Damaikan Bumi, Teladani Nabi

Setiap tanggal 12 Rabiul Awal, sebagian umat Muslim memperingati kelahiran Rasulullah Muhammad SAW. Di Indonesia, peringatan itu jadi tradisi yang mewaris turun temurun. Banyak ragam kegiatan yang dilakukan masyarakat kita untuk memperingati kelahiran Sang Nabi. Diantaranya pengajian, khataman Al Quran, karnaval, sholawatan puji-pujian, gelar syukur jamuan makan, juga perlombaan, dst.

 

Semoga semua itu diniati ikhlas sebagai napak tilas jejak keteladanan Rasulullah. Dengan mengikuti keteladanan itu, tentu kita sebagai umatnya berharap syafaat dan pertolongan Rasulullah di hari kiamat. Baiklah kita kaji kembali apa saja perilaku Rasulullah yang perlu diteladani dari kutipan ayat Al Quran berikut ini:

 

Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah” (Al-Ahzab: 21)

 

Mafhum muwafaqoh dari ayat itu, bahwasanya tugas pokok fungsi penugasan Rasulullah di muka bumi adalah untuk diimani, diteladani dan diikuti. Maka beruntunglah orang yang bisa mengikuti beliau dan diakui sebagai umat beliau di akhirat nanti. Penting diketahui, hanya orang-orang terpilih saja dengan tiga ciri perilaku yang bisa meniru Rasulullah dan mendapat syafaat di akhirat.

 

Pertama, senantiasa rindu dan selalu berharap bisa bertemu Allah. Bagi kita kaum beriman, kecintaan kepada Allah adalah mutlak. Rindu bertemu Allah merupakan manifestasi nyata dari ayat-ayat cintaNYA, “Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah” (QS. 2:165). Sebagaimana saat kita dilanda cinta, maka setiap saat rasanya diri ini rindu ingin bertemu dan dekat dengan seseorang yang kita cintai.

 

Begitulah bila kita yang mengaku beriman ini sudah bertemu dan dekat dengan Allah. Hilanglah sifat marah, dendam, benci, hasud, iri, riya, sombong, bohong, rakus harta, berebut pengikut, loba kedudukan dunia, dan penyakit hati lainnya. Kita akan teraliri energi positif sifat Allah Yang Maha Pengasih (ArRahman) dan Maha Penyayang (Arrahim)

 

Praktik hidup sehari-hari kita akan senantiasa diliputi rasa cinta dan sayang kepada sesama manusia. Pribadi kita berciri rendah hati dan ramah bumi. Bila ada orang lain yang menyakiti, jawaban kita adalah kalimat doa agar orang itu sadar kembali. “Apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. Al Furqaan: 63). Kalimat sanepan Jawa menyebutnya,“ngalah kasihane alah”.

 

Perilaku rendah hati dan anti benci ini juga diteladani para Nabi, terutama Rasulullah Muhammad yang kita peringati kelahirannya. Bila melihat orang lain tersesat, muncul rasa iba dan ingin membantunya. Bukan malah menjauhi, meneror, atau mengadili dengan tindakan vandal nan massal. Menyikapi orang berdosa seperti melihat bayi yang tercebur sumur. Tentu afdolnya menolong bayi itu dan bukan malah melemparinya dengan batu.

 

Di Thaif, Rasulullah disakiti badan dan jiwanya. Sendirian beliau dikejar-kejar, diumpati makian, dilempari batu hingga badan luka berdarah. Tapi Rasulullah justeru membalasnya dengan kasih doa, “Ya Allah berilah petunjuk umatku itu. Mereka berlaku begitu karena tak tahu aku ini RasulMU”. Inilah manifestasi mahabbah yang sangat perlu ditiru. Nah, bagi kita yang mengaku pengikut Rasul terakhir itu, sudah sebegitukah?

 

Ciri kedua, orang yang bisa meneladani Rasulullah adalah orang yang selalu rindu kampung halaman sejatinya, yakni akhirat. Ejawantah dari sifat rindu akhirat adalah segera bersiap bekal dengan cara bersedekah sebanyak-banyaknya. Bagi yang merasa aghniya’ bisa memberdayakan yang duafa’.

 

Buat kita yang awam dan jelata, sedekah tidak harus berbentuk harta atau benda-benda berharga. Cukuplah tenaga dan pikiran yang bisa kita sumbangkan. Berbuat baik dengan tindakan kecil yang bermanfaat besar.

 

Ajari pengetahuan dan keterampilan mereka yang susah sekolah. Swadaya kecil-kecilan menambal jalan yang berlobang. Membersihkan selokan yang mampet. Mendoakan para pimpinan supaya mereka cepat sadar jika berbuat tidak benar. Membacakan seratus surat Al Fatihah dan ayat-ayat taubat bagi orang-orang yang kita lihat sedang tersesat.

 

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al Qashas:77)

 

Ayat itu menyarankan kita supaya mencari pahala akhirat. Selain dengan cara banyak-banyak bersedekah, kita bisa menyahutinya lewat perbuatan baik kepada sesama manusia sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada kita. Terutama berbuat baik kepada orang yang kita anggap dosa dengan cara menyadarkannya, mendekatinya, mengingatkan dan mendoakan. Jauhi sifat merusak yang dapat merubuhkan nilai-nilai kerukunan dan kebangsaan.

 

Ciri ketiga, orang yang bisa meneladani Rasulullah adalah orang yang banyak dan senantiasa ingat Allah saat apapun, di manapun, dan kapanpun. Di saat bekerja, bersama keluarga, sedang istirahat, ketika susah maupun senang, waktu sempit dan lapang, selalu ingat Allah. Inilah wujud syahadat ilahiah, “amantu billaah”. Ingatan dan konsentrasi kita selalu terfokus kepadaNYA. Hanya Allah tambatan pikiran dan hati kita.

 

Bahayanya bila tidak ingat Allah adalah, kita akan jadi sekutu dengan syetan. “Barangsiapa yang berpaling dari ingatan Yang Maha Pemurah, Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya” [Az Zukhruf : 36]. Karena berdekatan dengan syetan yang terbuat dari api, panaslah hati ini. Inginnya cuma marah, bernafsu destruktif, dan bisanya melihat dosa orang lain saja.

 

Bukti sahihnya dapat kita lihat dari kasus kekerasan yang ngetrend akhir-akhir ini. Maka supaya kita tidak jadi korban sia-sia berikutnya, sering-seringlah ingat Allah. Buktikan kebenaran firman Al Quran,“Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’d :28)

 

Akhirnya, esensi peringatan milad Nabi adalah reinkarnasi dari perilaku dan teladan baik beliau itu. Khususnya bagi kita pengikut Rasulullah, sudah jadi keharusan bisa meraih tiga ciri orang yang bisa meneladani Rasul/Nabi. Visi kehidupan dan praktik sehar-hari para Nabi kita jadikan cermin pembanding sekaligus analisa benchmarking. Sudahkahkah kita bisa persis menirunya? ataukah kita cukup puas mengaku pengikut Rasulullah itu dengan syahadat lisan dan ritual kebiasaan?

 

Semoga peringatan kelahiran Sang Nabi bukan sekadar perayaan keramaian, pembacaan dongeng-dongeng tahunan, atau lomba kenyang-kenyangan jamuan makan. Apalagi sampai naif menukar kesakralan “muludan” yang bermakna kelahiran ulang dengan sanepan plesetan “mulutan” yang berarti muluk ketan.

 

Sepatutnya hari ini kita beri kado milad Rasulullah dengan bingkisan kerukunan antar saudara sebangsa dan sesama penghuni bumi.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s