Malu, Bagian dari Indonesia

Taufiq Ismail sastrawan terkenal negeri ini pernah membuat puisi yang berjudul “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”. Kegundahan sebagai orang beriman dan sebagai bangsa beradab ia tumpahkan dalam rangkaian kalimat yang memotret fakta dengan tepat.

 

Pilihan kata-kata dalam bait puisinya seolah menempeleng kesadaran kita semua. Suasana hati yang disuarakannya seperti mewakili perasaan yang sama kita alami juga. Taufiq berhasil mengurai rasa malu sebagai refleksi anak negeri yang cinta sekaligus belasungkawa atas keadaan bangsanya.

 

Panglima Besar Jenderal Sudirman baru saja dioperasi dan harus kehilangan satu paru-parunya. Saat itu masa pemulihan yang mengharuskan beliau istirahat di rumahnya. Rasa kesakitan masih menyisakan deraan di sekujur badan. Tapi nalurinya sebagai prajurit Sapta Marga begitu kuat ingin cepat-cepat menyahuti panggilan pertiwi. Agresi Belanda mulai memasuki kota Jogja yang menjadi ibukota sementara.

 

Panglima Sudirman dengan tertatih segera pamitan kepada Presiden Sukarno di Istana Gedung Agung. Presiden Sukarno berupaya mencegah karena rasa sayangnya, “Kang Mas sedang sakit, lebih baik tinggal di kota”. Namun Sudirman gegas dan tegas menukas, “Yang sakit Sudirman, Panglima Besar tidak pernah sakit.”

 

Maka Panglima Sudirman pun memulai gerilya perjuangannya yang melegenda, melawan arogansi dan kepengecutan penjajah Belanda. Walau harus ditandu selama perjalanan karena ringkih sakitnya, Sudirman tak pernah menyerah. Turun gunung masuk hutan di sepanjang wilayah Jawa Tengan dan Jawa Timur.

 

Panglima Sudirman mengajari kita tentang rasa malu, bila tanggungjawab besar harus terbengkalai oleh sebab yang bersifat pribadi dan kecil. Jenderal Sudirman dengan semangat ke-Indonesiaan-nya meneladani bangsa ini tentang rasa malu bila harus ‘mengasihani diri’ dan lari bersembunyi dari amanat penderitaan rakyat. Malu jika anak buah berjuang dengan sengsara menderita, sementara pemimpin berleha-leha walau dengan alasan yang bisa diterima.

 

Satu hari, Sunan Bonang melewati hutan Jatiwangi yang dikuasai Brandal Lokajaya. Begitu dekat nampaklah tongkat sang Sunan berkilau bagai emas di mata perompak. Saat itu juga tongkat milik Sunan itu direnggutnya dengan paksa. Sunan Bonang pun terjatuh. Sambil tertatih bangun, ia kemudian menangis. Brandal Lokajaya kasihan lalu mengembalikan tongkat sambil berkata, “Jangan menangis. Ini tongkatmu aku kembalikan.”

 

Sang Sunan menyahuti, “Bukan tongkat ini yang kutangisi,” sambil menunjukkan beberapa helai rumput di genggamannya. “Lihatlah ! Aku telah berbuat dosa, berbuat zalim dan menyakiti. Rumput ini tercabut ketika aku aku jatuh tersungkur tadi.” “Hanya beberapa lembar rumput. Kau merasa berdosa ?” Tanya Raden Said alias Lokajaya heran. “Ya, berdosa ! Karena kau mencabutnya tanpa suatu keperluan. Andaikata guna makanan ternak itu tidak mengapa. Tapi untuk suatu kesia-siaan benar-benar suatu dosa !” jawab sang Sunan.

 

Kisah Sunan Bonang menangisi dosanya yang tak sengaja mencabut rumput kian relevan untuk direnungi hari-hari ini. Beliau mengajari kita tentang rasa malu berbuat dosa. Malu bila harus membajak hak hidup sesama hambaNYA. Malu dan sedih jika berposisi sebagai pihak yang kuat menzalimi pihak yang lemah dengan semena-mena. Malu dan merasa dosa jika jadi orang besar lalu membunuh kehidupan orang kecil.

 

Sunan Bonang mengajari kita ‘rasa malu’ bila sebagai manusia mulya hanya berebut 1 % kenikmatan dunia yang fana dan lupa derajat 99 % di akhirat yang baka.

 

Taufiq Ismail, Panglima Besar Jenderal Sudirman, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga adalah legenda Indonesia. Cerita dan ketokohan mereka beredar tenar di negeri ini. Puisi Taufiq sering dijadikan lagu karena kekuatan liriknya. Jawaban Sudirman kepada Presiden Sukarno itu kini terukir pada mural berlatar Sang Saka Merah Putih di Museum Pusat TNI Angkatan Darat Dharma Wiratama. Nama Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga dipilih menjadi nama universitas Islam negeri di Indonesia ini.

 

Pelajaran dari para legenda itu adalah pentingnya memiliki rasa malu. Terutama jika kita hendak berbuat keliru. Bolehlah abai terhadap nilai agama atau keimanan, tapi jika bisa, sisakan sedikit rasa sungkan. Okelah jika nekad menerabas norma dan pagar budaya, tapi bila mungkin, sisihkan secuil rasa: Kita orang Indonesia yang terkenal adiluhung kewarasan akal budi dan urat malunya.

 

Sebegitu lekat Indonesia dengan budaya malunya, sehingga pepatah menulis, “lebih baik putih tulang daripada putih mata”. Iyalah. Nenek moyang kita semua adalah para pejuang yang pantang berbuat curang. Sebagai ksatria, sangat malu dan lebih baik mati daripada harus tunduk kepada intervensi asing yang merendahkan nilai kebangsaan.

 

Sebagai pengklaim kebenaran, malu jika harus keukeuhmenyembunyikan kesalahan dan enggan meminta ampunan hanya karena ingin mengawetkan kekuasaan, melanggengkan ketokohan. Sebagai bangsa besar, malu jika harus bertengkar karena kepentingan yang kecil. Sebagai negara petani, malu jika harus impor sembako setiap hari.

 

Malulah kita. Malulah Indonesia. Malulah wahai para pemimpin. Malulah rakyat semua. Malulah kalian setiap diri yang merasa dilahirkan ibu pertiwi. Malulah kita yang dikenal beradab tapi kini gemar bertingkah biadab. Malulah kita kaum beriman yang lupa mengarifi pesan, “malu sebagian dari iman”. Kita tuding diri lain keliru dan dosa, tapi sesat kita sendiri luput mencatatnya.

 

Malulah kita semua kepada para pendahulu yang rela perang berkorban jiwa raga, sementara kita malah sering ribut berantem karena minta enak dituruti nafsunya saja. Malulah kepada Raqib dan Atid yang senantiasa mengawasi dan merekam semua tingkah polah kita.

 

Sifat dan rasa malu adalah bagian dari ciri kearifan lokal dan keunggulan sosial budaya Indonesia. Terutama ketika hendak berbuat amoral, asosial, vandal, egosentris, chauvinis, dan perilaku jahat yang merugikan kepentingan masyarakat.

 

Dengan tetap memelihara urat malu, kita akan bisa menempati derajat mulya seorang manusia (ahsani taqwim).Yakin, bangsa ini akan maju jika masih punya malu. Namun bila kita nekat mengabaikan rasa malu dan sungkan, silakan mengambil tempat diantara kumpulan para anggota hewan.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s