Adjie, Realitas dalam Mimpi

Sabtu pagi (5/2), saya bezuk saudara yang sedang sakit di rumahnya. Sudah lama saya tidak menonton televisi, sehingga abai saja ketika melihat  keponakan memindah-mindah kanal siaran. Tapi saya tertarik saat sepintas baca running text yang mengabarkan kematian Adjie Masaid.

 

Mulanya saya pikir itu hoax yang kerap tersaji akhir-akhir ini. Sekadar menutupi isu yang sedang berkembang.  Namun saudara saya itu mengkonfirmasi berita tersebut benar adanya. Inna Lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun.

 

Mengenang Adjie Massaid, sosok muda yang energik dan berpostur atletik. Gelar Raden menandai namanya sebagai kerabat dekat kaum ningrat. Sebelum jadi politisi Senayan, ia adalah seorang peragawan sekaligus artis film kenamaan. Karirnya kian benderang saat menikahi Reza, diva dengan vokal serak menggoda.

 

Kian sempurna saja hidup Adjie manakala ia menikahi wanita kedua kalinya. Seorang yang  pernah dinobatkan sebagai wanita tersempurna se-nusantara melalui pemasangan mahkota “Puteri Indonesia”. Dialah, Angelina Sondakh. Pasangan pangeran gagah rupawan dengan puteri jelita turunan bangsawan. Apalagi mereka berdua dikaruniai pulung  sebagai politisi sejoli yang bernaung di parpol lingkar Istana. Betul-betul bak roman percintaan dalam legenda dongeng-dongeng impian.

 

Tapi sesaat lalu, mimpi itu berhenti. Kematian tiba-tiba datang membangunkan.  Adjie Massaid meninggal dunia bersama iringan tangis duka para keluarga dan sahabatnya. Ia kini sudah berada di alam barzah yang nyata adanya, setelah kemarin menjelajahi alam mimpi bernama dunia. Sungguh seperti mimpi saja, Mas Adjie yang kemarin masih ada, kini sudah tiada. Banyak kerabat maupun teman dekat yang masih merasa tak percaya dengan kepergiannya.

 

Ingatan saya kemudian menerawang ke INCEPTION, karya terbaru sineas cerdas Chris Nolan. Film besutan sutradara asal Inggris ini berpesan tentang realitas dalam mimpi. Sebuah fiksi ilmiah yang membedah misteri alam bawah sadar dan rancang bangun di dalamnya.

 

Meski hanya mimpi, semua dimensi bangun, ruang dan waktu di dalamnya bisa dihadirkan secara nyata oleh tim cerdas pimpinan Dom Cobb (Leonardo Di Caprio) dengan bantuan mesin canggih.

 

Di dunia INCEPTION, mimpi tersaji begitu nyata. Kita punya rumah, berkeluarga, berkarir, dan merasakan hidup sungguhan. Tapi sesaat setelah terbangun dari mimpi, semua kenyataan itu sirna tak berbekas. Kita bangun dari tidur dan kembali ke dunia nyata.

 

Enaknya, dunia mimpi didesain ala game yang memiliki level berjenjang. Di mimpi pertama kita bisa masuk mimpi kedua. Dalam mimpi kedua kita bisa masuk level mimpi tiga. Begitu seterusnya. Makin tinggi level mimpi yang kita masuki, kian sulit jalan keluar yang kita temui. Kian rumit pula proses “bangun dari mimpi” dan banyaknya halangan dari peristiwa di dalam mimpi yang harus kita hadapi.

 

Bahayanya, semakin lama kita berdiam di dalam mimpi, kita bisa terperangkap di dalamnya. Apalagi bila sampai masuk ke tingkat mimpi yang lebih tinggi, maka kesadaran antara “dunia nyata dan dunia mimpi” bisa menjadi kabur. Sedangkan proses bangun dari mimpi hanya bisa ditempuh lewat tendangan kematian.

 

Saya, Anda, kita semua akan mengalami peristiwa serupa Mas Adjie.  Dipaksa bangun dari hunian mimpi duniawi ini menuju kehidupan nyata akhirat melalui kematian. Segala catatan amal kita akan jadi persaksian yang memberatkan atau meringankan tuntutan. Itu semua bergantung saat kita bernafas di dunia.

 

“Hidup di dunia ini, tak lain hanya kesenangan dan permainan. Sesungguhnya kampung akhirat, itulah kehidupan yang sebenarnya. Jika mereka mengetahui” (Q.S Al-Ankabut: 64)

 

Maka ajakan saya adalah segera saja kita sadari bahwa dunia ini mimpi dan yakini akhiratlah hidup nyata sesungguhnya. Selagi di sini, sedekahkan sebanyak-banyaknya harta dan kepemilikan kita untuk kepentingan bangsa, agama dan negara. Itu akan jadi bekal kita hidup nyata di akhirat selamanya.

 

Mumpung di dunia mimpi ini masih hidup, berikan permaafan dan saling asah-asih-asuh terhadap sesama manusia. Agar nanti saat terbangun di dunia nyata akhirat, kelakuan baik kita diganjar ampun ridhaNYA.

 

Sebentar lagi, mungkin setelah baca ini, kita akan segera menyusul Mas Adjie. Bangun dari dunia mimpi dan memulai hidup di dunia nyata melalui jalan kematian. Jika di INCEPTION, Chris Nolan melalui Dom Cobb bisa mengulang-ulang dan modifikasi desain mimpi sesuka hati, maka Allah sebagai sutradara mimpi duniawi ini hanya memberi kesempatan hanya sekali. Jadi, sebaiknya kita semua lebih super hati-hati.

 

Jangan kita terjebak di dunia mimpi yang sementara ini. Memasuki mimpi duniawi ke level lebih rakus lagi hanya akan mempersulit kepulangan kita ke akhirat. Jangan sampai ketinggian obsesi di dunia ini membuat kita begitu terperanjat saat di kubur nanti. Karena baru sadar bahwa dunia kemarin kita cuma mimpi, dan saat di kubur semua itu hilang tiada berarti.

 

Jangan tertipu melakoni sesanti parodi “cilik royokan balung, gede royokan ulung”. Ketika balita rebutan tulang (mainan remeh temeh), ketika besar rebutan untung (politik, dagang, umat, fans, jabatan, dst). Apalagi sampai berantem gantian sewa demonstran, saling kirim somasi tuntutan, lempar makian di tipi-koran-internet dan Senayan, debat adu pamer kepintaran, dst.

 

Sungguh itu tak layak jika memperebutkan kursi kekuasaan dan bisnis keuntungan dengan tingkah “adigang-adigung-adimumpung”. Karena toh, sekali lagi kita harus sadari, ini cuma hiasan mimpi duniawi, Bung !

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s