memadukan perbedaan, berbagi ide positif, saling menguatkan dalam semangat perubahan, dst.

Pada level Indonesia, anggaplah kita semua ini serumpun keluarga. Pancasila sebagai sokoguru tatanan kekeluargaan sekaligus konduktor kepemimpinan berbangsa dan bernegara. Jadikan masa depan akhirat sebagai mindset utama, sehingga urusan dunia saling ikhlas berbagi bakti sesuai potensi yang dimiliki tanpa rebutan, tanpa saling bermusuhan.

Kalau ada emosi yang meninggi akibat dinamika diskusi, berwudhulah untuk usir setan pembawa amarah. Tarik nafas dalam. “Huh, syah, huh, syah,” lepaskan emosi seperti yang diajakkan Kitaro dalam komposisi Matsuri. InsyaAllah pertentangan akan reda, kita akan rukun bersaudara kembali.

Tema Kitaro dalam pementasan dunia kali ini adalah “Pray for Japan”. Banyak cerita pemulihan pasca tsunami di Jepang kemarin yang menginspirasi saya. Satu diantaranya adalah betapa cepat dan tanggapnya penanganan tsunami di sana.

Para pemimpin yang meminta maaf, berpidato di depan televisi dengan seragam tim penyelamat, pidatonya bermuatan motivasi penyemangat. Masyarakat juga enggan mengeluh dan sibuk membenahi keadaan. Masyarakat optimis walau dihimpit duka dan kesulitan. Dalam hal ini, kita patut meniru Kitaro dan “Saudara Tua” itu.

Indonesia dengan segenap potensi sumber daya, perbedaan karakter manusia dan jutaan permasalahannya adalah sebuah pementasan rapsodi orkestra. Kita semua turut sibuk dalam pementasan itu. Maka hentikan saling menyalahkan.

Belajarlah mengalah demi sebuah komposisi indah. Kesempatan kita menata orkestra Indonesia ini hanya sangat sebentar, sebagaimana tiupan terompet Kitarao dalam Heaven & Earth. Sebelum takdir jaman akhir ditiup sebagai tanda usainya pertunjukan manusia.

Selamat buat Anda yang hari ini telah memegang tiket pertunjukannya. Semoga saja Kitaro bisa menghibur, pertunjukan berlangsung aman lancar dan bebas ancaman amuk liar.

Semoga saya dan Anda semua para pemimpin orkestra keluarga Indonesia bisa meniru Kitaro yang tampil ciamik menata musik “konflik” dari berbagai etnik. Bagi penonton jangan lupa berdoa untuk dunia agar segera rukun sentosa. Semoga Indonesia aman dari segala bencana dan marabahaya.

Dengan latihan melihat Indonesia dan keluarga kerabat sebagai orkestra setiap saat, tak perlu kita datang ke Jakarta malam ini untuk menikmati gemulai “Dance of Sarasvati”. Di sini saja sudah tersedia: murah, mudah dan sah. Sebuah anugerah pertunjukan orkestra nusantara bernama INDONESIA.

Bersama violin angin, perkusi ombak, senandung gunung, gesekan biola suara fauna, nyanyian hutan, denting dawai dedaunan, mari kita tampilkan pentas gerak perubahan keIndonesiaan.

Syukur puji kepada Ilahi dan bedug Matsuri mengawali gairah ibadah sehari-hari. Pancasila-kan kembali jiwa raga anak-anak pertiwi. Inilah peta jalan sutera meraih kejayaan Nuswantara lama. “Kerja semangat. Satu tekad, satu komando, satu tujuan, AYO,” seolah teriak Kitaro.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di Adhimlaku2. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s